bc

CEO Penakluk hati Marcela

book_age18+
1.0K
IKUTI
10.9K
BACA
bxb
Writing Academy
like
intro-logo
Uraian

Marcela Diandra. Seorang janda berusia 30 tahun, dengan dua anak laki-laki. Membuka bisnis menjual kue secara online. Walaupun belum mempunyai toko roti sendiri, tapi setiap harinya dia bisa menerima banyak pesanan. Tadinya dia hanya berniat untuk membuat dirinya sibuk dengan hobi nya membuat kue, agar tidak selalu meratapi kepergian suaminya, tapi ternyata, bisnisnya malah berkembang karena kemampuannya membuat kue yang enak.

Adrian Wiraguna Atmaja. Seorang CEO hotel terkemuka di Jakarta, dengan banyak cabang di berbagai kota di Indonesia. Pemuda berumur 25 tahun, anak satu-satunya dari keluarga Wiguna Atmaja yang sukses mengelola hotel bersama ayahnya, Gunawan Sastra Atmaja. Suatu hari bertemu dengan Marcela yang tidak lain adalah kakak dari sekertaris pribadinya, Mario, sekaligus sahabat sejak mereka SMP, melihatnya pertama kali, Adrian langsung merasakan getaran cinta, dan berusaha mendekati Marcela walaupun selalu ditentang oleh sang adik, karena mengingat usia mereka yang terpaut jauh dan Marcela sendiri masih menutup hatinya untuk laki-laki lain. Dia hanya ingin fokus dengan kedua anaknya, duo Rei, dan bisnis kue nya.

Akankah Adrian mampu membuka hati Marcela lagi, dan meluluhkannya..?

chap-preview
Pratinjau gratis
1
Pukul 4.30 pagi. Bahkan matahari pun belum menampakkan bentuknya. Seorang wanita dengan daster kusut yang masih melekat ditubuhnya, dan rambut yang dicepol ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya, sedang sibuk di dapur. Mulai dari mencuci semua sayuran yg sudah dia siapkan, memotongnya, dan mulai memasukkannya ke panci. Ya, dari semalam dia memang sudah merencanakan masak sup ayam untuk pagi ini. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk kedua anak laki-lakinya yang suka sekali dengan sup ayam buatannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.30. Tak terasa sudah 1 jam dia berkutat di dapur. Sup ayam sudah tersedia di meja makan. Sekarang saatnya dia membangunkan 2 pangeran kecilnya untuk bersiap berangkat sekolah. Marcela Diandra. Wanita berumur 30 tahun yang sudah menyandang status janda karena suaminya meninggal tiga tahun yang lalu. Meninggalkan dia dengan satu anak laki-laki yg masih berumur 3 tahun dan satu bayi yang belum genap 1 tahun. Selama 3 tahun itu pula dia seorang diri menghidupi dan membesarkan kedua anaknya di rumah peninggalan suaminya. Wanita periang yang selalu hangat didekat semua orang, sekarang berubah menjadi sosok yang pendiam, dan lebih memilih untuk selalu diam dirumah. Hanya keluar rumah saat mengantar dan menjemput anak-anaknya, dan pergi belanja atau beli bahan kue. Sejak ditinggal suaminya, Marcela membuka bisnis menjual kue secara online. Walaupun belum mempunyai toko kue, tapi dalam sehari dia bisa mendapat 10 sampai 20 dus pesanan kue, entah itu bolu, brownies atau donat. Dia juga terkadang mencoba kreasi baru kue-kue yang sedang hits dikalangan anak muda, agar dapat lebih banyak pelanggan lagi. Tadinya dia hanya berniat untuk membuat dirinya sibuk dengan hobi nya membuat kue, agar tidak selalu meratapi kepergian suaminya, tapi ternyata, bisnisnya malah berkembang karena kemampuannya membuat kue yang enak. Pukul 07.00, Marcela sudah sampai rumah dengan beberapa kantong belanjaan berisi bahan kue untuk mengerjakan pesanan kue nya hari ini. Diapun mulai mengganti bajunya dengan daster dan mecepol rambutnya ke atas, tanda dia sudah siap untuk berkutat lagi di dapur. Sebelum memulai dia mengetik pesan di hapenya untuk Mario, adiknya. Memintanya untuk menjemput anak-anak dari sekolah karena dia tahu pasti tidak punya waktu untuk menjemput mengingat pesanan kuenya banyak untuk hari ini. Hotel Atmaja Jakarta. "Mau kemana lo? ini belum waktunya makan siang" tanya Adrian ke Mario yang sudah beranjak saat Adrian baru saja selesai mengatakan bahwa rapat selesai untuk hari ini. "Mau jemput duo Rei, kak Cela lagi banyak pesanan kue" jawabnya sambil terus berjalan. Di parkiran, Mario hendak menyalakan motornya, setelah memakai helm, tiba-tiba seseorang merebut helmnya dan meletakkan kembali dijok motor. Orang itupun mematikan mesin motor, mancabut kunci dan menyimpannya disakunya. "Eh, maksud lo apa ni yan?" tanya Mario sewot. Ya sahabatnya yang tidak lain adalah atasannya sendiri pelakunya. "Gue nggak rela calon anak gue lo jemput pakai motor" jawab Adrian sambil menarik tangan Mario menuju mobilnya. "Whattt???" Mario seakan terbelalak mendengar kata-kata Adrian. Adrian hanya terkekeh melihat sahabatnya sewot. Adrian menyerahkan kunci mobil ke Mario, lalu masuk dan duduk disebelah kursi pengemudi. "Kenapa lo duduk disitu?" tanya Mario masih sewot. "Lo yang nyetir" jawab Adrian santai. "Lo yang maksa gue naik mobil, dan gue juga yang harus nyetir!" tanya Mario dengan nada makin meninggi. "Buruan om Mario, jangan sampai duo Rei nunggu lama di sekolah, gue nggak mau anak-anak gue jamuran." Mario pun dengan terpaksa masuk mobil dan mulai menjalankannya. "Anak lo? sampai kapanpun gue nggak akan kasíh ijin lo deketin duo Rei, apalagi kak Cela. Langkahin dulu mayat gue." Ancam Mario kepada Adrian. Tapi Adrian hanya terkekeh sambil memejamkan matanya. "Yang sopan sama calon kakak ipar ya." kata Adrian dengan percaya diri. Dan dibalas Mario dengan tonjokan kecil di lengan Adrian. Adrian tersenyum sendiri di dalam perjalanan menuju sekolah. Dia mengingat saat pertama kali pertemuannya dengan Marcela tiga bulan lalu. Flashback on. Adrian masuk ke dalam gedung pernikahan seorang relasi bisnisnya. Walaupun dia sebenarnya malas untuk datang ke acara seperti ini, mengingat statusnya yang masih single, alias tidak punya teman untuk digandeng. Tapi acara kali ini berbeda. Relasi bisnisnya menikah dengan kakak dari Mario, sahabatnya. Dan Mario sudah memperingatkannya, kalau dia tidak datang, putus hubungan persahabatan mereka. jadi, disinilah dia. Kakak Mario disini yang menikah adalah Marsha Adriana, kakak kedua Mario. Mario adalah anak terakhir tiga bersaudara. Saat Adrian baru saja masuk di dalam gedung, dia dikejutkan dengan dua anak laki-laki yang tiba-tiba menabraknya. Salah Adrian juga dia melamun hingga tidak menyadari ada yang berlari ke arahnya. "Maaf, om." kata anak laki-laki yang badannya lebih besar. "Ngak papa boy, Om juga salah nggak lihat jalan. Kalian nggak papa?" tanya Adrian sambil membantu anak laki-laki yang badannya lebih kecil untuk berdiri. Karena saat menabrak Adrian tadi tubuhnya terpental hingga terduduk di lantai. "Reihan, Reifan!" Panggil seorang wanita yang masih setengah berlari menunju arahnya dengan pakaian kebaya. Saat berhenti di depan Adrian dia kehilangan keseimbangan karena sepatu hak tingginya. Adrian pun dengan sigap menangkap tangan wanita itu sehingga tidak jadi terjatuh. "Kamu nggak papa?" tanya Adrian dengan masih memegangi tangan wanita itu. "Maaf, saya nggak papa, mas." jawab wanita itu seraya melepaskan tangannya dari genggaman Adrian. Adrian yang tersadar pun langsung melepas genggamannya dari pergelangan tangan wanita tadi. "Oh, maaf." Adrian tergagap. Bagaimana tidak. Dia sangat terkesima dengan bidadari cantik berkebaya di depannya ini. Wanita itu mengalihkan pandangannya kepada dua bocah laki-laki yang dari tadi dikejarnya. Dan menggandeng kedua anak tersebut untuk mengajaknya pergi. "Reihan, Reifan, dipanggil kok malah lari. Ayo kita foto dulu, sudah ditunggu Opa." Ajak wanita itu. Sebelum beranjak dia menoleh kembali kepada Adrian, dan tersenyum. Adrian seperti tersihir dengan kecantikan wanita itu, sehingga tidak bisa bergerak karena debaran jantungnya yang tidak menentu. Dia hanya bisa memandangi kepergian wanita itu. "Yan, lo sudah dateng." Sapa Mario menepuk pundak Adrian. "Lo kenapa? kesambet? kok bengong gitu?" tanya Mario yang heran melihat sahabatnya terpaku. "Gue habis ketemu bidadari, Mar." jawab Adrian makasih terpaku. "Siapa?" tanya Mario mengikuti pandangan Adrian . "Astaga, gue sampai lupa ajak dia kenalan!" Kata Adrian seraya menepuk keningnya. Mario hanya menggeleng melihat tingkah Adrian. "Ayo gue temenin keatas, lo belum ngasih selamat ke mempelai kan?" Mereka pun naik keatas panggung. Adrian mengucapkan selamat kepada kedua mempelai ditemani oleh Mario. "Lo makan dulu gih, silahkan menikmati hidangan yang ada." kata Mario setelah meninggalkan panggung. "Temenin..." Adrian merengek manja pada Mario. Membuat Mario jijik melihatnya. "Sumpah, lo bener abis kesambet kayaknya." Ucap Mario sambil menggelengkan kepalanya. "Mario, dipanggil papa." Seorang wanita tiba-tiba datang menghampirí mereka. "Oke." jawab Mario. Saat hendak meninggalkan Adrian, diapun tersadar, dan mengenalkan wanita itu pada Adrian. "Oh iya, kenalin yan, ini kakak gue yang pertama." "Marcela." kata wanita itu seraya mengarahkan tangannya ke Adrian untuk bersalaman. Adrian kembali terpaku, dan membiarkan tangan Marcela menggantung lama di udara. "Yan!" suara Mario dan tepukan kencang dí bahu Adrian menyadarkannya. "Eh, oh. Oh ya, Adrian." jawab Adrian tergagap sambil mengarahkan tangannya menyambut tangan Marcela. "Silahkan menikmati hidangannya, saya tinggal dulu." Kata Marcela dengan tersenyum. Marcela pun meninggalkan mereka. Mario hendak menyusul Marcela, tapi tangannya dicekal oleh Adrian. Sehingga Mario kembali menoleh pada Adrian. "Apa?" tanya Mario bingung. "Itu dia bidadari yang gue lihat tadi" jawab Adrian sambil menunjuk Marcela yang sedang berlalu. "What? itu kakak gue. Dia sudah punya anak. Awas lo macem-macem." Ancam Adrian Adrian pun terkejut. Matanya membola tidak percaya. Flashback off. "Yan, lo tunggu disini sebentar ya, gue jemput duo Rei dulu." Kata Mario membuyarkan lamunannya. Adrian pun mengedarkan pandangannya, ternyata mereka sudah sampai di sekolah.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.1K
bc

Long Road

read
148.5K
bc

FINDING THE ONE

read
34.7K
bc

Aira

read
93.1K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K
bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.7K
bc

Daddy Bumi, I Love You

read
36.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook