Pulang

1368 Kata
Lintang menatap tajam ke arah Sakti yang menunduk dan terdiam. Sakti membiarkan sahabatnya itu terus berbicara sejak tadi. Tidak ada niatan sakti untuk menyanggah atau membalas semua pernyataan Lintang. Yang ia inginkan saat ini hanya kehadiran gadis itu, tidak peduli bagaimanapun suaranya yang terus meneror. “Udah?” tanya Sakti begitu Lintang mengakhir omelan panjangnya. “Udah, gue yang ngomel elo yang diem,” jawab Lintang. “Gue sampai gak tahu elo ngerti enggak ama yang gue omongin,” sambung gadis itu dengan wajah kesal. Sakti yang awalnya duduk di hadapan Lintang berpindah ke sebelah sahabatnya. Dikeluarkannya deru napas dalam beberapa kali lalu disandarkannya kepala ke bahu Lintang. “Lin, gue sakit hati ama Papa. Di depan mata gue dia gandeng perempuan lain. Bahkan pura-pura enggak kenal ama gue.” Dari meyandarkan kepala, Sakti memeluk pinggang Lintang.  Suaranya terdengar begitu memelas di telinga Lintang, seketika ada iba mendera hatinya. Ada rasa bersalah karena sudah menyalahkan Sakti atas ketidakpulangannya beberapa hari dari rumah Erik. “Gue belum siap ketemu nyokap ama bokap gue, Lin.” Kembali disandarkannya kepala ke bahu Lintang dengan posisi tetap memeluk gadis itu. “Pulanglah dulu, Sak. Bang Mahen emosi tingkat tinggi sama Bokap elo. Masa elo gak kasihan ama Tante Agnes, kalo dia kepikiran kamu terus sakit, gimana?” urai Lintang tanpa penolakan dengan pelukan sahabatnya itu. “Tapi Lin …,” “Gue anter!” potong Lintang. “Elo siap-siap, gih!” perintah Lintang tanpa ingin mendengar alasan Sakti. Gadis itu masih ingat bagaimana memelasnya suara Mama Sakti saat menelponnya beberapa menit yang lalu. Dengan sesenggukan ia meminta tolong dirinya untuk membujuk Sakti pulang. Karena panggilan dari Mama dan Bang Mahen tidak ada yang diangkat sahabatnya itu. Lintang menguarai paksa pelukan Sakti, ditelangkupkannya kedua telapak tangan ke pipi Sakti. “Elo masih percaya ama gue, kan?” kata Lintang meyakinkan Sakti. Ditatapnya wajah yang dua hari ini tidak terurus baik itu, bahkan terlihat sangat lusuh. Erik melaporkan padanya bahwa Sakti tidak pernah menyentuh makanan yang ia suguhkan. Ajaibnya begitu Lintang datang dan memerintahkan untuk makan barulah cowok berwajah mulus itu bersedia memasukkan makanan ke mulutnya. “Lin—“ “Believe Me! Okay,” potong Lintang sembari berbisik. “Gue temenin sampai elo tenang. Kalo elo gak bisa tenang di rumah, terserah elo setelahnya ….” Lintang menarik napas panjang dengan keputusannya. Bahkan ia sendiri sedikit terkejut dengan kalimat yang barusan ia keluarkan, karena ia yakin resikonya akan sangat besar. Namun, untuk menariknya kembali tidaklah mungkin. Sakti sudah terlanjur mendengar. Bahkan sahabat cowoknya itu sedikit menarik kedua sudut bibirnya tipis. “Okay, I believe you.” Sakti beranjak dari kursinya. “Tunggu gue ambil barang dulu,” ucap Sakti dengan langkah santai menuju kamar yang ia tiduri dua hari ini. Erik mengacungkan jempolnya kepada Lintang begitu Sakti sudah di dalam kamar. “Hebat lo, Tang. Bisa ngeyakinin cowok bandel itu,” puji Erik. Lintang hanya terdiam dengan sedikit senyum mendengarnya, tidak ingin banyak berkomentar di hadapan teman Sakti itu. “Rik, gue balik dulu ya! Makasi tumpangannya,” pamit Sakti sebelum keluar dari rumah Erik. Di tangan hanya ada kunci mobil otomatisnya, tidak ada barang lain lagi. Nyebelin gak sih, nunggu ambil barang ternyata yang diambil Cuma kunci doang. “Iya… segera pulang deh! Gua juga sudah eneg liat muka elo!” jawab Erik sekenanya. “Kampret elo!” umpat Sakti. “Baju elo gue pake dulu, ya! Ntar kalo yang di jemur kering elo balikin!” sambung Sakti tanpa rasa berdosa apalagi bersalah sedikitpun. “Anjir loo ya! Udah numpang pake nitip jemuran!” balas Erik dengan sengit, tetapi tidak sunggug-sungguh. “Makasi lo, say!” ucap sakti dengan nada genit. “Jijay! Udah deh buruan pulang sono!” usir Erik. Erik hanya terkekeh mendengar ucapan terima kasih Sakti yang terdengar genit. pengusiran Erik pada Sakti pun tidak membuat sakit hati, Karena ia tahu Erik hanya bercanda sama halnya dengan dirinya yang mengatai temannya itu. Padahal Sakti yakin tidak ada rasa keberatan sedikitpun pada Erik dengan kehadirannya di rumah itu. “Udah cepet pulang sono. Kasiyan nyokap elo!” ulang Erik mendorong Sakti keluar dari rumahnya. Lintang terkekeh melihat ulah Erik yang seperti  benar-benar mengusir mereka. “Sadis lo, Rik!” teriak Lintang sebelum masuk ke mobil Sakti. “Byee – “ Erik melambaikan tangannya begitu innova putih milik Sakti mulai keluar dari halaman rumahnya mengabaikan teriakan Lintang. *** Sakti berdiri ragu di depan teras rumahnya. Hatinya benar-benar belum ingin masuk rumah yang selama ini melindungi dan menjaganya dari semua bentuk kekejaman dunia luar itu kini seolah menjadi pintu yang siap mengirimnya ke neraka. Perasaan Sakti benar-benar seperti di aduk-aduk jadi satu. Tidak ada rasa yang dulu nyaman. Kepalanya terasa berat mengingat bagaimana Papa hanya menatap dirinya di parkiran mini market tanpa menyapa sedikitpun. Saat itu terlintas, siapa dirinya? Siapa dia? Benarkah dia Papa yang selama ini ia banggakan? Papa yang selama ini terlihat sangat setia dan begitu menyayangi Mama dengan tulus? Apa arti semua bagi dia? Andai bukan karena Lintang meyakinkannya tentang Mama yang rapuh, Sakti tidak akan kembali ke rumah yang dipenuhi drama rumah tangga tersebut. “Ayo—“ Lintang menarik tangan Sakti untuk masuk ke rumah. Sakti sedikit menahan pergerakan Lintang, “Sebentar.” “Okay.” Lintang menunggu beberapa saat dengan sabar. Sakti menenangkan hatinya ia berusaha mensugesti dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. “Ayo, masuk sekarang!” ajak Sakti setelah merasa sedikit tenang. Lintang mengangguk pelan, mengiyakan ajakan sahabatnya itu. “Assalamualaikum,” salam sakti sebelum membuka pintu rumahnya. “Waalaikumsalam,” sahut suara seorang wanita dari dalam. Begitu sakti membuka pintu, terdengar pekikan bahagia dari dalam, “Sakti … akhirnya kamu pulang juga, Nak!” Wanita itu menghambur memeluk putranya yang sudah dua hari tidak pulang. Rekor terlama Sakti mengungsi, karena cowok itu bukanlah tipe pemuda yang sering menghilang begitu saja dari rumah. Karena alasan tersebut Agnes menjadi khawatir dengan putra bungsunya itu. “Kamu kemana aja, Nak?” tanya Mama Agnes dengan menuntut Sakti duduk. Lintang hanya memperhatikan aksi ibu dan anak tersebut, bahkan saat dirinya belum disapa ia masih  maklum. Gadis itu mengekori langkah sakti dan Mamanya duduk di sofa ruang tamu. “Lintang, makasi yaa.” Mama Sakti menoleh ke arah Lintang setelah puas memeluk dan menanyai anaknya walaupun tidak ada satu pertanyaanpun dijawab. Karena sakti memilih diam seribu bahasa. Beruntung Mamanya termasuk ibu yang sabar, wanita itu tidak menyalahkan atau membentak anaknya. Bagi Agnes anaknya sudah mau pulang saja, ia sudah sangat bersyukur. “Sama-sama, Tan.” Senyum manis Lintang tampak membuat pesona tersendiri bagi ibu sahabatnya itu. “Sakti di mana dua hari ini?” akhirnya pertanyaan itu terlontar untuk Lintang, setelah putranya tidak menjawab. “Sakti aman kok, Tan. Dia di rumah Erik,” jawab Lintang berusaha menjawab dengan tenang. Agnes membalas senyum gadis itu dengan tenang. “Makasi, ya. Udah selalu ada buat sakti. Tante enggak tahu harus bagaimana kalo gak ada kamu,” ucap Agnes dengan suara menyayat. “Tan, Lintang gak keberatan. Apalagi soal Sakti,” balas Lintang sembari mengenggam jemari wanita paruh baya itu. Wanita yang sudah dianggap Lintang seperti Mamanya sendiri. Karena sejak Sekolah Menengah Pertama, Agnes sudah memperlakukan Lintang seperti ia memperlakukan Sakti. Jika Sakti dibekali nasi goreng maka Agnes akan membuatkan juga untuk dirinya. Karena Agnes tahu bahwa orang tua Lintang sering ke luar negeri. Gadis itu hanya tinggal besama asisten rumah tangganya. Bahkan terkadang Agnes memberi Lintang uang saku sama dengan Sakti. Kalau sudah begini, Sakti pasti akan cemberut. Rasa cemburunya pada Lintang akan hadir dan tidak segan-segan ia mendiamkan Lintang sampai Agnes menjadi penengah diantara mereka. “Bang Mahen!” sapa Lintang begitu Mahen – Kakak Sakti melintas. “Lintang,” balas Mahen mengurungkan niatnya ke dapur, kakak Sakti itu malah ikut nimbrung di ruang tamu. “Udah lama?” tanya Mahen begitu duduk di slah satu sofa yang tidak jauh dari Mama, Sakti dan Lintang. “Barusan.” “Nganter anak bandel ini pulang, kan?” Tunjuk Mahen ke arah Sakti yang masih terdiam. Lintang terkekeh mendengar tebakan kakak Sakti itu. “Pacar bukan, istri bukan kok mau-maunya belain anak ini!” omel Bang Mahen menatap Lintang yang masih terkekeh karena ia sudah sering mendengar omelan panjang kakak Sakti itu. “Bang, bisa ngobrol bentar gak?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN