Abimanyu memegangi perutnya yang berasa begah karena kekenyangan soto ayam ukuran jumbo yang dimakan berdua dengan Lintang.
Lintang yang menyaksikan kekasihnya tidak nyaman dengan perutnya hanya terkekeh. Merasa lucu karena kekasihnya itu tergoda dengan soto ayam yang ia pesan. Padahal tadinya Abimanyu sudah meragukan kesanggupannya menghabiskan menu inti sarapannya, yang berupa nasi soto ayam. Lebih gilanya lagi porsi yang dijual adalah porsi jumbo.
Rasanya memang enak dan membuat lidah ketagihan. Harganya pun ramah dikantong sesuai dengan porsi jumbonya.
Sedangkan Abimanyu tertarik dan tergoda dengan cara Lintang makan yang tampak nikmat lalu membuatnya ikut menikmatinya semangkuk berdua dengan Lintang.
“Sakit, Bi?” ucap Lintang dengan wajah dibuat memelas, karena ia masih merasa konyol dengan sikap Abimanyu yang bisa-bisanya tergoda kenikmatan soto ayamnya padahal sudah tahu perutnya bervolume terbatas.
“Banget, Beb.” Abimanyu melirik Lintang sambil memegang perutnya.
Ada penyesalan dalam hatinya sudah lancang menghabiskan soto ayam Lintang. Padahal awalnya ia hanya ingin mencicipi, eh ternyata sotonya bikin candu. Seperti Lintang yang seperti candunya. Menatap mata dan menghirup aroma tubuh Lintang adalah hobby baru Abimanyu saat merindukan ataupun bersama pacarnya.
“Salah sendiri pake acara tergoda,” ledek Lintang tanpa belas kasih, tetapi sebenarnya di dalam hatinya ia merasa iba.
“Abis enak pake banget, Beb.” Abimanyu malah mengedipkan satu matanya pada Lintang, tentu sja gadis itu sedikit terperanga melihatnya.
“Genit. Udah ah, kita balik sekarang!” ajak Lintang sembari menarik tangan Abimanyu.
Cowok hitam manis itu bukannya bergerak, tetapi ia malah mengenggam jemari Lintang. Seketika tubuh Lintang bergetar. Gelenyer aneh ia rasakan dengan gemetar. Gadis itu terdiam seribu gerak. Rasanya sangat aneh berada digenggaman lelaki lain selain Sakti.
“Jangan pernah lepasin genggaman tanganku, ya!” bisik Abimanyu.
Lintang masih mematung dan terdiam, suaranya seolah tercekat beton berpuluh-puluh ton. Sehingga terasa berat untuk keluar, walau satu kata. Padahal bibirnya sudah siap membuka. Namun, ternyata antara bibir, suara dan otak benar-benar tidak sinkron.
“jangan diem dong, Beb. Aku gak akan bisa nerima kalo kamu melepas tanganku!” bisik Abimanyu dengan suara beratnya.
Membuat kuduk Lintang meremang. Tubuhnya merinding mendengar permintaan Abimanyu. Sepele tetapi berat maknanya. Itulah yang gadis cantik blesteran Italia itu rasakan.
Setelah terdiam beberapa detik, Lintang mengangguk perlahan. Sebagai tanda bahwa dia menyetujui permintaan Abimanyu sembari membalas genggaman erat tangan kekasihnya. Ada kebahagiaan tersendiri di hati Abimanyu dengan reaksi Lintang. Senyumnya tidak pernah hilang dari bibir Abimanyu.
“Ya udah, yuk kita pulang sekarang. Udah siang juga. Kalo ditunda bisa tambah gosong kulitku ntar. Benar-benar kayak gula dan kopi seperti yang teman-teman ledekin,” Abimanyu menggandeng Lintang dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menarik sepeda gowesnya.
Begitupun lintang, tangan kanannya ia pasrahkan pada sang kekasih. Sedangkan tangan kirinya menarik sepeda gowesnya.
“Bi, aku beli rangin dulu!” pinta Lintang saat melihat penjual kue rangin agar Abimanyu melepas gandengan tangannya.
Tanpa melepas tangannya, Abimanyu menuntun gadisnya itu ke penjual kue rangin yang mangkal di trotoar.
“Pak, rangin lima ribu,” ucap Abimanyu sembari menyerahkan uang lima ribuan kepada penjual kue rangin.
Penjual kue rangin tersebut menerima uang dari Abimanyu dan dengan cekatan menyiapkan pesanan Abimanyu.
Bapak tersebut menuang adonan berbahan dasar santan dan tepung terigu tersebut ke sebuah cetakan berbentuk setengah lingkaran lalu dipanggang diatas sebuah tungku dengan perapian sedang. Aromanya begitu harum dan menggoda.
Bahkan para pengunjung lain sampai rela menoleh untuk mencari aroma khas tersebut.
Setelah mengangkat kue rangen yang baru matang dari cetakan, penjual tersebut memberi taburan gula diatas kue rangen pesanan Abimanyu. Sebuah kantong kresek membungkus jajanan tersebut.
Penjual tersebut menyerahkan hasil karyanya kepada Abimanyu. Sebungkus kue rangin klasik yang sangat jarang ditemui pada masa sekarang. Selain karena penjualnya yang semakin berkurang tetapi juga Karena kurangnya minat anak zaman sekarang pada jajanan tempo dulu.
Di belakang Lintang dan Abimanyu rupanya ada pembali lain yang turut antri.
Abimanyu pun gegas mengajak Lintang pulang setelah kantong plastik kue rangin berpindah ke tangannya, namun niat tersebut urung ia lakukan karena ponsel kekasihnya berdering dengan keras.
“Aku angkat dulu ya!” kata Lintang sembari menunjuk Id pemanggil di layar gawainya yang tertera nama Sakti di sana.
Abimanyu hanya mengangguk meskipun kesal, tetapi ia tidak bisa berbuat lebih jika itu tentang Sakti.
Lintang menjawab panggilan Sakti tanpa menjauh sedikitpun dari Abimanyu demi menjaga perasaan kekasihnya yang ia yakini sedang kesal. Tampak jelas dari raut wajahnya.
Bahkan sesekali ia melirik Abimanyu yang bersidekap memnunggunya mengakhiri panggilan tersebut.
“Kenapa?” tanya Abimanyu setelah Lintang menutup panggilannya, apalagi gadisnya itu membuang napas panjang berkali-kali.
“Sakti nyuruh aku ke rumah Erik,” jawab Lintang dengan jujur.
“Masih betah saja dia di sana?” Lintang hanya mengangkat bahu menanggapi komentar Abimanyu. Karena sampai saat ini ia belum menceritakan apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Bagi Lintang permasalahan sahabatnya itu cukup dia dan teman-teman Sakti yang tahu.
Untuk Abimanyu bukan kapasitasnya saat ini untuk bercerita. Apalagi info yang ia tahu hanya sepotong. Sakti belum menceritakan detail padanya. Belum lagi sahabatnya itu belum ingin pulang. Karena belum siap bertemu Papa dan Mamanya.
Belum lagi dari cerita Erik dan teman-temannya yang lain tentang pertengkaran kedua orang tuanya saat mengantar dirinya dari diksotik. Sakti beranggapan bahwa mamanya sudah tahu, tetapi tidak pernah bercerita dengan anak-anaknya sampai Sakti tahu dengan mata kepalanya sendiri,
“Jadi setelah ini kamu langsung ke rumah Erik?” sambung Abimanyu sekan tidak rela kekasihnya menemui Sakti.
“Iya,” jawab Lintang jujur.
“Aku antar!” titah Abimanyu.
Lintang menatap Abimanyu sedikit lama sebelum akhirnya menjawab, “Jangan dulu sepertinya ada yang ingin Sakti ceritain sama aku. Aku khawatir jika ada kamu dia malah gak jadi cerita atau malah bertahan lebih lama di rumah Erik.”
“Aku khawatir Tante Agnes kebingungan nyariin anak bandel itu!” Lintang mneyakinkan kekasihnya agar ia percaya bahwa saat ini Sakti hanya butuh dirinya.
“Baiklah,” baru juga Abimanyu mengangguk gawai Lintang kembali berdering.
“Tante Agnes - Mama Sakti,” Lintang kembali menunjukkan layar gawainya ke Abimanyu.
“Baru juga aku bicarakan. Udah telpon, kan?” sambung Lintang.
“Sebentar, ya!” izin Lintang, Abiamanyu kembali mengangguk pasrah.
Cowok itu benar-benar merasa menjadi orang ketiga yang mencuri hati Lintang dari Sakti. Abimanyu seolah tidak tahu apapun tentang gadis berstatus pacarnya itu. Bagaimana kehidupannya? Seperti apa pergaulannya? Siapa Sakti, sahabatnya atau kekasihnya?
Dengan perasaan berusaha ikhlas Abimanyu menunggu kekasihnya menyelesaikan percakapan dengan Mama dari sahabatnya – sakti yang katanya belum pulang sampai sekarang.
“Bi, kita balik sekarang ya!” ajak Lintang dengan cemas setelah menutup panggilan dari Mama Sakti.
“Ada apa?” tanya Abimanyu menarik tangan Lintang agar lebih mendekat.
Lintang yang belum siap berusaha menyeimbangkan tubuhnya, untung Abimanyu dengan sigap kembali menangkap kekasihnya yang sedikit oleng. Lintang bernapas lega tehindar dari jatuh. Suasana ramai membuat kegiatan Abimanyu luput dari perhatian. Aman.
“Mama Sakti, nyuruh aku membujuk Sakti pulang. Karena Abang Mahen nunggu,” jawab Lintang sedikit berbohong karena sebenarnya Bang Mahen sedang mengamuk berat dengan papa yang akan menceraikan mama mereka.
“kenapa sih harus kamu?” Suara Abimanyu terdengar sangat berat.
“Terus kalo bukan aku, siapa? Tante Agnes tahunya aku teman paling dekat Sakti,” balas Lintang seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Abimanyu berharap kekasihnya itu yakin dan percaya padanya.
“Ya sudahlah,” putus Abimanyu kembali memaksa hatinya untuk ikhlas.
“Makasi, ya Bi.” Senyum Lintang melebar mendengar jawaban Abimanyu walaupun gadis itu yakin pacarnya itu kecewa dan terpaksa.
Namun, apapun kondisinya Lintang tetap memberikan apresiasi atas keikhlasan terpaksanya.
“Besok kita lanjutkan kencannya!” janji Lintang.
“Satu box nasi goreng sosis, ya!” bisik Abimanyu.
“Beres.”
Keduanya mengayuh pedalnya dengan kecepatan tinggi menghindari panasnya matahari yang semakin terik. Sedangkan bagi Lintang kecepatannya karena berpacu dengan waktu untuk menemui Sakti dan Agnes.
***