Aku sudah berdiri di depan pintu, merapikan tas dan memastikan semuanya siap sebelum berangkat. Tapi tepat saat tanganku menyentuh gagang pintu, ada tarikan kecil di bagian belakang sweaterku. Aku terdiam sejenak, lalu menoleh ke belakang. Ethan berdiri di sana, satu tangannya masih memegang ujung sweaterku. Ekspresinya santai, tapi sorot matanya mengamati aku dengan cara yang entah kenapa terasa… terlalu tajam. “Kenapa?” tanyaku, berusaha terdengar biasa saja. “Kau sudah siap untuk kencanmu?” Suaranya terdengar ringan, seolah hanya pertanyaan iseng. Aku mengerutkan kening. “Ini bukan kencan. Aku mau ke kampus.” “Tapi kau terlihat lebih manis dari biasanya.” Jantungku mencelos. Aku belum sempat bereaksi saat tiba-tiba ia menarik sweaterku sedikit ke belakang, membuatku terhuyung ke

