“Ngobrol apaan sama dia?” sahut Sakti cepat begitu Lintang mulai sedikit serius dengan Kakaknya.
Diam seribu bahasanya seketika menguap entah kemana mendengar sahabatnya hendak berbicara kepada sang kakak. Seolah-olah ada rasa tidak rela jika Lintang dekat dengan Mahen. Padahal ia juga paham hubungan keduanya jarang akur.
Mendengar sakti bersuara, sontak Agnes dan Mahen menatap cowok itu dengan tatapan menyelidik. Seakan meminta kejelasan tentang ucapannya tadi. Namun, Sakti mengacuhkan tatapan Mama dan kakaknya. Ia masih mempertahankan pandangannya ke arah Lintang.
Lintang membalas tatapan Sakti tanpa suara, “Nanyain pelajaran,” kata Lintang dengan kesal.
“Elo mana tahu pelajaran anak SMA,” lanjut Lintang mengemukakan alasannya sembari menatap balik sahabatnya.
Tanpa banyak debat, Sakti beranjak dari sofa. Cowok itu melangkah ke lantai dua di mana kamarnya berada. Cowok itu tahu diri, sahabatnya itu tidak mungkin membicarakan pelajaran dengan kakaknya. Mahen anak IPA sedangkan Lintang anak IPS, dimana sambungannya.
“Ngambek tuh, dia!” Tunjuk Mahen ke punggung Sakti yang terus menjauh.
“Biarinlah, Bang.” Lintang mengalihakan pandangannya dari punggung Sakti yang menghilang dari tangga berbelok ke kamarnya.
“Tante temani Sakti dulu, ya!” pamit Agnes kepada Lintang dan Mahen seolah-olah paham apa yang akan dibicarakan anak muda itu.
“Iya, Tan.”
“Iya, Ma.”
Kompak keduanya.
“Mau ngobrol di mana?” tanya Mahen begitu di ruang tamu hanya ada mereka berdua.
“Di sini juga gak pa-pa sih, Bang.” Dengan nyamannya Lintang menyandarkan punggung ke sandaran sofa empuk milik keluarga sakti.
“Bentar. Gue ambilin minum dulu. Kasiyan ada tamu dari tadi dianggurin ama adek dan Mama gue,” ledek Mahen sembari menuju dapur.
Lintang hanya terkekeh mendengarnya, karena dia memang jarang dilayani di rumah Sakti. Apalagi oleh Mahen yang notabene musuhnya dalam berdebat.
Jika haus atau lapar Lintang terbiasa ke dapur sendiri mengambil apa yang ia butuhkan. Sehingga ia merasa istimewa saat Mahen mengambilkannya minum.
Tidak lama kemudian, Mahen kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas es sirup cocopandan.
“Seger banget, tuh Bang kelihatannya. Bikin tenggorokan jadi haus,” komen Lintang begitu Mahen meletakkan segelas es sirup coocopandan di hadapannya.
“Alah pake sok jaim, bilang seger padahal mo bilang makasi, kan. Gitu aja pake acara muji segala,” ledek Mahen.
Lintang melebarkan senyumnya sembari mengangkat gelas sirup berwarna merah tersebut.
“Sok tau lo, Bang. Tapi, bener juga ding. Makasih minumannya. Pas banget. Pas haus. Pas ada yang bikini. Pas manisnya – “ Lintang menyeruput es buatan Mahen dengan segarnya.
“Seger, Bang. Kayak yang bikin,” Sambung Lintang meletakkan kembali gelas berkaki tersebut ke meja.
Mahen terkekeh mendengar Lintang, walaupun bukan sebuah guyonan entahlah bagi Mehen sahabat adiknya itu memiliki aura sedikit kocak. Terkadang ia sedikit iri dengan persahabatan keduanya yang erat, tidak seperti dirinya yang tidak memiliki teman akrab. Hidupnya tentang belajar dan belajar.
Karena itu Lintang dan Sakti tidak akur dengan Mahen. Namun, bagi Agnes anak sulungnya itu adalah putra terbaiknya. Anak rumahan yang selalu dibanggakan.
Sedangkan Sakti, kerjaannya hanya keluyuran tidak jelas. Walaupun endingnya akan berhenti di rumah Lintang atau Erik sebagai stasiun terakhirnya. Namun, tetap saja membuat Agnes selalu was-was.
“Lo mau ngomong apa, tadi?” tanya Mahen mengingatkan Lintang.
“Bang …, sebetulnya – “ Lintang menatap ragu ke arah Mahen.
“Katakan aja, gue bakal denger biarpun pahit kayak pil rasanya.” Kakak Sakti itu menghembuskan napas panjang seolah tahu kemana arah pembicaraan Lintang.
“Malam ketika Tante Agnes dan Om Dewa bertengkar – “
“Kalian tahu tentang itu?” potong Mahen dengan menatap serius ke arah Lintang.
“Kami mendengarnya,” Lintang terdengar menarik napas dalam menjeda kalimatnya.
"Kami?" heran Mahen.
"Iya kami. Gue, Erik, Candra dan Ivan. sedangkan Sakti ...," jeda Lintang meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Saat itu kondisi Sakti hang over, Bang.” Lintang menatap Mahen ingin tahu reaksi Kakak sahabatnya. Namun, Mahen terdiam berusaha menyimak apa yang disampaikan LIntang tanpa memotong.
“Siang itu Sakti memergoki Om Dewa bersama perempuan lain, tapi yang bikin Sakti kecewa adalah papanya tidak menyapa. Om Dewa seolah tidak menganggap dan mengenal Sakti. Karena itu Sakti melampiaskan ke alkohol. Bang, tolong tenangkan Sakti!” pinta Lintang mengakhiri pembicaraannya.
