14. Pagi

1024 Kata
Pagi hari Hanny terbangun, ia tidak mendapatkan Sammy dikamarnya. Sejak menjadi istri Sammy. Hanny tahu jika Sammy tidak pernah bangun lebih dulu darinya. Sesaat Hanny penasaran kemana lelaki itu sepagi ini. Bahkan burung saja baru berkicau. Ia mengambil handuk, Hanny yakin jika itu milik Sammy. Ia pun menggunakannya untuk mandi. Karena tidak berencana memginap Hanny bingung harus mengenakan baju apa. "Ah.. aku pakai baju apa ya..." Beo Hanny membuka lemari Sammy, setelah selesai mandi. Hanny mencari baju Sammy yang mungkin bisa dipakainya. Untungnya wanita itu tidak ribet, sekarang ia memakai baju Sammy yang cukup besar untuknya, dengan bawahan celana boxer. "Kurasa ini tidak memalukan." Hanny pun turun, dan melakukan sandiwaranya seperti biasa. Sebenarnya ia mencari Sammy yang entah pergi kemana. Bahkan mobilnya sudah tidak ada. 'Sungguh tega lelaki itu meninggalkanku.' Rungut Hanny dalam hatinya. "Hanny." Tegur Mira yang tampak menatapnya sinis. "Apa yang kamu lakukan." Hanny merasa jijik melihat ular berbisa yang seolah ucapannya lembut, tapi wajahnya sangat tidak menyukainya. "Aku mau ke meja makan. Tapi aku tidak hapal jalannya." Bohong Hanny, mana mungkin juga dia tidak bisa lihat dimana letak meja makan. "Mau Mami antar." "Boleh." "Hanny... Boleh mami bertanya sesuatu." "Silakan." Ucap Hanny yang digandeng oleh Mira saat itu. "Siapa nama orang tuamu." Ah sial, mana mungkin juga Hanny memberitahu pada ular ini nama orangnya bisa ketahuan dia. "Orang tuaku. Sepertinya Mami tertarik tentang mereka kenapa?" Tanya Hanny balik. "Ck!!" Hanny bisa mendengar Mira berdecih sebal padanya. Sampai kapan pun dia tidak akan mengatakan apapun tentang orang tuanya. "Hanya ingin tahu saja." "Maaf sepertinya itu tidak penting dan aku tidak bisa menjawab. Karena orang tuaku sudah almarhum." Jawab santai Hanny. Mungkin berhati-hati karena tampaknya Mira sudah mulai curiga. Hanny mendarat pantatnya duduk disamping sang kakek. "Selamat pagi semua." Ucap Hanny dengan suara lembutnya. "Loh... Hanny mana Sammy." Hanny tentu terkejut mendengar lontaran Nenek Lelly padanya. Bagaimana tidak! Ia saja sangat penasaran kemana Sammy pergi sepagi ini. "Tid--" "Pagi semua." Baru saja ingin menjawab, Sammy datang dengan cengegesan. Seolah dirinya tidak bersalah. 'Dasar sih m***m! Pasti dia habis membayar wanita untuk memuasinya.' Ucap Hanny dalam hati. Tak tahu mengapa dirinya menjadi kesal. Seakan ia tak terima Sammy bercinta dengan wanita lain. "Pagi istriku sayang." Ucap Sammy sangat manis tertuju pada Hanny. *Maaf ya.. aku jogging tadi. Kamu tidurnya pulas, aku enggak tega bangunkan kamu." 'Apa dia bilang jogging? Jogging diranjang maksudnya.'Bibir Hanny mengerucut sebal. Andai saja tidak ada kakek dan neneknya. Hanny tentu sudah menggerutui Sammy. *** Sammy tersadar, ia ketiduran di apartment Arini, setelah memarahi wanita itu. Ia sama sekali tidak menyentuh Arini. Dan bodohnya bukan saja pada Arini, semua perempuan nafsunya tertahan. Terkecuali istrinya sendiri. Entah bagaimana Hanny mampu menaklukkan lelaki itu, Sammy sendiri heran. Setiap berdekatan Hanny seluruh tubuhnya seperti ada yang menyegat. "Sial!! Aku ketiduran. Hanny pasti khawatir aku tidak pulang." Ucap Sammy sendiri bangkit dari sofa. Sammy mencari ponselnya, ia sekilas melihat Arini yang berpakaian terbuka, sama sekali ia tidak tergoda. Lalu ia pergi meninggalkan apartement tersebut. Jarak apartment Arini dan Rumahnya cukup jauh. Hingga dia harus menghabiskan waktu hampir satu jam, hanya untuk pulang kerumah. Sesaat Sammy melihat seorang penjual kue. Ia jadi teringat pertama kali bertemu Hanny. Membuat Saamy tersenyum geli. Lelaki itu tidak bisa lupa bagaimana ia mengatakan Hanny sangat dekil dan Hanny membalas menyumpahinya. Tak lama Sammy pun tiba dirumahnya. Ia memasuki rumah, dan mungkin terselamatkan celana tidurnya yang ia gunakan biasa ia kenakan saat jogging. Hingga mungkin nenek Nelly tidak akan curiga padanya. Sammy bahkan bertindak polos dengan sengaja mencium kening Hanny. Sepertinya ia mendapat hobby baru dengan sengaja menggoda Hanny. "Kenapa dengan bibirmu. Kurang vitamin? Huh? Mau aku beri." Bisik Sammy tersenyum geli. "Jangan bertindak kurang ajar! Aku akan membunuhmu." Bisik Hanng tampak jengkel. Hanny membuatkan Sammy Roti berisi selai kacang coklat, lalu ia pergi meninggalkannya begitu saja. Seketika Sammy baru mw menyadari jika Hanny memakai pakaiannya. 'Astaga... Dia memakai bajuku. Kenapa aku baru sadar.' batin Sammy melihat Hanny berjalan pergi. Ia tersenyum geli, Hanny tampak menggemaskan. Mungkin saja juniornya sudah tidak tahan. Tapi ia tidak akan memaksa Hanny lagi. Kecuali Hanny sendiri menyerahkan dirinya. "Sam.." Hanya tinggal Sammy dan Nenek Lelly dimeja makan. Kakek Ridwan bersiap untuk pulang. Sedangkan Mami Mira tentunya sudah pergi entah kemana. "Kamu dari mana? Nenek tahu kamu tidak pulang semalaman. Jangan lukai hati istrimu." Sammy menyengir, ia sepertinya tidak bisa membohongi neneknya. "Hehe... Maaf ya, Nek. Sammy ada urusan." "Bersama Arini. Jangan kamu pikir Nenek tidak tahu." Ternyata disaat Sammy menyeret Arini, Nenek melihat saat ia ingin masuk kamar. Sammy mendengus lelah. Lagi dan lagi ia ketahuan bohong. "Maaf, Ne--" "Berhenti berurusan dengan Arini. Ingat kamu sudah punya istri. Jangan suka menghancurkan hati istrimu." Kata Nenek bangkit mengelus rambut Sammy. Setelah selesai sarapan Sammy menghampiri. Lelaki itu terteguk menatap Hanny saksama. Ia tak bisa mengotrol dirinya melihat Hanny yang sedang berganti pakaian. Tubuh elok Hanny memang sulit ia lupakan. Dan sekarang ia bisa melihatnya lagi. Sementara Hanny tidak tahu harus berbuat apa. Sekujur tubuhnya menjadi keringat dingin. Jika ia beraksi, Sammy akan tahu ia tidak buta. Tapi jika dibiarkan Sammy bisa melihat dan terkiur dengan tubuhnya yany hanya tertutup underwear saja. 'Ya Tuhan aku harus bagaimana.' Pikir Hanny terkaku. Langkah Sammy semakin dekat, membuat Hanny ketakuta. Pergerakan terhenti disaat Sammy justru mengerjapkan matanya. Oh No.. ternyata Sammy membantunya berpakaian tanpa sedikit menyentuhnya. Hanny tak percaya seorang Sammy bisa menahan nafsunya atau dia yang menarik dihadapan Sammy. Itu perkiraan yang Hanny pikirkan saat ini. "Aku bantu. Tenang.. aku tidak akan ngapain kamu." Kata Sammy memejamkan matanya. Sekujur tubuh Hanny seperti tersegat listrik disaat jemari Sammy menyentuh perlahan tubuhnya. Jantungnya seakan meledak-ledak didalam sana. "Kamu enggak tergoda." Tanya Hanny penasaran, karena pertama kalinya Sammy yang diklaim m***m itu tidak sama sekali tergoda. "Tubuh kamu kayak tiang listrik. Enggak ada yang bisa menaiki nafsuku." Padahal jika Hanny tahu junior Sammy sudah menegang tidak tahan. Sialnya itu membuat Hanny kesal, pasalnya ia tak terima Sammy sekali tak tertarik padanya.'Bisa-bisanya dia tak tertarik padaku. Aku kurang cantik.' "Sekarang menjauh!" Rungut Hanny sebal. Sammy tak menjawab, ia justru langsung ke kamar mandi menuntaskan nafsunya. Terpaksa ia harus mengeluarkannya sendiri. Ia berdesah pelan dengan bibirnya selalu menyebut nama Hanny.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN