Diperjalanan pulang apartment, Hanny masih memikirkan Sammy yang tak tertarik dengannya. Ia bersender dijendela, sejenak terhanyut dengan tatapan Sammy yang membuatnya grogi.
Ia menghembuskan napas panjangnya, Hanny memalingkan wajahnya. 'Ngapain lihatin aku. Katanya enggak tertarik.' Gerutu Hanny dalam hati.
Sammy memarkirkan mobilnya tepat didepan apartmentnya, ia melihat Satya yang juga di diparkiran tersebut.
Hanny mengerjapkan matanya seketika melihat Satya. Ia memang sudah izin beberapa hari pada Satya untuk tidak kerja. Hanny lebih terperanjat melihat Sammy keluar dari mobil, lalu bicara sangat ramah pada Satya yang sudah mengenal lama. "Mereka saling kenal. Jangan sampai Sammy minta aku keluar mobil. Aku bisa ketahuan Sammy bisa melihat."
Sammy menghampiri Satya yang memberikan berkas harus ia tanda tangan. Karena dia hari ini tidak masuk kantor maupun hotel. "Lo dari mana? Cepat juga sampainya."
"Dari hotel lah. Sama siapa? Bini lo."
"Iya..." Sammy mengambil berkas yang diberikan Satya. Sesekali ia memandang kearah mobilnya. Ia heran kenapa Hanny tidak turun.
"Kenalkan gue. Takut lo ya dia naksir gue."
"b******n lo!! Istri gue enggak akan tergoda sama lo. Cabut lo sekarang." Kata Sammy optimis. Ia begitu yakin dengan apa yang diucapkan, seakan dia yakin Hanny mulai jatuh cinta padanya.
Sebenarnya Sammy sendiri kadang tak mengerti dengan perasaannya yang sering menghantamnya. Tatkala semakin ia menyadari perasaan aneh hinggap didadanya, semakin dirinya gelisah.
Sammy kembali menghampiri mobilnya, ia membuka pintu Hanny yang tampak gelagapan. "Kenapa kamu enggak turun. Ayo turun."
"Aa--aku..." Terbata Hanny.
"Aku apa? Ayo turun." Sammy merengkuh tangan Hanny yang keringat dingin.
Hanny terengah, ia sepertinya membutuhkan oksigen. Ia benar-benar tak mengerti apa cinta sudah mulai bersemayam dihatinya. Sadar tak sadar ia sudah merasa nyaman bersama Sammy sekarang. "Aku enggak papa. Kamu ngapain gandeng aku. Aku bisa jalan sendiri."
"Kamu kan istriku. Jadi aku harus bersikap baik-baik."
"Kamu kan emggak tertarik sama aku. Ngapain nunjukin ke orang-orang aku istri kamu."
Seketika Sammy menelisik kemarahan dimuka Hanny. Ia tidak memarahi Hanny balik. Sammy justru mengulum senyum geli. Ia semakin erat disaaat memasuki apartmentnya.
Yang buat Hanny penarasaan kenapa Satya dan Sammy bisa saling kenal bahkan sangat akrab. Hanny bertanya ada hubungan seperti apa diantara mereka. "Udah di dalam apartment. Jangan pegang-pegang. Jijik."
"Aku juga enggak minat dengan perempuan seperti kamu." Cerca Sammy sengaja semakin membuat Hanny kesal memasuki kamarnya.
Hanny membanting tubuhnya diranjang, ia merasa kesal dengan kata-kata Sammy berhasil menjadi Hanny tak menentu. Hanny bangkit melihat dirinya dari cermin. Ia memperhatikan dirinya dari atas hingga kebawah. Ia mengganti pakaian lebih menerawang sengaja untuk memancing Sammy. "Apa aku tidak semenarik itu dimata Sammy. Aku enggak jelek, tubuhku juga seksi. Apa yang membuatnya tidak tertarik." Hanny memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Tok.. Tok.. Tok..
"Hanny."
Mendengar suara Sammy semakin membuat sebal, pasalnya lelaki itu mampu membuatnya hampir gila tak karuan. Hanny pergi kearah pintu untuk membuka.
Sammy berdiri menatap Hanny seksama. Seolah nafsu kembali meningkat melihat Hanny sudah berganti pakaian yang tampak seksi, setiap jengkal tubuhnya terlihat. 'Come on, Sam. Sabar... Cobaan yang berat.' batin Sammy menelan salivanya dengan kasar.
"Apa." Sahut Hanny dengan nada juteknya.
