Besok harinya, tiba dimana Sammy harus membawa Hanny serta kakeknya keacara ulang tahun Neneknya yang digelar.
Mungkin ini pertama kali Sammy memperkenalkan Hanny didepan banyak orang. 'Semoga perempuan buta itu enggak malu-maluin gw.' Batin Sammy.
Hanny masih berdandan dengan dress panjang dengan bawahan yang membelah hingga ke lutut.
High hells gold Hanny mempadukan kecantikannya terpancar. Ia keluar dihadapan kedua orang yang sudah lama menunggunya.
Sammy tercenggang memandang Hanny yang begitu rupawan. Jika dibanding Arini yang selalu tampak cantik didepan Sammy, tapi malam ini Hanny lebih dari itu. 'Astaga.. cantik. Luar biasa cantik.'
"Sayang... Cantik sekali." Puji Ridwan. "Light suamimu saja sampai tak berkedip memandangmu."
"Masa? Dia mandangi Aku?"
"Iya, Han. Tentu saja." Ujar Kakek. "Sam, istrimu cantik bukan?" Tanya kakek pada Sammy.
"Eeh-- hm.. it-" Gugup Sammy, ia menghembuskan nafasnya sejenak. "Cantik.. sangat cantik." Komentar Sammy menggapai tangan Hanny, Lalu meletakkan dilengannya.
"Jangan naksir aku ya." Bisik Hanny mendapatkan tatapan tajam oleh Sammy.
"Enggak akan pernah." Bantah Sammy. "Awas aja kamu maluin aku disana."
Sammy pun pergi menuju keperumahan elite, syukurnya jalanan tidak begitu macet. Hingga lelaki itu bisa bersantai menyetir.
Hanny sama sekali tak mengerti tatapan Sammy. Tatapan tatapan seperti menyiratkan suatu. Dirinya menepis semua pikirannya, ia kembali menikmati jalan.
Sesampai dirumah yang megah, mungkin rasa kagum Hanny tertahan dihati memandangi rumah besar dihadapannya. 'Astaga ini rumah apa istana? Beberapa orang yang tinggal disini?' Hanny berdecak dalam hatinya.
"Hanny, dengar jangan lepasin tanganku. Aku enggak mau kamu terlihat buta didepan siapapun." Bisik Sammy mengenggam kuat erat tangan Hanny.
"Iya, bawel..!!" Cerca Hanny pelan agar tak didengar kakek.
Ridwan sudah lebih dulu masuk dari Hanny dan Sammy. Hanny heran kenapa Sammy lebih memilih tinggal diapartemen daripada rumah sebesar ini. Mungkinkah karena Hanny buta? Ya mungkin.
Sammy berjalan bergandengan dengan Hanny. Sudah banyak kolega yang menghadiri pesta itu. Sekali pun Sammy tidak melepaskan tangan dari Hanny.
Ada beberapa klien menyapa, dan entah kenapa memperkenalkan Hanny dengan bangga sebagai istrinya.
"Kamu jangan ge'er aku kenalkan sama mereka. Aku cuma mau mereka tahu kamu daripada nenek yang kenali, Ribet akunya!!" Gerutu Sammy yang kearah nenek Nelly.
"Idih.. Siapa juga yang ge'er. Dengar Pak Sammy terhormat. Dengar baik-baik ini ya, Aku enggak pernah ge'er karena Aku enggak akan pernah suka apalagi cinta sama kamu." Sungut Hanny pelan namun dengan penekanan kalimat 'cinta sama kamu'
Sungguh Hanny sedikit menyesal dengan penuturan pada Sammy. 'Apa yang aku lakukan? Gimana kalau aku jatuh--' Hanny cepat menggeleng kepalanya dengan rungutan dihatinya. 'Enggak.. Enggak.. aku jangan sampai jatuh cinta sama sejenis angkuh seperti dia.'
Sisi egois mulai mendominasi Sammy ke naluri hatinya. Dia tak suka para lelaki memandang Hanny penuh dengan rasa ingin memiliki.
Sammy melepaskan genggam tangannya, ia menghampiri beberapa pria yang menatap Hanny. "Saya peringatkan!! Jangan sekali-kali menatap istri saya. Kalian masih mau bekerja diperusahaan jaga mata kalian." Gertak Sammy pada mereka, yang kebetulan sekali karyawan Sammy bekerja.
'Apa yang dilakukan sih gila itu!' Hanny memperhatikan Sammy seraya memindahkan rambutnya kekanan.
Saat Sammy kembali berpura ingin berjalan, namun dengan merengkuhnya. "Jangan kemana pun tanpa aku." Ujar Sammy kembali menggandeng Hanny.
"Ck!!" Hanny berdecak kesal membuang muka.
"Jangan memandang lelaki lain. Bisa??" Ujar Sammy dengan nada jengkel.
Hanny menghembuskan nafasnya dengan keras. "Aku buta!! Apa yang harus diingatkan. Jangan-jangan kamu suka sama Aku. Posesif banget." Komentar Hanny menggoda Sammy.
"Apa!! Suka.. jangan kepedean. Aku enggak mungkin suka sama kamu." Sanggah Sammy, merengkuh Hanny yang terkekeh. "Jangan tertawa tidak ada yang lucu disini."
"Ada."
"Apa"
'wajah kamu' Jawab Hanny dalam hatinya. "Kemarahan kamu?"
"Apa!!" Sergah Sammy geram.
"Sama istri enggak boleh kasar. Jaga image dong!! Ntar ditanya nenek kamu, kakek aku. Adanya ribet lagi."
Ah sial ucapan Hanny semuanya benar, membuat Sammy menahan nafas, seakan amarah terpendam didada. "Awas kamu diapartemen ya." Kata sammy pelan.
"Memangnya kamu berani ada kakek." Hanny berkata dengan nada menggoda.
"Diam kamu!!! Mingkep bisa?" Gusar Sammy semakin kesal dengan segala ejekan Hanny padanya.
Nenek Lelly menyambut Hanny dengan begitu bahagia. "Selamat datang Sayang." Ujar nek Lelly memeluk Hanny.
"Apa kabar, Nek?" Kikuk Hanny dengan ramah.
"Alhamdulillah. Bagaimana kabarmu? Sammy memperlakukanmu dengan baik kan?"
"Tentu saja, Nek. Sangat baik. Dia tidak membiarkan Aku bekerja apapun itu. Tapi akunya saja suka membantah ingin menyapu, bersih-bersih, memasak." Seru Hanny seolah meledek Sammy.
Sammy tentu tahu, kenyataannya tidak seperti yang Hanny katakan. Semuanya bohong, Hanny bekerja atas perintah sammy. Dia terus saja memperintah Hanny sesuka hati. "Hanny suka berlebihan, Nek." Sambung Sammy.
"Oh ya dimana Mami, Nek. Aku ingin kenalkan Hanny padanya." Sammy celingak-celinguk seraya mencari keberadaan Mira dimana.
"Tadi nenek lihat dia bersama Arini dikamarnya."
"Kalau gitu, Aku titip Hanny sebentar ya. Jangan biarkan dia kemana pun."
'mami' Hanny bingung, Karena setahunya orang tuanya sammy telah meningal dunia. Sama seperti dirinya.
***
Sammy mendatangi mira dikamarnya. Ia mengetuk pintu sebelum membuka pintu yang tertutup rapat. "Mi.."
"Sam." Melonjak kaget mira.
Sammy merasa mira dan arini terkejut melihat kedatangannya, seolah ada yang disembunyikan kedua perempuan itu. "apa yang sedang kalian bicarakan."
"Eeg-- it.." terbata Arini gugup.
"Sayang.. kapan datang? Mami terkejut melihat kamu datang." Elak Mira mengalihkan pembicaraan.
"Belum lama. Apa yang Mami bicarakan dengan Arini? Sepertinya rahasia." Curiga Sammy menelisik bergilir dua orang dihadapannya.
"Tentang hubungan kalian. Arini mengadu, kamu curl dengannya."
"Begitukah??"
"Iya, Sam. Kamu enggak percaya sama Mami."
"Tentu Aku percaya." Sahut Sammy. "Mi, Aku mau kenalkan dengan seorang."
"Arini.. jangan kemana-mana tunggu sini aja." Ucap Sammy kembali.
Arini tentu kesal, ia menghentak kakinya memandang kepergian Sammy dan Mira. Rasa ingin ia meningkam Sammy saat itu.
Sammy berjalan kearah Hanny, ia memandang punggung Hanny. "Hanny." Lirih Sammy. "Kenalin ini Mami aku. Mami Mira."
Sammy memutar tubuh Hanny menghadap Mira. Ia membantu Hanny menggulurkan tangannya.
Hanny terbelalak melihat perempuan yang sama. Yang dicari Hanny. 'Perempuan ini.. dia pembunuh. Dia yang mengakibatkan kecelakaan itu terjadi. Mami.. bagaimana mungkin. Wanita ini mertuaku.' Hanny berdecak dalam hatinya.
"Mira.. saya Mira. Senang berkenalan dengan.."
"Hanny. Nama saya Hanny." Ujar Hanny datar.
"Sam, kenapa istrimu memandang Mami seperti itu." Tanya Mira, ia merasa Hanny menatapnya begitu tajam.
"Mi, jangan salah paham. Hanny ini buta. Dia tidak bisa melihat." Ujar Sammy pelan.
"Oohh.." Mira menutup mulutnya dengan tangannya, seperti mengejek.
Dada Hanny menggebu seakan meluapkan amarahnya. Jika tidak mengingat ini pesta ulang tahun Nenek Neli. Mungkin Hanny tidak bisa menahan kemarahannya. "Sam, Aku mau ke toilet dulu."
"Aku antar??" Ujar Sammy.
"Biar nenek aja, Sam." Sambung Lelly merengkuh tangan Hanny.
Hanny dan Lelly ke toilet, yang syukurnya tidak ada siapapun. Hanny merasa kesal. Karena harus memedam kan rasa amarahnya.
