Udara malam itu tampak dingin, Hanny duduk di tepi balkon kamar Sammy. Setelah pesta Sammy memutuskan untuk menginap dirumahnya yang sangat besar. Tentunya membuat mereka harus sekamar lagi. Angin berhembus mengenai kulit lembut Hanny. "Mikirin apa?" Tegur Sammy melekati Hanny. "Aku heran kamu itu buta tapi ngapain ke balkon kalau jatuh gimana?" Lelaki itu mulai menggerutui Hanny yang belum menoleh kearahnya.
Hanny mengerucuti bibirnya mendengar ocehan Sammy. Baru saja ia memikir Sammy adalah Rio sahabatnya. Sekarang suaminya itu justru membuatnya jengkel, Hanny mendengus kesal saat Sammy mulai menelisik dirinya."Disini ada angin."
"Ayo masuk! Kalau jatuh nanti aku yang disalahin nenek enggak becus jagain istri." Ujar Sammy merengkuh tangan Hanny.
"Aku enggak mau! Aku mau disini."
"Kamu tuh ya benar-benar.." Sergah Sammy menatap tajam Hanny.
"Apa!" Sergah Hanny balik. Mungkin Hanny harus lebih mengenal karakter Sammy yang sekarang. Banyak teka-teki yang Hanny tak mengerti dari Sammy. Sammy memang orang yang sama dengan Rio, tapi melihat karakter Sammy yang berbeda dengan Rio yang dulu membuat Hanny ragu untuk mengatakan jika dia tidak buta.
"Dibaikin malah ngelunjak! Sekarang kamu mau masuk atau aku gendong."
"Ancam aku..."
"Kalau iya kenapa?"
"Aku teriak nih."
Sammy mengacak rambutnya frustasi melihat tingkah Hanny yang menyebalkan. Ia pun menggendong Hanny tanpa perduli kemarahan Hanny memberontak memukuli punggungnya. "Kalau aku bilang masuk ya masuk. Dengar ya Hanny! Aku enggak suka dibantah dan jangan sekali-kali lakukan apa tidak aku sukai. Paham."
Deg...
Jantung Hanny berdegup kencang saat Sammy menjatuhkan tubuhnya diranjang. Dengan posisi wajah Sammy yang dekat dengannya. Bahkan dadanya tersesak seperti ada suatu yang menyumbatnya. Hanny terteguk seketika. "Sam---" Nafas menggebu. "Hembusan napas kamu sangat dekat."
Sammy sengaja semakin menghembuskan napas panjang diwajah Hanny. "Gugup? Mau aku buat lebih gugup."
Hanny berusaha tetap senetral mungkin, agar Sammy tak curiga jika ia dapat melihat lelaki itu menatap penuh seringaian yang seakan membuat menjadi tak menentu. "aku? Gugup? Mana mungkin, jangan bermimpi."
"Masih mengelak. Hanny jangan munafik, kamu menginginkannya juga yang aku pikirkan." Desis Sammy seraya menyungging senyum miring diwajahnya.
'Dasar m***m, crazy. Aku tidak akan memuaskan nafsu bodohnya.' Decak Hanny dalam hati. Walau sebenarnya Hanny merasakan desiran seluruh darah terpacu cepat.
Melihat Hanny tak menjawab, lelaki itu merengkuh pinggang Hanny ke dalam pelukannya. "Sial!! Apa yang ingin kamu lakukan." Damprat Hanny mencoba memberontak.
"Melakukan kewajibanku. Aku hanya ingin memberi nafkah batin."
"Jangan bodoh! Kau akan memperkosaku. Lepaskan aku!" Raung Hanny.
"Seluruh tubuh ini milikku. Kamu istri seharusnya mengikuti semua apa yang ku mau."
"Aku tidak BODOH." Ucap Hanny menekan kata bodoh dihadapan Sammy.
Dia berharap cepat berakhir dan kembali normal seperti biasa. Daripada harus satu kamarnya dengannya. Hanny bisa serangan jantung seketika. Meskipun dia yakin bisa menghadapi Sammy. Dan hal paling bodoh jika dia tergoda dengan rayuan Sammy yang menjijikkan. "Sungguh... Tidak menginginkannya." Sammy mengelus tubuh Hanny dari muka sampai ujung kakinya yang berhasil membuatnya geli.
"Lebih baik kau menjauh sebelum kesabaran ku habis." Dan dengan berani mendengar penuturan Hanny yang tidak membuat Sammy sama sekali takut, laki-laki itu justru mencium bibir Hanny sekilas. "Terima kasih ciuman selamat malamnya." Ucap santai Sammy dengan sedikit menjauh dari Hanny.