"Mau belanja enggak? Keperluan dapur sudah habis."Kata Sammy.
"Sejak kapan kamu perduli urusan dapur. Lagian aku belanja sendiri juga." Hanny tahu jika belanja dengan Sammy, ia bisa lama. Karena tidak mungkin ia memilih barang dengan mudah. Mana ada orang buta bisa belanja sendiri. "Enggak ah malas."
"Kenapa? Aku mumpung libur bisa temani kamu loh."
Hanny tetap kekeh tidak ingin pergi. Ia menyakinkan Sammy hingga lelaki itu mengelak.
***
Malam harinya Hanny kembali menggoda Sammy dengan pakain lebih terbuka. Sammy yang tengah menonton televisi menjadi tidak fokus.
Hanny benar-benar tak menyerah sama sekali. Ia berusaha menggoda Sammy.
Hanny tidak tahu jika hari ini Sammy terus menahan nafsunya. Dan sial seakan sekarang nafsunya memuncak. Tapi ia tetap tidak akan menyentuh Hanny kecuali perempuan itu sendiri yang menginginkannya. "Buatkan aku teh." Kata Sammy agar tidak lebih menatap Hanny.
Hanny pun tak kuasa menolak, ia pergi ke dapur. Membuat teh, Hanny hampir gila karena Sammy belum menatapnya.
Sammy sendiri tidak bisa menetralkan dirinya. Hanny semakin menggodanya. Tak lama Hanny datang dengan secangkir teh. Ia meletakkan Hanny, lalu duduk samping pria itu. "Astaga... Ngapain kamu bersender denganku."
"Aku kan bersender dengan suamiku."
"Hanny.. jangan gila."
"Bukannya kamu biasa menggodaku. Kenapa sekarang kamu jadi enggak tertarik sama aku." Ucap Hanny dengan nada genitnya.
Sammy terdiam, seakan mendapat godaan yang besar. "Kamu bisa kan menjauh dariku. Badanku pegal."
"Mau aku pijit."
Hanny beranjak, memegang pundak Sammy. Ia memijit Sammy perlahan, Hanny tersenyum melihat ketegangan muka Sammy. "Lepaskan! Aku mau tidur."
"Mau aku temani juga tidurnya."
"Hanny cukup ya. Jangan menguji nafsuku. Kalau kamu mau kita lakukan sekarang dikamar. Aku enggak akan maksa kamu. Aku mau kamu melakukannya ikhlas untukku."
Hanny terdiam mendengar sungutan dari Sammy. Ia terjebak dalam permainannya sendiri. "Aku bisa melakukan apapun, tapi kalau kamu merasa terpaksa aku tidak mau melakukannya." Sekilas Sammy mencium bibir Hanny, lalu pergi.
Riuhan jantung hati seakan meledak-/edak. Hanny sukit untuk mengatur napasnya sendiri. Untuk pertamanya ia tidak marah dengan ciuman yang Sammy berikan. Hanny justru seolah terbang tinggi. "Ya Tuhan. Hanny kontrol. Kenapa kamu? Kenapa rasa deg-degan. Terus ngapain pakai senyum. Udah mulai ada rasa kamu sama Sammy." Ujar Hanny bicara sendiri.
Hanny masih tak percaya bisa menerima ciuman dari Sammy. Ia bukan perempuan segampang itu. Tapi hari ini, kenapa dia hanya terdiam tanpa perlawanan.
Hanny kembali ke kamarnya, ia duduk di balkon sambil menatap langit malam. Dia duduk termenung, Hanny percaya cinta. Tapi ia masih belum percaya kenapa cinta dengan mudah merasukinya, apalagi dengan pria gila seperti Sammy. Yang hobby bermain perempuan seperti hari yang bisa dia gilir. "Kenapa dengan aku? Enggak benar nih. Kamu juga sih, Han. Ngapain terlalu memikir rasa tertarik Sammy." Decak Hanny.
Sementara Sammy merasakan gelisah yang sama. Baru pertama kali, ia merasakan perasaan berbeda. Sebelumnya Sammy tak pernah merasakannya.
Perasaan yang sama pernah Sammy rasakan pada satu wanita, sahabat kecilnya yang sama bernama Hanny. Dan tanpa ia sadar, dia telah kembali jatuh cinta pada orang yang sama.
Sammy tak yakin Hanny istrinya orang yang sama. Karena sahabat kecilnya tidak buta, tidak miskin, tapi Hanny istrinya, ia tinggal didesa, jualan kue, artinya dia miskin.