Minggu pagi, Lintang sudah rapi dengan kaos hitam polos dengan motif garis putih diagonal dibagian depan, dipadu celana training warna hitam. Tidak lupa snaker putih yang bertahta elegan di kaki jenjangnya.
Ditatapnya cermin besar di meja rias. Dirapikannya rambut panjang sebahu yang dikuncir kuda dengan karet pita warna biru menampakkan wajah cantiknya yang semakin bersinar. Tidak lupa topi warna krem kesayangannya.
Ia berharap rencananya berjalan lancar hari ini. Setelah kemarin acara kencannya direcoki Sakti yang memintanya tetap stay di rumah Erik. Alhasil, malam minggu kemarin ia harus kencan bertiga dengan sakti dan Abimanyu di rumah Erik.
Lintang sempat manyun dan cemberut dengan ulah Sakti yang tidak pernah rela ia bersama Abimanyu. Ada saja rencana baik sahabatnya itu untuk menggagalkan kencannya. Untung Abimanyu mengerti dan paham kondisi Sakti. Jadi, Lintang tidak kesulitan menjelaskan keadaannya.
Kekasih Lintang itu, juga merasakan aroma permusuhan dari Sakti. Entah apa yang membuat sahabat Lintang itu begitu cemburu padanya. Padahal ia tidak melihat ada cinta dimata Sakti.
Hingga pemuda itu hanya berprasangka. Menurutnya, Sakti terlalu sayang pada Lintang. Ia tidak ingin Lintang sakit hati apalagi sampai patah. Bisa jadi, ia khawatir dirinya mempermainkan Lintang.
Tiga tahun lebih mereka bersahabat, melakukan aktifitas bersama-sama, sampai dirinya hadir diantara mereka berdua. Seolah-olah dirinya adalah pihak ketiga diantara Lintang dan Sakti. Abimanyu hanya bisa bersabar menghadapi sahabat terbaik Lintang tersebut. Satu-satunya upaya yang ia lakukan adalah meyakinkan Sakti, bahwa dirinya tidak sedang dalam mode iseng.
Tak ingin menyiakan kesempatan, tanpa sepengetahuan Sakti, Abiamanyu mengajak Lintang ikut car free day bareng. Karena ia juga menyadari kekasihnya itu kecewa berat kencan mereka tertunda untuk kesekian kalinya.
Lima menit kemudian, Lintang turun untuk pamit kepada orang tuanya kalau mau ikut car free day.
“Car free day sama siapa, Lin?” tanya Mama saat Lintang mencium tangannya.
“Abimanyu, Ma.” Lintang mencium pipi kiri dan kanan Mamanya.
“Gak sama Sakti?” heran Papa menatap putri semata wayangnya itu, bahkan menahan tangan Lintang untuk salim.
“Sakti masih sakit,” jawab Lintang asal.
Karena Papa selalu menanyakan keberadaan cowok mulus itu. Cowok yang mukanya lebih mirip cewek saking gantengnya.
“Ya udah hati-hati. Kenapa si Abimanyu itu gak jemput kamu di sini?” tanya Papa masih belum puas menginterogaasi tentang teman baru putrinya itu. Teman yang namanya masih asing di telinga beliau.
Karena memang selama ini Abimanyu belum pernah bertemu orang tua Lintang pas ngapel. Kalau tidak ke luar negeri, mereka pasti ada acara dengan klien. Seperti kemarin malam, ketika menjemput Lintang keduanya pergi dinner berdua.
Lintang sampai gedeg ketika dipamiti, “Orang tua gak ada akhlaq, masa anak ditinggal kencan.” Begitu umpat Lintang tidak terima jika Mama Papanya kencan.
“Nanti pasti jemput ke sini, kok!” sahut Lintang sembari keluar menunggu Abimanyu datang.
Tepat Lintang menutup pintu depan, terdengar suara bel ditekan dari arah pagar. Siapa lagi kalau bukan pujaan hati Lintang, Abimanyu – cowok yang dipanggil wayang oleh Sakti.
Abimanyu menyunggingkan senyum menawannya begitu Lintang yang membukakan gerbang bukan Bi Darsih atau Mang Ucup penjaga rumah Lintang.
“Masuk!” ajak Lintang.
Abimanyu menuntut sepedanya masuk ke rumah Lintang. Gadis itu bahkan membawa Abimanyu menemui orang tuanya.
“Om ... Tante … “ sapa Abimanyu sembari mengulurkan tangan berniat menyalami dan menyalimi keduanya.
“Abimanyu, Pa ... Ma … “ sahut Lintang Karen akedua orang tuanya bengong.
“Oh … “ jawab keduanya bersamaan menyambut uluran tangan kekasih putrinya itu.
“Mau kemana?” tanya Papa basa basi.
“CFD, Om. Kita berangkat dulu, Om!” pamit Abimanyu.
“Hati-hati!” pesan Mama sebelum kedua anak muda tersebut menjauh.
Setelah berpamitan keduanya mengendarai sepeda gowes masing-masing menuju area CFD atau Car Free Day.
Selama perjalanan Abimanyu terus membuat guyonan yang mengakibatkan kekasihnya tidak bisa menghentikan tawanya.
Tiba di lokasi CFD, keduanya kembali menggerakkan pedalnya mengitari luasnya area tersebut.
“Bi, balapan yuk!” tantang Lintang.
“boleh,” sahut Abimanyu.
“Kita putari area CFD ini dua kali. Yang duluan nyampe finish harus mentraktir yang kalah!” tantang Lintang.
Abimanyu terkekeh dengan usul Lintang karena mengandung palakan yang tidak biasa. Mana ada yang menang mentraktir. Dimana-mana tuh yang kalah yang kena hukuman. Namun, kekasihnya itu memang unik – paling bisa memutar balikkan keadaan.
“Okay deh!” Abimanyu mengiyakan tantangan Lintang walaupun jika dirinya kalahpun tidak mungkin ia meminta kekasihnya itu mentraktir.
Abimanyu sadar, kekasihnya itu memiliki fisik lebih kuat dibanding cewek seumuran dengannya.
“Yuk, Bi! Kita mulai. Ntar finishnya di sini juga!” seru Lintang.
“Okay, siapa takut?” balas Abimanyu sembari mengangkat jempol kanannya.
Setelah hitungan ketiga Lintang, keduanya mengayuh pedalnya sesantai mungkin, karena tidak ada niatan memenangkan pertandingan.
Di putaran kedua, Abimanyu merasakan perutnya meronta-ronta memohon kepada pemiliknya untuk segera diisi ulang. Diliriknya Lintang yang masih mengayuh dengan tenangnya tanpa terganggu apapun.
“Lin … !” panggil Abimanyu mendekat ke sepeda Lintang.
“Heem …. “ jawab Lintang karena masih fokus mengendalikan kayuhannya.
“Susul aku secepatnya. Kalo bisa nyusul dalam hitungan detik, kamu bole beli apapun yang kamu mau aku yang bayarin!” bisik Abimanyu penuh tantangan karena menahan lapar yang sudah diujung lambung.
“Okay.. kita lihat seberapa cepat kekuatanku!” balas Lintang.
Tanpa banyak omong, Abimanyu segera mengayuh sepedanya secepat mungkin. Lintang dengan gesit menyusul kekasihnya itu.
Lintang memang tidak diragukan kegesitannya, butuh waktu tiga detik ia langsung menyusul Abimanyu di garis finish.
Dengan napas tersenggal-senggal keduanya melakukan high five sembari terkekeh.
"Yuk, makan!" ajak Abimanyu cepat. Perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Cacing-cacing di sana sudah minta jatahnya.
Lintang tersenyum mendengarnya ajakan Abimanyu. Tanpa pikir panjang iapun menyusul Abimanyu ke sebuah tempat lesehan yang ada di area CFD.
“Mau makan apa?” tanya Abimanyu setalah keduanya duduk di tikar yang digelar seorang pedagang.
“Semanggi, dong!” pinta Lintang.
“Enggak makan nasi?” tanya Abimanyu keheranan.
“Nasinya ntar abis semanggi. Aku pengen soto ayam yang ada di sebelah itu!” Tunjuk Lintang dengan entengnya pada gerobak soto ayam.
“Alamak?” seru Abimanyu keheranan.
“Emang sanggup tuh perut?” sambung kekasih Lintang itu.
“Liat saja!” sahut Lintang.
Gadis itu memesan seporsi semanggi dan segelas teh hangat, sebagai menu pembuka sarapannya. Sedangkan Abimanyu memesan sepiring nasi pecel dan teh hangat.
Setelah pesanan Lintang dan Abimanyu datang, mereka segera menikmati makanan masing-masing.
Apalagi Lintang olahan daun semanggi yang disiram saus petis khas Surabaya membuat lidahnya menari dengan sempurna. Di topping krupuk puli yang gurih dan yang pasti kriuk-kriuk membuat siapapun ketagihan dengan cita rasa khasnya.
“Bi, mau cicip gak?” tawar Lintang pada Abimanyu.
“Boleh?” tanya Abimanyu.
“Bolehlah!” Lintang menyuapkan sesendok semanggi ke mulut kekasihnya.
Dengan senyum hangatnya, Abimanyu mengunyah makanan dari suapan Lintang.
“Gimana? Enak gak semangginya?” tanya Lintang.
“Enak,” jawab Abimanyu.
Sesuai keinginanya tadi, setelah menghabiskan semanggi. Lintang memesan soto ayam ke gerobak sebelah.
Ternyata porsi soto ayamnya luar biasa, jumbo. Lintang dan Abimanyu sampai terbengong-bengong menyaksikannya.
“Gimana? Masih sanggup?” tantang Abimanyu.
Lintang menatap kekasihnya itu dengan penuh keyakinan, “Sanggup.”
Dengan perlahan Lintang menyelesaikan menu utamanya pagi itu – soto ayam jumbo.
Abimanyu memperhatikan cara makan Lintang yang terlihat sangat nikmat dan menggugah selera.
“Lin, aku icip dong?” pinta Abimanyu dengan malu-malu.
“Cicip saja. Nih!” Lintang menyerahkan sendoknya kepada Abimanyu.
Cowok itu sedikit bingung, berharap disuapi lagi oleh Lintang. Ternyata hanya diangsuri sendok.
“Kenapa? Mau aku pinjamkan sendok ke tukang sotonya?” Lintang menatap bingung kekasihnya.
“Enggak, enggak perlu.” Ucap Abimanyu menerima sendok dari LIntang.
Abimanyu menyendok nasi dan kuah dari mangkuk Lintang. Satu sendok masuk ke mulutnya. Lidah Abimanyu merasakan rasa soto yang ternyata memang enak. Cowok itu menyendok kembali kedua kalinya. Lalu ketiga kalinya. Sampai keempat.
“Terus jatahku kapan?” goda Lintang menatap Abimanyu yang ketagihan soto ayam jumbonya.
***