Hanny sudah geram menggepal kedua tangannya. "SAMMY!!" Teriak Hanny sambil menghentak kakinya. "
"Tidur yang indah ya istriku menyebalkan."Seru Sammy lalu pergi sambil terkikih kecil.
Hanny membaringkan tubuhnya menutupi bantal, lalu bayangan Sammy menciumnya terlintas, padahal itu bukan pertama kali Sammy memciumnya. Hanny terus saja mengumpati lelaki berulang kali. "Dasar b******n gila..!! Ya Tuhan mimpi apa aku memiliki suami seperti dia. Kalau dia bukan Rio sudah ku gantung dia ditiang rumah ini."
***
Ditempat lain ia gelisah, dia merasa tatapan Hanny penuh arti. Tapi apa dia juga tak mengerti. Apalagi melihat Sammy mulai tertarik pada Hanny. "Wanita itu menghambat semua rencanaku." .
"Mami tenangnya. Sam hanya punya Arini. Dan perempuan buta itu tidak merebutnya dariku." Ucap optimis Arini. Ia duduk sambil bersender dipelukan Mira.
"Sayang dengari Mami. Cari tahu tentang Hanny. Terutama kehidupannya."
"Baik. Aku mau temui Sammy. Dia mengirim pesan bertemu di kamar tamu. Setelah itu aku pulang."
Arini mengendap menuju kamar tamu, ia takut jika ada Nenek Leli memergoki dirinya. Seketika langkahnya terhenti melihat Nenek Leli bicara serius dengan kakek Hanny. Sebenarnya ia begitu penasaran, tapi Arini tahu, Sammy bukan orang yang suka menunggu. Ia pun kembali berburu ke kamar tamu.
Suara decitan pintu berbunyi, Sammy tidak menoleh sama sekali. Ia sudah tahu pasti itu Arini. Wanita yang sudah berani hampir menampar istrinya.
"Sayang...." Suara manja Arini terdengar jijik di telinga Sammy.
Arini berlari kecil memeluk Sammy dari belakang. "Aku tidak suka sikapmu pada Hanny tadi. " Ujar Sammy melepas pelukan Arini.
"Sam... Dia pembantu yang pernah kamu bilang tidak penting itu. Sekarang jelaskan padaku, kenapa kamu menikahi perempuan daripada aku. Sepertinya aku lebih pantas dari dia."
Sammy membanting pantatnya diranjang dengan meluruskan kaki yang bersilang. "Siapa pun yang aku nikahi itu urusanku. Dengar! hubungan kita hanya sebatas kesenangan. Ayolah Arini seharusnya kamu tahu aku tidak pernah serius dengan perempuan mana pun termasuk kamu." Cerca Sammy membuat Arini tak terima.
Untuk pertama kalinya Sammy berani mengatakan hal seperti itu padanya. Selama ini dia merasa Sammy selalu patuh padanya, tapi... Ah sungguh sial, hanya dalam hitungan waktu usaha mendekati Sammy selama ini sia-sia untuknya.
"Apa gara-gara istrimu yang buta. Dan sekarang kamu berani merendahkanku."
"Aku tidak maksud merendahkanmu. Aku mengatakan sesuai fakta. Aku tahu kamu tidak mungkin mencintaiku. Yang kamu ingin ketenaran, martabat dan harta." Dimata Sammy semua wanita itu sama. Tidak berguna dan hanya selalu ingin hartanya. Dia yakin jika dia jatuh miskin sudah pasti wanita yang rela memberikan s**********n padanya akan meninggalkannga dalam hitungan detik.
Tapi entah kenapa Sammy merasa Hanny bukan bagian dari mereka. Apalagi saat dia merenggut keperawanan Hanny secara paksa. Sudah pasti saat itu Sammy bisa menilai Hanny wanita yang tidak mudah disentuh.
Seperti biasa Arini menguras air matanya dihadapan Sammy. Ia tahu salah satu kelemahan Sammy tangisannya. Karena kalau Arini menangis, perempuan itu mengadu kelakuannya pada Mira dan dia harus menuruti kemauan Mira walaupun akan bertentangan dengan prinsipnya. "Berhenti menangis. Ayo aku antar ke apartment."
Lelaki itu memutuskan membawa Arini jauh dari rumahnya, daripada dia menghadapi masalah gara-gara wanita yang tak memiliki akhlak ini.