9

1109 Kata
Di sebuah restoran. "Hore... fried chiken!" Seru Reifan setelah pelayan meletakkan satu porsi nasi dan ayam goreng tepung di meja. "Terimakasih" ucap Marcela pada pelayan itu. Tak lama pelayan lain datang membawa satu per satu makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya. Rizal terlihat senang sekali melihat duo Rei dengan lahapnya menyantap makanan mereka. "Dihabiskan ya makannya." ucap Rizal pada duo Rei. "Siap, om! " jawab mereka kompak. Marcela dan Rizal tertawa melihat tingkah dua anak itu. "Oya, Cel, kamu masih suka bikin kue?" Tanya Rizal di sela-sela makannya. "Masih, mas. Malah sekarang tiap hari makin banyak pesanan, kadang aku jadi kewalahan." jawab Marcela setelah menelan makanan yang baru saja dia sendokkan ke mulutnya. "Memang kenapa, mas?" "Mmm... Sebenarnya aku mau kenalin kamu ke sepupu aku, dia baru saja membuka toko roti, dan dia masih mencari orang yang bisa membantunya membuat beberapa kue untuk dijual di tokonya." kata Rizal. "Apa sepupu mas tidak membuat kuenya sendiri?" Tanya Marcela "Dia membuat sendiri, dan dibantu satu koki, tapi sekarang dia baru saja punya bayi dan kokinya juga baru saja resign karena mau menikah." Jawab Rizal menjelaskan. "Ooo gitu." Marcela mengangguk. "Beberapa hari yang lalu dia tanya ke aku, apa aku punya kenalan koki yang bisa bikin berbagai macam kue? Lalu aku langsung teringat kamu." Kata Rizal lagi. Lalu menyendokkan sesuap nasi kemulutnya. "Boleh aja sih, mas. Tapi berarti aku harus membuat kue di toko langsung kan ya? Nanti anak-anak gimana?" Marcela tampak bingung. Di satu sisí dia bisa mendapatkan kerjaan tetap, dengan begitu dia bisa menambah penghasilan untuk menghidupi dua anaknya. Tapi di sisí lain, dia juga tidak bisa meninggalkan anak-anaknya. "Kata sepupu aku, biasanya kokinya bekerja dari pagi jam 07.00 sampai jam 12.00 siang saja. Setelah itu boleh pulang kalau sudah selesai, setidaknya ada yang bisa dipajang di tokonya saat toko sudah dibuka. Selebihnya, dia sendiri yang mengatur." "Sepertinya menarik, boleh aku coba dulu, mas?" tanya Marcela. "Oke. Aku akan bilang ke sepupu aku, nanti aku kabarin kamu kapan kamu bisa ketemu sama dia." jawab Rizal. Marcela mengangguk. Mereka melanjutkan makan lagi, dan sesekali juga bercakap-cakap, bersama duo Rei juga. Beberapa saat kemudian. Mereka sudah selesai makan, Rizal sudah membayar bill, lalu mengajak Marcela dan duo Rei untuk pulang. Tepat di lobi, Marcela melihat Adrian masuk ke restoran dengan Stephanie yang masih bergelayutan di lengan Adrian. Wajah Marcela tampak berubah, senyum yang dari tadi dia perlihatkan, mendadak menghilang entah kemana saat melihat Adrian menggandeng wanita lain. Adrian pun sama terkejutnya melihat Marcela. Tambah terkejut lagi melihat siapa yang bersama Marcela. Beberapa detik mereka terdiam, saling bertatapan. Rizal yang melihat Marcela berhenti, menoleh ke arah dimana Marcela menatap. "Oh, kamu... temannya Mario, kan?" Sapa Rizal yang tidak mengingat mama Adrian, tapi ingat bahwa dia adalah teman Mario. Adrian senyum dengan terpaksa. Hatinya tiba-tiba terasa panas melihat laki-laki itu lagi, dan bersama Marcela lagi. "Om Ryan!" Teriak duo Rei yang masih digandeng oleh Rizal, dan hanya melambaikan tangannya pada Adrian. "Hai, boy's." jawab Adrian melambaikan tangannya juga ke arah duo Rei. "Kalian mau makan?" tanya Rizal. Ya iyalah, emang mau kemping, mau ngapain lagi ke restoran kalau ngga buat makan. Ryan bergeming dalam hati. "Iya." jawab Adrian masih mengulum senyum. "Oh ya, silahkan, kami sudah selesai, kami duluan, ya." pamit Rizal seraya meninggalkan Adrian dan Stephanie. "d**a om ryan...!" pamit duo Rei juga sambil melambaikan tangan. "Dada..." jawab Adrian yang membalas lambaian tangan duo Rei. Lau menatap Marcela. "Cel." Sapa Adrian. Marcela hanya tersenyum. "Kami duluan." pamitnya yang langsung berjalan menyusul Rizal dan kedua anaknya menuju mobil. Adrian menatap kepergian Marcela. Stephanie bingung melihat Adrian yang tak berhenti menatap Marcela sampai menghilang dari pandangannya. "Hellooo." Stephanie membuyarkan lamunan Adrian. "Kita jadi makan nggak, nih?" Tanya Stephanie. "Eh, jadi lah. Ayok." Ajak Adrian. Tapi dia melangkah sendiri. meninggalkan Stephanie yang masih berdiri bingung. "Yan..?" panggil Stephanie. Adrian menoleh, berbalik menghadap Stephanie. "Oh, astaga!" Adrian menepuk keningnya pelan. Lalu kembali menghampirí Stephanie, dan menggandengnya lagi. "Are you oke?" tanya Stephanie bingung. Dia melihat Adrian yang seolah sedang tidak fokus. Entah pikirannya terbang kemana. "Oke, oke." jawab Adrian. Stephanie semakin yakin, bahwa ada yang tidak beres dengan Adrian. Mereka duduk di meja yang sudah disiapkan pelayan. Stephanie memilih menu dengan antusias, karena perutnya yang sudah terus bergejolak karena lapar. "Kamu makan apa, yan?" tanya Stephanie. Tapi yang ditanya tidak mendengar. Beberapa kali Stephanie memanggil Adrian, hingga akhirnya satu tendangan mendarat di lutut Adrian, tepat di bawah meja. "Auwww." Teriak Adrian kesakitan. "Apa sih, kok pakai nendang segala!" Tanya Adrian sambil mengusap lututnya yang sakit. "Kamunya dipanggilin daritadi nggka nyahut!" jawab Stephanie sewot. "Kapan kamu manggil?" tanya Adrian polos. "Hah? Mba, berapa kali coba saya panggil dia? kayaknya perlu ke THT ni orang." tanya Stephanie kepada pelayan yang dari tadi berdiri di samping meja mereka, mencatat pesanan Stephanie.Pelayan itu hanya cekikikan sambil menutup mulutnya. "Ya sudah, samain aja lah." jawab Adrian masih jengkel karena tendangan Stephanie. Pelayan itu pun pergi setelah mencatat pesanan Adrian. "What happen? kok kamu jadi kehilangan fokus gitu abis liat perempuan tadi?" Tanya Stephanie. Stephanie memang sangat peka dengan sikap Adrian, karena hampir seumur hidup dia mengenal Adrian. "Sok tau!" jawab Adrian mengelak. "C'mon, I know you so well, yan." Adrian menatap Stephanie. Stephanie menaik turunkan alisnya, menggoda Adrian. "Tell me, who is she?" tanya Stephanie lagi. Adrian menarik nafas panjang. Dia memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Stephanie. Sepupunya yang paling mengenal dia, dan paling mengerti setiap gerak geriknya. "Dia perempuan yang aku suka." Jawab Adrian menunduk. "Benar kan dugaanku!" teriak Stephanie heboh sambil menepuk tangannya. Adrian terkejut melihat tingkah Stephanie. "Ssstt... Pelankan suaramu!" kata Adrian setengah berbisik dengan menaruh telunjuknya di depan mulutnya. Stephanie tertawa terbahak-bahak. "Dan perempuan yang kamu suka sedang jalan dengan laki-laki lain." kata Stephanie lagi dan melanjutkan tawanya. Dia benar-benar membuat Adrian tidak bisa berkata apa-apa. "Kamu benar, cuma bertepuk sebelah tangan." Kata Adrian lirih. Dan semakin menundukkan kepalanya. Stephanie menghentikan tawanya. "You know what?" tanya Stephanie. Adrian mengangkat kepalanya, menatap Stephanie. "Sepertinya tidak bertepuk sebelah tangan." Stephanie melanjutkan kata-katanya. "Maksud kamu?" tanya Adrian tidak mengerti. "Yaa... because she was jealous." Adrian mengerutkan keningnya, Stephanie menatap Adrian dengan senyum nakal. Adrian semakin tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Stephanie. Hingga pesanan mereka datang, dan Stephanie langsung melahap makanan yang ada dihadapannya tanpa basa-basi. Adrian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sepupunya itu. Wajah memang cantik, tapi kelakuan suka diluar batas. Dalam sekejap Stephanie berhasil menghabiskan satu piring nasi goreng, dan beralih ke piring satunya lagi yang berisikan sup iga, Lalu melahapnya lagi. "Apa selama di Inggris kamu ngga pernah makan?" tanya Adrian dengan nada mengejek, karena sepupunya itu memang mirip seperti orang yang tidak pernah makan selama bertahun-tahun Stephanie tidak menghiraukan ucapan Adrian, dan memilih fokus menghabiskan makanannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN