Elrama terbangun saat jam menunjukan pukul 2 malam. Panasnya sudah reda. Tapi, kepalanya masih terasa sedikit pusing. Badannya pun masih lemas.
Pandangan Elrama jatuh pada seorang gadis yang duduk tertidur bersandar di dibawah ujung ranjangnya. Elrama yakin gadis itu pasti kelelahan terlihat dari wajahnya. Meskipun tugas Tana di rumah ini hanya memasak dan membantu segala keperluan Evelyn, tapi, Elrama tahu gadis itu juga sering membantu ART membereskan rumah ini, merawat kebun bunga milik Evelyn. Bahkan bunga-bunga segar yang kini ada di vas bunga setiap ruangan Tana yang dengan rajin menggantinya setiap 3 hari sekali. Yang Tana petik langsung di kebun bunga milik Evelyn. Banyak perubahan setelah beberapa minggu Tana tinggal di rumah ini. Rumah terasa lebih hidup.
Elrama memutuskan pergi ke kamar mandi, kemihnya penuh. Ia pun belum membasuh muka sedari pulang kerja. Karena terlalu lemas Elrama langsung berbaring tidur tak memikirkan badannya yang kotor.
Tapi, sebelum itu dengan tenaganya yang belum sepenuhnya pulih, Elrama mengangkat tubuh kurus Tana. Membaringkannya di bagian lain kasurnya yang kosong. Dengan keadaan tubuhnya yang lemas saja Tana masih terasa ringan di gendongan Elrama. Gadis itu hanya menggeliat kecil di gendongan Elrama. Selebihnya tak terusik sedikitpun. Setelah menyelimuti Tana, Elrama berjalan menuju kamar mandi.
****
Tana menggeliat dalam tidurnya, perlahan mata dengan bola hitam legam itu terbuka. Beberapa bagian tubuh Tana terasa sakit, ia juga masih merasa kantuk. Tapi, ingat dengan kewajibannya membuatkan sarapan perlahan Tana bangkit duduk dari tidurnya.
Tana masih belum sepenuhnya sadar. Ruangan ini terasa lebih besar dari kamarnya. Tana edarkan pandangannya pada sekeliling ruangan ini. Tatapannya jatuh pada seorang pria yang sedang berbaring, tidur dengan nyenyak di sampingnya. Dengan refleks Tana berteriak.
Tidur Elrama terganggu karena mendengar kebisingan. Elrama mencoba duduk lalu bersandar pada kepala ranjang. Menatap Tana yang sedang menutup wajahnya dengan tangan dan selimut.
"Kenapa teriak-teriak, Tana" tanya Elrama dengan suara serak. Tana tak menjawab, enggan juga menoleh pada Elrama.
"Tana..."
"K-kenapa saya bisa tidur disini?" tanya Tana dengan suara bergetar masih enggan menatap Elrama.
"Bukannya sejak semalam kamu disini?"
"Tapi semalam saya duduk dibawah" ucap Tana tak mungkinkan Tana yang tiba-tiba berjalan dalam tidurnya lalu berbaring disamping Elrama.
"Saya yang pindahkan kamu" jelas Elrama.
"Kenapa?" tanya Tana tak habis pikir.
"Saya kasihan lihat kamu tidur dengan posisi seperti itu. Pasti tidak nyaman" jelas Elrama lagi.
"Tapi kenapa di sini?" tanya Tana.
"Karena saya tidak kuat untuk gendong kamu ke bawah, ke kamar kamu. Saya juga tidak mungkin biarkan kamu tidur di sofa" Elrama menunjuk sofa panjang berwarna hitam dengan dagunya. Tana mulai membuka tangan yang menutupi wajahnya. Menatap Elrama dari samping.
"Dan saya juga tidak mungkin tidur di sofa yang sempit itu. Badan saya bisa sakit. Tapi, kamu tenang saja saya letakan pembatas disini. Lihat pembatas ini masih di tempat" jelas Elrama menunjukan guling yang semalam ia letakan di tengah. Di antara mereka.
Tapi, Elrama masih melihat keraguan di wajah Tana. Seperti masih ada yang mengganjal dipikiran gadis itu.
"Saya tidak mungkin berbuat macam-macam pada kamu, Tanayu" ucap Elrama seakan mengerti dengan kekhawatiran Tana. Terbukti dengan gadis itu yang perlahan menarik napas lega.
"Semalam saya sakit Tana lain cerita jika saya sehat" mendengar ucapan Elrama dengan refleks Tana bangkit dari kasur. Berdiri di ujung ranjang.
"Saya bercanda, Tanayu" ucap Elrama terkekeh kecil. Tana sempat terpaku beberapa saat melihat tawa di wajah pucat Elrama. Meskipun tawa itu sangat kecil, tapi itu pertama kalinya Tana lihat. Beberapa minggu tinggal di rumah ini Tana hanya melihat ekspresi dingin atau marah dari pria itu. Elrama hanya akan tersenyum jika dengan Evelyn.
"Bapak sudah sehat? panasnya sudah turun?" tanya Tana. Elrama balas dengan anggukan.
"Sudah Tana. Terimakasih sudah merawat saya" ucap Elrama tulus disertai senyum tipis. Sangat tipis yang lagi-lagi jarang Tana lihat.
"Sama-sama, pak"
"Saya mau buat sarapan. Mau saya antar ke kamar atau..." sebelum Tana meyelesaikan kalimatnya sudah Elrama potong.
"Tidak usah. Saya sarapan di bawah saja" ucap Elrama. Tana mengangguk lalu berjalan menuju pintu tapi suara Elrama menginterupsinya.
"Tana boleh saya minta tolong ambilkan air hangat, tenggorokan saya sedikit sakit" Tana mengangguk patuh.
Setelah memberikan segelas air hangat pada Elrama, Tana pergi ke kamarnya. Membersihkan diri setelah itu menuju dapur untuk membuat sarapan.
Karena tadi Elrama mengeluh tenggorokannya sakit, Tana putuskan untuk membuat bubur ayam. Agar Elrama tak terlalu sakit saat menelan makanan.
Sebelum bubur matang, Tana melihat Elrama memasuki dapur. Duduk di meja makan dapur dengan tubuh yang lebih segar. Sepertinya pria itu baru selesai mandi.
"Sarapannya belum matang, pak" ucap Tana yang hanya dijawab gumaman tak jelas dari Elrama.
"Diminum, pak. Madu dan perasan lemon ditambah air hangat. Baik untuk tenggorokan" ucap Tana meletakkan segelas minuman pada meja di hadapan Elrama.
"Bapak mandi?" tanya Tana melihat rambut basah Elrama.
"Iya, saya tidak nyaman dengan badan berkeringat" jelas Elrama. Tana tahu saat sakit badan harus selalu tetap bersih tapi Tana hanya khawatir jika Elrama akan kembali demam. Melihat wajah sayu pria itu bahkan bibir Elrama terlihat memucat.
"Saya sudah lebih baik, Tanayu. Saya mandi air hangat" ucap Elrama. Tana hanya menghela nafas lalu Tana kembali melanjutkan masaknya.
Elrama meminum perasan lemon yang dicampur madu dan air hangat tersebut hingga tersisa setengah. Lalu, memperhatikan Tana yang sedang serius memasak. Awalnya Elrama sangat ragu membawa Tana, orang asing tinggal di dalam rumahnya.
Tanayu, perempuan itu sangat polos dan ceroboh. Tapi, melihat wajah berbinar Evelyn setiap bercerita dengan Tana, membuat Elrama yakin keputusannya tidak salah. Karena, beberapa tahun semenjak ditinggal Ayah dan kedua adiknya, Elrama bisa merasakan perubahan pada Evelyn. Menjadi lebih pemurung dan tertutup. Melihat Evelyn sekarang mengingatkan Elrama pada sosok Evelyn beberapa tahun lalu. Apapun akan Elrama lalukan untuk membuat sang Ibu selalu bahagia.
"Kamu jarang makan oh.. atau kamu diet. Lihat tubuh kamu terlalu kurus. Bahkan untuk ukuran saya yang sedang sakit kamu terlalu ringan untuk saya gendong" ucap Elrama menatap tubuh Tana dari belakang. Tubuh itu terlihat kurus dan pendek. Tinggi Tana hanya sebatas d**a Elrama.
"Saat saya masih kerja diluar makan 3 hari sekali itu berkah untuk saya. Sedari kecil saya sudah terbiasa menahan lapar. Makan satu hari sekali atau tidak makan sekalipun saya pernah. Hidup sebatang kara, saat kuliah meskipun dibantu beasiswa saya masih harus kerja untuk makan dan keperluan lainnya. Saat kerja dengan gaji yang tidak seberapa saya juga harus bagi untuk sewa kos dan biaya transportasi" Jelas Tana panjang lebar dengan mata berkaca-kaca. Tana memang sedikit emosional jika mengingat perjalanan hidupnya kebelakang.
"Maaf, Tanayu" Sesal Elrama. Tana hanya diam mencoba menghalau agar air matanya tidak jatuh.
"El, kok disini? sudah sehat, nak?" tanya Evelyn melihat putranya sudah duduk mania di meja makan. Evelyn mengecek suhu tubuh Elrama dengan telapak tangannya.
"Masih sedikit hangat" gumam Evelyn.
"Mami telpon dokter Aryo, ya" Ucapan Evelyn dibalas gelengan tegas Elrama. Semalam pun Evelyn sudah akan menghubungi dokter tersebut, tapi, Elrama melarangnya.
"I'am oke, Mi"
"Hari ini aku izin kerja. Aku cuma butuh istirahat" ucap Elrama meyakinkan.
"Tapi, El..." Elrama langsung saja menggenggam tangan Evelyn.
"Mi, trust me. I'am oke" Evelyn hanya mengangguk.
Tana lalu datang menghidangkan semangkuk bubur untuk Elrama dan semangkuk untuk Evelyn. Evelyn tak lupa mengucapkan terimakasih pada Tana. Mereka memutuskan makan di meja makan dapur yang hanya terdapat meja bundar dan 3 buah kursi yang melingkarinya. Tidak seperti meja makan utama yang panjang dan luas dengan banyak kursi mengelilinginya.
"Tana, kenapa sayang?" tanya Evelyn melihat wajah muram Tana. Sedari tadi pun Tana hanya menunduk lesu.
"Ah, aku gak pa-pa, Mi" Tana yang tadi sedikit melamun kaget mendengar ucapan Evelyn.
"Apa El bicara macam-macam sama kamu?" tanya Evelyn karena sebelum masuk dapur ia sedikit mencuri dengar mereka seperti sedang mengobrol.
Evelyn menatap pada Tana lalu Elrama. Keduanya hanya diam. Ia yakin terjadi sesuatu sebelum ia tiba.
"Aku baik-baik aja, Mi. Cuma kangen bapak, Ibu dan Nenek, sudah lama Tana belum berkunjung ke makam mereka" jelas Tana tak sepenuhnya berbohong. Ada saat-saat tertentu ia sangat merindukan 3 orang yang paling ia sayangi itu.
"Nanti kita kesana sama-sama. Iyakan, El" ucap Evelyn menatap Elrama, Elrama hanya mengangguk.