“Diam.” Jantungku mencelos. Aku mendongak, dan mataku langsung bertemu dengan sepasang mata hitam yang sangat kukenal. Ethan. Aku masih berusaha mengatur napasku ketika dia menekan satu jari di bibirku, memberi isyarat untuk tetap diam. Aku bisa melihat ekspresinya dalam cahaya redup—serius, fokus, dan penuh kewaspadaan. Dia mengalihkan pandangannya ke gang tempat aku berlari tadi. Aku mengikuti tatapannya dan menyadari sesuatu. Dua pria yang mengikutiku tadi kini berdiri di tengah gang, tampak kebingungan. Aku menahan napas. Mereka mencariku. Aku bisa melihat cara mereka mengedarkan pandangan, tubuh mereka sedikit menegang seolah sedang bersiap melakukan sesuatu. Aku menggigit bibir, rasa panikku belum sepenuhnya hilang. Aku menoleh ke Ethan, ingin bertanya kenapa dia ada di sin