Hanny meraba dinding toilet. Ia melihat sedari tadi nenek Nelly memperhatikan dia. 'Kenapa dengan Nenek Lelly melihatku.'
"Hanny." Lirih Lelly pada Hanny. "Tidak perlu berpura-pura didepan nenek."
"Hah??" Langkah Hanny terhenti. "Maksud Nenek?"
"Nenek tau kamu tidak buta. Jangan berpura dihadapan Nenek. Tidak ada Sammy atau siapa pun disini." Kata Nenek Lelly.
"Jadi.." Kening Hanny mengkerut menelisik ucapan Nenek barusan.
Tentu saja, Lelly tahu segalanya. Nelly sudah lama mengenal Ridwan. Apalagi semenjak kecelakaan orang tua Hanny dan Sammy. Lelly tahu betul Ridwan sengaja membuat Hanny seolah buta.
"Nenek tahu semuanya. Nenek sangat mengenal orang tuamu, tentu saja Nenek tahu keadaanmu sebenarnya."
Hanny memeluk Nenek, ia menangis mengingat kecelakaan orang tuanya. Bagaimana tragisnya tabrak yang mengorbankan orangtuanya. 'Aku sudah menemukan pembunuh itu, Nek.' Gumam Hanny dalam hatinya.
"Sudah sayang.. jangan menangis. Hanya kamu Hanny saksi mata kecelakaan itu."
Hiks!!
Hanny semakin meraung dalam tangisnya. "Nenek.. Apa nenek tahu segalanya."
"Kecelakaan itu juga membuat Sammy menjadi yatim piatu. Tapi.. saat terjadi Sammy tengah tertidur. Itu kenapa Sammy tidak tahu bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi." Lelly pun ikut menangis merangkul istri cucunya.
Hanny tergemap, seolah Sammy itu sosok pria dia cari selama ini. Jantungnya seakan terhenti berdetak. 'Rio.. Sammy adalah Rio. Orang yang selama aku cari ada didepan Aku. Bersamaku.'
"Nek, Sammy itu Rio." Tanya Hanny memastikan.
"Iya, Sayang. Sammy teman kecil kamu. Rio. Hanya orang tuanya yang selalu memanggil nama itu."
"Lalu Mami Mira itu siapa?" Hanny mungkin akan mencari tahu tentang Mira. Dan setelah itu mungkin akan memberitahu Nenek tentang Mira pada Nelly.
"Mira adalah adik ibu kandung Sammy. Dia yang merawat Sammy setelah kematian orang tuanya."
"Jadi itu kenapa Sammy memanggilnya Mami."
"Iya, tapi kamu harus berhati-hati dengannya. Dia licik seperti ular." Ujar Nenek, memperingatkan Hanny agar waspada.
"Baik, Nek. Apa tidak sebaiknya kita keluar. Kalau tidak Sammy curiga pada kita." Saran Hanny.
Hanny pun cukup lega, Karena Nenek Lelly baik padanya. Apalagi setelah mengetahui ternyata Sammy adalah Rio.
Tapi satu yang pasti Hanny harus waspada pada Mira seperti pesan Nek nelly pada Hanny.
Hanny berjalan lenggang berpegang Nek Lelly. Ia melihat Arini menempel pada Sammy. Entah sengaja ia menabrak perempuan itu.
Hingga membuat dress arini ketumpahan minuman yang dipegangnya. "Oh my God..!! Apa kau tidak punya mata. Sepertinya aku pernah melihatmu." Murka Arini mencibir Hanny.
"Astaga!! Maaf.. Aku tidak sengaja." Ujar Hanny tenang.
"Matamu berada didengkul." Cela Arini dengan nada jengkel.
"Benaran Aku tidak tahu." Kata Hanny tetap dengan notasi lembutnya.
Tapi Arini mulai emosi, Karena melihat Hanny tidak ada perlawanan sama sekali. Ia ingin menampar Hanny. "Ka--"
"JANGAN BERANI MENAMPAR ISTRIKU..!! PAHAM." Raung Sammy dengan nada meningginya, ia berhasil menangkap tangan Arini yang ingin menampar Hanny.
Arini terperangah Karena Sammy lebih membela Hanny daripada dia. "Sam, tapi-"
"Cukup Arini!! Jangan keterlaluan. Kamu hanya tamu disini. Jadi tolong bersikaplah seperti tamu." Bentak Sammy dengan tatapannya bengis.
Arini berlari meninggal tempat itu, sementara Sammy merengkuh Hanny. Sammy sendiri tak mengerti kenapa dia begitu perduli dengan Hanny. "Hanny, kamu enggak papa."
"Enggak!! Aku bisa tangani kok."
"Tangani gimana. Orang tadi Arini mau nampar kamu gitu." Oceh Sammy.
Hanny tersenyum, satu sisi ia tahu Mira menatapnya penuh kebencian. Ia pun memperhatikan gerak-gerik Mira yang sesekali menatap Sammy sinis, seolah tak terima jika Sammy memperlakukan Arini seperti itu.