“Gue juga sama, Lin. Sama kayak Sakti kecewa sama Papa. Namun, tidak pernah memergoki secara langsung. Sedangkan Mama sepertinya sudah lama tahu, tapi selalu menutupinya. Kemungkinan malam ketika kalian datang itu, papa sedang menceraikan mama.” Suara Mahen terdengar begitu sendu dan menyayat hati Lintang.
“Gue paham kondisi Sakti sekarang kayak apa.” Mahen kembali menghembuskan napasnya dengan berat karena hatinya sama dengan sakti. Sama-sama terluka. Ia tidak menyalahkan Sakti atas ketidakpulangannya atau hang over. Namun, ia akan mencoba menjadi teman bagi Sakti, layaknya Lintang.
Gadis itu tidak bisa membayangkan jika itu terjadi padanya. Pasti ia akan lebih frustasai dari sakti. Sahabatnya itu masih memiliki kakak. Sedangkan dirinya anak tunggal. Siapa yang akan menjadi tempatnya curhat.
“Naudzubillah,” halau Lintang seketika berharap keluarganya baik-baik saja.
“Bang, kalian harus saling menguatkan. Aku Cuma bisa support apa yang aku bisa. Selebihnya hanya kalian yang bisa melakukannya,” hibur Lintang.
Gadis itu menegakkan punggungnya, ditatanya kaki jenjang seksinya dengan benar seperti yang pernah diajarkan di sekolah. Diraihnya gelas sirup di depannya.
“Bang, aku balik dulu ya!” pamit Lintang setelah menghabiskan segelas es sirup cocopandan buatan Mahen.
“Gak pamit Mama sama Sakti dulu?” ingat Mahen.
“Iya, gue ke atas dulu ya!” Lintang meninggalkan Mahen setelah ada respon anggukan dari cowok yang hanya selisih setahun dari sahabatnya itu.
“Tan…!” panggil Lintang setelah masuk ke kamar Sakti yang tidak ditutup.
“Lintang,” jawab Agnes.
Lintang menyempaatkan diri melirik sahabatnya tengah memejamkan kedua mata dengan pulas.
“Lintang pamit dulu!” Lintang mengulurkan tangan kanannya hendak mencium tangan Mama Sakti tersebut.
“Hati-hati,” balas Agnes saat Lintang mencium tangannya.
“Assalamualaiakum,” salam gadis itu dengan sendu.
"Waalaikumsalam," sahut Mama Agnes.
Ada keengganan sebetulnya meninggalkan rumah sahabatnya itu. Namun, ia tidak berhak mencampuri urusan keluarga mereka. Lintang juga yakin mereka bertiga perlu waktu untuk menyelesaikan besama tanpa campur tangan orang lain.
“Naik apa, Lin?” tanya Mahen begitu Lintang sudah turun dari kamar atas.
“Ojol, Bang.” Lintang menunjukkan aplikasi hijau yang setia menemaninya kemana-mana, karena gadis itu belum diizinkan membawa kendaraan sendiri.
“Padahal tadi mau gue tawarin nganter,” ucap Mahen.
“Elo mana pernah serius nganter,” ledek Lintang yang paham kalau Kakak sakti itu memang tidak pernah ada niat mengantarnya pulang sejak dulu.
“eh, ini serius.” sahut Mahen.
“Modus. Paling-paling ada cewek yang ditaksir di jalan seberang. Entar nganternya sekalian tepe-tepe.” ledek Lintang.
“Anjir lo, Lin.” Mahen terkekeh mendengar ledekan sahabat adiknya yang selalu benar itu.
“Udah dulu ya, bang. Ojolnya udah di depan,” pamit Lintang sembari melambai ke arah Mahen.
Cowok itu mengiring kepergian Lintang hingga ke tukang ojol yang menjemput.
“Hati-hati, Mas. Dia gak ada kloningan soalnya,” ucap Mahen dengan kocak kepada driver ojol yang dipesan Lintang.
“Jalan, Mas. Gak usah ndengerin dia!” perintah Lintang yang hanya diangguki dan disenyumi tukang ojolnya.
“jangan diculik ya, Mas.” Goda Mahen lagi sebelum ojol yang masih muda itu membawa Lintang meninggalkan rumahnya.
“Bye Bang.” Lintang melambaikan tangannya kepada Mahen.
Sementara dari lantai dua, sepasang mata elang milik Sakti menatap kepergian sahabatnya itu dengan tatapan sendu. Ada rasa tidak tega membiarkan gadis itu pulang sendiri bersama ojol. Namun, apa daya dirinya juga ingin menenangkan diri.
Sebetulnya ia tadi hanya berpura-pura memejamkan mata sengaja untuk menghindari Lintang. Setelah sahabatnya itu turun barulah ia membuka mata dan mengintip dari jendela kamarnya.
Saat ini mereka sekeluarga saling membutuhkan satu dengan lainnya. Beruntung Bang Mahen bersedia menemani sahabatnya itu. Walaupun ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Namun, ia percaya saja kepada Lintang. Ia yakin sahabatnya itu tahu mana yang terbaik untuknya. Pandangan sakti beralih kepada sang Mama setelah ojol yang membawa Lintang sudah tidak terlihat lagi.
“Ma …, Sakti harus bagaimana?” bisik Sakti dalam pelukan Agnes.
Wanita itu hanya bisa mengelus rambut putra kesayangannya itu dengan lembut.
“Kita harus kuat. Tunjukkan pada Papa bahwa tanpa dia kita juga bisa sukses!” sahut Mahen yang entah kapan masuk ke kamar Sakti.
***