Hanny sudah berada di hotel tempat ia bekerja. Hanny berdiri termangu sejenak, ia masih memikirkan Sammy yang pergi lebih dulu darinya. Bahkan tidak sarapan lebih dulu.
"Hanny..." Panggil Mayang.
"Iya, Mbak. Ada apa."
"Tolong buatkan makanan untuk pemilik hotel ini. Dia mau masakan kamu."
Hanny segera bergegas dengan alat masaknya, ia berkutat dengan bahan-bahan yang ada dihadapanmya.
Entah kenapa perasaan Hanny menjadi gelisah tak menentu. Ia merasa ada suatu terjadi, tapi ia tak tahu apa. Otaknya terus memikirkan Sammy.
Hanny sudah menyuguhkan makanan yang siap diberikan pada pemilik hotel. Lalu ia berjalan pelan, keruangan Satya.
Tanpa Hanny tahu, didalam sana ada Sammy. Hanny sebenarnya merasa bersalah pada Sammy, kejadian malam tadi yang membuat Sammy kesal padanya.
Dan bodohnya ia tak berhenti berpikir tentang Sammy. Seperti seorang kekasih yang sedang galau. Sesekali Hanny menyapa karyawan yang berpapasan dengannya.
Dan sekarang Hanny mengetuk pelan ruangan itu, ia menunggu jawaban dari dalam untuk masuk.
"Masuk."
Hanny pun masuk dengan merunduk, tanpa melihat kemarahan diwajah Sammy.
***
Sammy harus pergi lebih awal karena ada rapat di hotel dengan klien dari jerman. Usai metting ia menemui Satya yang baru saja datang. Karena belum sarapan ia meminta Satya memesankan makanan.
"Sat.. lo darimana jam segini baru datang." Tanya Sammy.
"Tadi ke apartement perempuan ya gue suka."
"Parah lo!! Gimana? Ada peningkatan."
"Sialan lo! Remehin gue."
Kedua orang ini memandang pintu tertutup rapat, saat mendengar suara ketukan. Sammy pun mempersilakan masuk. Ia melihat perempuan tertunduk membawa makanan.
Sammy menatap tajam, ia seperti mendapat sambaran petir disore hari. Ini benar-benar memalukan untuk seorang Sammy, dia Ceo hotel tersebut. Tapi istrinya bekerja sebagai.cheff. dan yang membuat Sammy sangat marah, Hanny tampak bisa melihat. Ia mengatur makanannya tanpa meraba apapun seperti apa.
"HANNY!!!" Teriak Sammy meraung.
Hanny medongakan kepalanya terkejut. Mata membulat melihat Sammy dihadapannya yang tampak marah, sepertinya ia tidak dapat ampun kali ini. "Sammy.. Nga---ngapain kamu disini." Terbata Hanny.
"SEHARUS PERTANYAAN ITU PANTAS UNTUK KAMU." Sammy membentak, ia mendekat menghampiri Hanny lebih dekat.
Hanny merasa takut luar biasa, ia memundurkan langkahnya hingga ke tembok. "Kamu lagi marah. Lebih kamu tenangin perasaan kamu dulu." Gumam Hanny.
"Tunggu... Tunggu... Ini ada apa? Lo kenal sama Hanny." Sambung Satya yang sangat penasaran, justru mendapat tatapan tajam dari Sammy. "Gue cuma nanya. Emggak perlu lihat gue kayak gitu."
"Kenapa lo berani kerjain dia disini? Lo tahu dia siapa?"
Satya mengeryit bingung. Kemarahan Sammy diluar dugaannga. Ia tak bisa menduga-duga siapa Hanny. Apalagi tampak wajah Hanny ketakutan dengan mengigit bibirnya
Sammy semakin mendekat menghadap Hanny, ia merengkuh pinggang Hanny dengan hentakkan yang kuat. "Sat, tinggal gue sama Hanny." Ucap Sammy dengan nada memperintah.
Hanny terteguk menatap Sammy. Dia berharap ada badai yang akan menyelamatkannya dari kemarahan Sammy. 'Mati aku... Apa yang akan dilakukan Sammy kali ini.'
Ketakutan Hanny semakin tak karuan setelah Satya meninggalkan ruangannya. Lutut Hanny serasa lemas, nafasnya berburu. "Aa---aaku bisa"
"Diam!! Gak ada yang minta kamu bicara." Sammy berucap dengan nada meninggi. "Aku pikir kamu lebih baik dari Arini. Tapi.. Ck! Bodohnya aku, kau ingin memanfaatkan aku dengan berpura-pura buta. KAU LEBIH BURUK DARI ARINI." Ucap Sammy menerka keraungannya.
Hanny tak dapat melawan sama sekali, keberanian seakan melemah. Ia bahkan tak mengerti, air matanya mengalir dengan mudah.
"JANGAN MEMBUANG AIR MATA PALSUMU DIHADAPANKU. AKU MERASA MALU MENIKAHIMU."
Brak!!
Sammy menggepal tangan, ia menghantamkan ke tembok membuat tangan lelaki itu berdarah.
"Sam, tangan kamu..." Hanny memegang tangan Sammy yang mengeluarkan darah.
"Jangan sentuh aku. Sakit tangan ini enggak ada apa-apa dibanding hati aku." Sammy menepis tangan Hanny dengan kasar. Ia benar-benar merasa kecewa dengan kebohongan besar yang Hanny lakukan.
Sammy pergi meninggalkan ruangan itu dengan menggebrak pintu. Ia tak bisa berkata-kata lagi, perasaannya campur aduk. Hatinya bertanya kenapa Hanny membohonginya sebagai suami Hanny.
Hanny terduduk di lantai, ia terisak tangis. Perasaan tercamuk melihat Sammy seperti itu, ia ingin menjelaskan semuanya tapi Sammy tidak membiarkannya untuk bicara apapun.
Hiks... Hiks...
"Seharusnya kamu dengarin aku dulu. Hiks..." Isak tangis Hanny, paru-paru serasa diremas, menusuk hingga ke tulang rusuknya.
***
Satya melihat kepergian Sammy, ia merasa ada suatu antara Hanny dan Sammy. Apalagi ia kembali melihat Hanny didalam ruangannya menangis seakan kemarahaan Sammy akan menganggu pikirannya.
"Hanny.. kamu kenapa?" Satya mengelus pelan rambut Hanny. "Kamu dan Sammy ada hubungan apa?"
"Hiks... Aa--akku..." Hanny terbata-bata. "Aku istri Sammy."
Astaga Satya rasanya tak percaya ia menyukai istri sahabatnya sendiri. Pantas saja, ia selalu melihat Hanny di sekitar apartement Sammy.
"Sial." Umpatan itu mungkin hanya pantas untuk dirinya. Wqjar Sammy ikut marah padanya yang telah memberi pekerjaan pada istri Ceo hotel tempat ia bekerja.
"Jadi kamu istri Sammy. Anak sahabat kedua orang tua Sammy. Sekarang aku ngerti kemarahan Sammy." Ujar Satya dengan suara lembutnya. "Han, lebih baik kamu pulang. Aku enggak bisa pekerjakan istri Ceo hotel ini."
Hanny mengangguk mengerti. Ia pergi ke dapur restoran untuk berpamitan pada semua orang. "Maaf... Aku enggak bisa kerja sama kalian lagi."
"Ada apa, Han. Apa bos pecat kamu." Tanya Intan mengelus punggung Hanny berkali-kali. Ia pikir tangisan Hanny karena ia dipecat.
"Aku enggak bisa kerja disini."
"Tapi kenapa?"
Aku pergi.
Mayang yang saat itu juga penasaran. Pasalnya, ia tahu betul Hanny sangat menginginkan pekerjaan ini. Tapi nyatanya kenapa mendadak setelah mengantarkan makanan untuk Pak Sammy, Hanny justru resign.
Karena rasa penasaran Mayang pergi keruangan Satya, ia ingin tahu kebenaran. Yang ternyata mengejutkan Hanny adalah istri dari Ceo tempatnya bekerja. "Jadi.. Hanny istri Pak Sammy."
"Iya..."
"Aku masih tak percaya. Hanny baik, tapi Pak Sammy kan arogant." Celetuk Mayang asal. Ia memang tahu Hanny tampak polos dan baik.
Sementara Hanny sudah perjalanan pulang ia, bersender di taxi sambil menangis memikirkan Sammy yang marah padanya.
Padahal Hanny ingin menjelaskan kebenaran tentang ia pura buta. Tentang ia terpaksa melakukan itu semua. Tapi Sammy adalah Sammy, ia sangat keras kepala, tanpa mendengar penjelasan dari Hanny, suaminya itu berasumsi sendiri.
Hanny terus saja termangu, baru juga Hanny merasa perasaan berbeda pada Sammy. Walaupun ia sendiri belum yakin dengan perasaannya. Tapi entahlah...
Otak Hanny seakan pecah memikirkan Sammy tiada henti. Andai saja Sammy tahu jika Hanny sahabat kecilnya dulu. Banyak rahasia yang rasanya ia sulit untuk ia katakan.
Drrrtttt....
Drrrttt....
Suara ponsel Hanny membuyar lamunannya. Satu panggilan nomor tak dikenalnya, ia memandamg layar ponselnya, langsung mengangkat telpon tersebut. "Halo." Angkat Hanny dengan suara seraknya.
"Apa benar dengan istri Pak Sammy Safrio."
"Iya benar. Ini siapa??"
"Saya dari rumah sakit, Pak Sammy mengalami kecelakaan, sekarang ada di IGD belum sadar."