Aku menghela napas panjang sambil menyilangkan tangan di d**a, menunggu Daren masuk ke dalam mobilnya. “Terima kasih sudah membantu hari ini,” katanya dengan senyum khasnya. Ningning membalas dengan ceria, “Lain kali kalau ada acara seru seperti ini, jangan lupa ajak kami lagi.” Aku hanya tersenyum kecil, masih merasa sedikit lelah setelah kejadian di stand tadi. Mataku melirik sekilas ke arah Ethan, yang masih berdiri tak jauh dari kami. Dia tetap diam, ekspresinya datar, seolah keberadaanku di sini sama sekali tidak penting baginya. Aku memilih untuk mengabaikannya. Ketika aku dan Ningning berbalik untuk kembali ke dalam kampus, tiba-tiba aku merasakan firasat buruk. Dua orang asing mengenakan helm full-face mendekat dengan langkah cepat. Sebelum aku bisa bereaksi, salah satu dari mer

