Lima

1588 Kata
Evelyn sedang tidur jadi Tana memutuskan membantu Mbak Nani memilih pakaian yang sudah di laundry. Namun, tiba-tiba Mbak Nani mendapat telpon dari rumah mengabarkan anak lelakinya kecelakaan saat pulang kerja. "Mbak pulang aja biar ini Tana yang lanjutkan. Mbak telpon pak Elrama minta izin untuk pulang cepat" ucap Tana merasa kasihan. "Makasih ya, neng" Tana mengangguk lalu turut mendoakan agar keadaan anak Mbak Nina baik - baik saja yang langsung Mbak Nani amini. Setelah Mbak Nani pergi Tana yang melanjutkan pekerjaan yang tadi tertunda. Tinggal meletakkan pakaian bersih itu di kamar Elrama dan Evelyn lalu mengambil baju kotor untuk di laundry besok. Tana sudah selesai membereskan baju di lemari Evelyn tanpa membangunkan wanita tua itu yang sedang nyenyak terlelap. Tinggal milik Elrama. Tapi, Tana ragu karena ada perintah dari Elrama yang melarangnya naik ke lantai dua. Tapi ini masih siang. Tidak mungkin Elrama pulang jam segini. Yang harus Tana lakukan adalah melakukan pekerjaannya dengan cepat lagipula Tana punya alasan naik ke lantai atas. Untuk membereskan pakaian pria itu. Tana berdiri di depan pintu kamar Elrama yang bercat putih. Membuka pintu secara perlahan. Tana berdecak kagum melihat kamar Elrama. Sangat luas, mewah dan bersih. Kamar yang didominasi warna abu itu terlihat sangat nyaman. Terdapat sebuah pintu yang Tana yakini pintu kamar mandi dan sebuah walk in closet. Tana letakan pakaian Elrama sesuai jenis dan warna. Tana juga mengambil baju kotor yang ada dalam keranjang. Setelah selesai Tana buru-buru keluar dari kamar itu. Tapi, sebelum dia berhasil memegang handle pintu, pintu terbuka dari luar. Elrama berdiri di ambang pintu menatap Tana dengan alis terangkat satu. "Maaf, pak. Tadi saya cuma melanjutkan pekerjaan Mbak Nani membereskan pakaian yang sudah di laundry" jelas Tana. Elrama diam saja. "Saya permisi ke bawah" Baru beberapa langkah berjalan Elrama memanggilnya. "Tana" Tana berbalik menatap Elrama. "Iya, pak?" "Bisa tolong ambilkan obat, saya sedikit pusing" ucap Elrama berjalan gontai menuju ranjang. Elrama duduk di ranjang sambil memijit pelipisnya. Tana sekarang tahu kenapa Elrama pulang cepat. Karena lelaki itu sakit. Tana perhatikan juga wajahnya pucat. "Baik, pak, akan saya ambilkan" "Bapak sudah makan" tanya Tana mendapat gelengan dari Elrama. Tana berlalu dari sana pergi ke dapur mengambil makanan untuk Elrama. Tana belum masak untuk makan malam hanya tersisa sayur sop yang sudah Tana hangatkan. Tana kembali ke kamar Elrama dengan nampan berisi makanan, obat, apel yang sudah ia kupas, sebuah pisang dan juga segelas air hangat. Tana masuk ke kamar Elrama tak lupa mengucap permisi. Pintu kamar Elrama yang terbuka tak menyulitkan Tana yang membawa nampan dengan kedua tangannya untuk masuk. Tana melihat Elrama sudah meringkuk di atas kasur dengan selimut yang menutupi hampir seluruh badannya. Melihat kedatangan Tana, Elrama bangkit bersandar di kepala ranjang. "Makan dulu, pak, baru minum obat" Tanpa banyak protes Elrama menerima makanan yang diberi Tana. Memakannya tanpa selera. Di suapan ke tujuh Elrama sudah tak sanggup mengunyah lagi. "Sudah" Elrama menyerahkan makanan yang masih tersisa banyak itu pada Tana. Tana menerima lalu mengulurkan sebutir obat dan segelas air pada Elrama. "Hmm Tana?" ucap Elrama ragu-ragu menatap Tana. "Iya, pak" "Sejujurnya saya tidak biasa minum obat seperti itu" ucap Elrama membuat Tana mengeryit heran. "Biasanya Mami haluskan obatnya" jelas Elrama. Sebenarnya Elrama malu mengucapkan itu. Tapi, apalah dayanya yang tidak bisa minum butiran obat seperti itu. Tidak bisa tertelan yang ada malah ia muntah. "Tunggu sebentar" Tana berlalu dari sana lalu tak lama kembali dengan membawa 2 buah sendok. Lalu menghaluskan obat itu menggunakan sendok, mencampurkan sedikit dengan air. Elrama membuka mulutnya menerima suapan berisi obat dari Tana. Elrama langsung minum ketika obat itu sudah masuk ke mulutnya. "Mau makan buah?" tanya Tana melihat wajah Elrama yang seperti tersiksa setelah minum obat. "Boleh, pisang" Tana menyerahkan sebuah pisang untuk Elrama. "Bisa tolong ambilkan baju dan celana saya" Elrama memang masih mengenakan setelan kerjanya yang sudah kusut karena ia bawa tidur. Biasanya Elrama langsung mandi sepulang bekerja karena tak nyaman dengan tubuh kotor, tapi, kali ini berjalan untuk mengambil pakaian saja rasanya lemas. Tana mengangguk mengambil kaos berwarna hitam dan sebuah celana training panjang lalu menyerahkannya pada Elrama. Elrama menerimanya tak lupa mengucapkan terimakasih. "Kamu boleh keluar" Tanpa kata Tana keluar dari kamar Elrama. ***** "El kok belum datang, ya" ucap Evelyn saat sedang makan malam. Evelyn memang belum mengetahui bahwa putranya itu sudah datang dan sedang sakit. "Pak El sudah datang, Mi" "Kapan?" "Sewaktu Mami masih tidur" jelas Tana "Tumben cepet? Dikamar atau di ruang kerja dia kok belum turun?" tanya Evelyn heran. Biasanya sepulang kerja Elrama pasti langsung menghampiri Evelyn. "Pak El sakit, Mi" Evelyn tersentak kaget. Sangat jarang sekali putranya itu sakit. "Mami tenang, tadi sore sudah makan dan minum obat" Ucap Tana menenangkan Evelyn. "Dia mau minum obat?" tanya Evelyn. "Iya, dihaluskan" ucapan Tana mengundang kekehan geli dari Evelyn. "Memang enggak berubah anak itu, sudah tua masih takut minum obat" "Mami habiskan dulu makannya nanti kita ke atas lihat keadaan pak El" Evelyn menuruti ucapan Tana. Menghabiskan makanannya yang masih sisa setengah. Setelah selesai Evelyn pergi terlebih dahulu ke kamar Elrama. Sementara Tana membereskan meja makan dilanjutkan dengan mencuci piring. Lalu menyiapkan makanan untuk Elrama. Dikamar terlihat Evelyn sedang mengelus pipi putranya yang terlihat pucat itu. "Badan kamu panas banget" "Aku cuma kecapekan, Mi" jelas Elrama tak mau membuat sang Ibu khawatir. Takut berdampak pada kesehatan Evelyn juga. "Makan dulu pak lalu minum obat" Elrama menurut. Lagi-lagi baru beberapa suap Elrama menyudahi makannya. Tana yang memang tadi sudah membawa 2 sendok untuk menghaluskan obat. Kali ini Evelyn berinisiatif menghaluskan obat tersebut. "Kamu, Erlan, Elan, Papi kamu paling rewel kalo lagi sakit. Paling susah kalo minum obat, harus selalu Mami haluskan" gumaman Evelyn terdengar oleh Elrama maupun Tana. Elrama menghela nafas berat. Elrama menerima suapan obat dari Evelyn. Tana segera menyerahkan sebuah pisang pada Elrama setelah pria itu menelan obatnya. "Cepet sembuh, sayang. Mami sedih kalo kamu sakit" Evelyn memeluk Elrama sayang. "Iya, Mi. Mami sekarang istirahat, ya. Tana tolong antar Mami ke kamar" ucap Elrama. "Mami tidur sama kamu aja" ucap Evelyn yang langsung dapat gelengan kepala dari Elrama. "Jangan, Mi. El sedang sakit. El takut nanti Mami tertular" Elrama tentu tak mau tubuh tua Ibunya yang rentan akan penyakit terlalu lama dekat dengannya. "Tana tolong antar Mami ke kamar" Evelyn akhirnya menurut, dituntun Tana menuju kamarnya. "Elrama itu jarang sekali sakit. Dulu sewaktu masih ada adik-adik dan Papinya dia sangat manja ketika sakit, selalu minta dipeluk atau minta Mami pijiti semalaman" jelas Evelyn ketika Tana sedang membantunya berbaring di ranjang. Tana juga tak lupa menyelimuti Evelyn. "Tapi, semuanya berubah setelah mereka tiada apalagi setelah wanita itu mengkhianati El" ucap Evelyn sambil menerawang ke depan. Menatap langit-langit kamar. Evelyn memang pernah secara singkat menceritakan tentang Erlan dan Elan adik-adik Elrama dan juga Farhan Jamali Papi Elrama yang meninggal karena kecelakaan. Lalu tentang mantan istri Elrama yang selingkuh tak lama setelah kepergian Papi dan adik-adiknya. "Tana yang akan jaga pak El, Mi. Mami tenang saja" ucap Tana membuat Evelyn menoleh ke arahnya. "Makasih, ya, sayang" ucap Evelyn tulus. "Iya, Mi. Lebih baik sekarang Mami istirahat" setelah mematikan lampu utama dan mengucapkan selamat malam Tana keluar dari kamar Evelyn. Tana kembali ke kamar Elrama untuk mengambil peralatan bekas makan yang masih tertinggal di kamar Elrama. Mengetuk pintu itu tapi tak ada sautan, Tana memutuskan masuk saja. Tana melihat Elrama yang meringkuk kedinginan namun berkeringat. Tana berinisiatif mengecek suhu tubuh Elrama. Saat tangannya menyentuh kening Elrama Tana sampai nyaris menjerit kaget, tubuh Elrama sangat panas. Tana memutuskan untuk mengompres Elrama. Menyimpan peralatan bekas makan Elrama yang akan ia cuci besok saja. Lalu mengambil wadah yang sudah ia isi air panas dan handuk kecil. Tana duduk di samping Elrama yang masih menggigil kedinginan. Memeras handuk kecil yang sudah ia celupkan ke dalam air lalu menempelkannya di dahi Elrama. Sebelumnya Tana sudah mengatur suhu AC agar tidak terlalu dingin. "Shhhh" Elrama membuka matanya saat merasakan sesuatu yang basah mengenai dahinya. "Saya kompres ya, pak. Supaya cepat turun panasnya" ucap Tana pelan melihat mata Elrama yang setengah terbuka. "Dingin" gumam Elrama Tana membetulkan selimut Elrama yang sedikit tersingkap. "Pegal" gumam Elrama lagi. "Saya pijitin, mau?" di setengah kesadarannya, Elrama mengangguk. Tana mulai memijit dari kaki Elrama yang terasa dingin lalu pada tangannya. Sesekali Tana juga celupkan kembali kain kompresan ke dalam air. Sudah hampir 2 jam Tana memijit tubuh Elrama. Obat yang ia berikan dan kompresan sudah mulai bekerja karena perlahan suhu tubuh Elrama menurun. Melihat kaus Elrama yang sudah basah oleh keringat dan sepertinya Elrama pun tidak nyaman mengenakan kaus itu, Tana mengambil satu kaus lagi agar Elrama bisa ganti. "Pak" ucap Tana sambil sedikit mengguncang tubuh Elrama. Elrama membuka matanya dengan tatapannya yang sayu ia bertanya. "Ganti dulu bajunya, basah kena keringat supaya nyaman tidurnya" Tana membantu Elrama duduk. "Saya lemas Tana" ucap Elrama bersandar di kepala ranjang. "Maaf, pak" gumam Tana lirih seolah meminta izin pada Elrama untuk membantu membukakan baju pria itu. Tana menarik ujung baju Elrama melewati kepala pria itu. Sebelum memasangkan baju baru yang bersih Tana mengelap tubuh Elrama yang basah oleh keringan dengan handuk bersih. Dengan setengah kesadarannya, Elrama bisa melihat dan merasakan bagaimana dengan telaten Tana mengurusinya yang sedang sakit tak berdaya. Menatap wajah cantik Tana yang sedang serius itu tanpa sadar sebuah senyuman tipis terukir di bibir pucat Elrama. Tana kembali memakaikan baju Elrama setelah selesai membersihkan keringat pria itu. Lalu membantu Elrama berbaring. "Mau saya pijitin lagi?" Elrama hanya mengangguk dengan tawaran Tana tadi. Pijatan Tana beberapa saat lalu sangat membuatnya nyaman. Tana mencari selimut untuk ia gunakan sebagai alas duduk. Duduk dilantai menyandarkan tubuh sampingnya pada ranjang lalu mulai kembali memberi pijatan pada kaki Elrama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN