Penunggu Pohon Mangga

1768 Kata
Hari Andi mulai berjalan normal. Perlahan-lahan, ia menerima keadaannya, yang sedikit berbeda dari yang lain. Andi sedikit bersyukur, karena telah keluar dari rumah menakutkan itu. Karena itu, pengalaman pahit yang Andi alami. Meskipun kadang-kadang, bisa melihat mereka—tapi, mereka tidak kejam seperti makhluk yang berada di rumah bibi sebelumnya. Sama seperti di rumah sebelumnya, Andi memiliki kamar sendiri di rumah sang nenek. Pukul 21.30 sekarang. Setelah membasuh wajah, Andi kembali ke kamar. Menarik selimut, dan mulai memejamkan mata. "Andi.. Andi.." suara tanpa wujud, terdengar berbisik di telinganya. Andi membuka mata dan mengerutkan kening. "Siapa itu?" gumamnya. Andi segera duduk. Dan, mengedarkan pandangan. Namun, tidak terdengar lagi suara yang memanggilnya. Andi kembali memejamkan mata. "Andi.. Andi..." Suara itu terdengar lagi, bersama dengan bau busuk menyengat. Andi mengerutkan hidung. "Bau apa ini?" Andi mengendus-endus di sekitar. Bau itu tiba-tiba hilang sesaat, kemudian muncul kembali. Dan itu terjadi berulang-ulang. Sepintas, ia ingat kata-kata mendiang nenek. "Kalau kau mencium bau busuk, tapi tidak begitu kuat. Itu berarti Jin jahat. Dan dia ada di dekatmu. Tapi, kalau bau itu begitu kuat, berarti dia jauh." Andi mendesah kesal. Dan, mencoba untuk kembali tidur. Memiringkan badannya ke kanan. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Punggungnya terasa sangat dingin. Seolah ada yang bermain dengan rambutnya. Andi pun perlahan melirik ke arah belakangnya. "Andi.. Ayo, main denganku." Sosok wanita, dengan wajah setengah rusak. Dan penuh dengan belatung berbaring di belakangnya. Sejenak Andi melebarkan mata. Dan, "PERGI!!" pekik Andi. Kemudian membaca doa yang diajarkan oleh Eva—Ibunya. Sosok tersebut perlahan-lahan menjauh darinya. Lalu, menghilang menembus dinding. Andi mengambil napas dalam-dalam, lalu, menghembuskan perlahan melalui mulut. Meskipun, Andi sudah pindah dari rumah angker itu—tidak membuatnya bebas dari gangguan mereka. Namun, tidak se-ekstrem di rumah Bibi. Di sini.. mereka hanya ingin menunjukkan, jika mereka ada di tengah-tengah kita. Mereka juga makhluk kasat mata, yang hidup di sekitar kita. Mereka akan merasakan—jika kita dapat melihatnya. Dan beberapa orang di sekeliling Andi, menjadi terbiasa. Jika, ia mulai mengatakan hal-hal yang mengerikan. Pun, Andi juga mulai terbiasa dengan kehadiran mereka. Ketika kau berada di sebuah ruangan seorang diri, jangan berpikir kalau kau benar-benar sendiri pada waktu itu. Karena mereka berada di dekatmu, mengawasi mu. ** Lain lagi cerita Putra—adik Andi. Dia pernah mengalami rentetan kejadian yang sangat membuat geleng-geleng kepala. Entah kenapa, keluarga Andi, selalu dekat dengan kejadian mistis. Banyak tetangga bilang, kalau rumah peninggalan kakeknya inilah yang bermasalah. Gara-gara kebun belakang rumah mereka, adalah kuburan umum. Ada juga yang bilang, karena buyut dan kakeknya dulu suka melakukan ritual mistis, yang entah apa tujuannya. Di rumah ini— memang auranya beda dengan rumah lain. Di setiap pintunya, ada gulungan putih yang di paku. Entah, apa gunanya. Yang pasti setiap ada yang bermalam di sini, selalu saja berakhir dengan cerita mistis. Pernah ada salah satu teman Andi, yang menginap di sini. Katanya, dia mendengar suara orang-orang berisik. Seperti sedang mengobrol. Dia coba mencari sumber suara, yang ternyata dari depan rumah Andi Karena penasaran, siapa yang tengah malam begini masih saja bergosip. Ibu-ibu kurang kerjaan, pikirnya. Sampai di ruang tamu, dia celingukan melihat depan, karena memang pintu Andi terpasang kaca bening yang dapat langsung melihat ke luar. Setelah memeriksa, katanya dia segera berlari kembali ke kamar dan mencoba tidur. Karena tidak ada siapa-siapa di luar rumah. Mendengar cerita itu, Andi hanya tersenyum. Tidak menuduhnya berbohong. Karena setiap malam, itulah yang Andi dengar. Ada lagi cerita teman yang lain. Waktu masih SMP. Teman Andi senang sekali gowes tengah malam. Dan, selalu lewat rumah Andi. Karena memang, depan rumah Andi adalah jalan raya nasional. Waktu itu, malam tahun baru. Seperti biasa, dia bersepeda bersama teman-teman kampungnya. Biasanya, saat tiba di depan rumah Andi— ia selalu berteriak memanggil nama Andi. Namun saat malam itu, dia tidak memanggilnya. Tapi, menegurnya. Andi yang mendengarkan ceritanya waktu di sekolah, segera mengerutkan dahi. "Menegur bagaimana?" "Iya. Saat aku lewat, kau duduk di depan rumah. Pakai baju merah. Mana gelap lagi. Lampu teras tak menyala. Kurang kerjaan sekali. Enggak takut?" "Nah, buat apa juga, aku di luar rumah tengah malam? Gelap-gelapan pula. Aku juga enggak punya baju merah." "Loh, serius Andi? Jangan membuatku takut!" "Sekarang aku tanya. Saat kamu tegur, aku balik menegur?" "Enggak. Kamu cuma diam." "Nah itu. Mana mungkin aku." Sejak saat itu, teman Andi tidak mau lagi bersepeda malam. Banyak juga orang pintar atau yang populer di sebut dukun, datang ke rumah Andi. Katanya, mereka bisa mengusir hantu-hantu jahat yang ada di sini. Andi hanya bisa terkekeh saja. Tapi, yang membuat aneh adalah— Semua dukun yang kemari selalu bilang, "Tempatnya itu, ada di sumur dalam rumah kamu." Bagaimana mereka tahu kalau di dalam rumah Andi ada sumur? Apa mungkin mereka membobol rumah Andi? Tapi, tidak mungkin. Sumurnya berada dalam rumah Andi. Di mana setiap malam, pintu selalu terkunci oleh sebuah kayu besar. Memang, ada sumur tua di bekas kamar mandi dalam rumah Andi. Dulu sumur itu, menjadi sumber air untuk keluarga mereka. Sampai sekarang pun, masih berfungsi. Tapi, sumur itu sudah di tutup oleh Eva. Yang konon katanya, jika ingin menutup sumur, harus dengan semacam ritual. Jika tidak, mereka akan marah. Eva mengabaikan itu. Sampai pada akhirnya, kejadian demi kejadian terjadi. *** Beberapa tahun berlalu. Andi sudah menikah. Dan, mempunyai satu anak laki-laki yang ternyata terlahir dengan predikat "Indigo". Tapi, kali ini.. Kita tidak ingin bercerita tentang anak Andi. Melainkan tentang pengalaman mistis Putra, yang sudah beranjak remaja. Setelah menikah, Andi memiliki rumah sendiri, di kota lain. Sedangkan Rendi—kakak Andi menetap di Surabaya. Tinggallah Putra, Eva dan suami baru Eva, ada di rumah itu. Untuk mengisi waktu luang Putra—Eva sengaja membelikan anak bebek untuk di ternak. Toh, nanti hasilnya akan di berikan pada Putra. Kebun belakang rumah mereka, cukup luas untuk di buat kandang bebek. Bahkan bisa di bangun 1 rumah lagi. Namun, sayang, tak ada yang mau membangun rumah di situ. Karena tepat di balik pohon bambu yang bergerombol itu, adalah kuburan umum. Dulu, pagar rumah belakang masih terpasang. Sejak ada, hujan angin yang cukup deras, pagar itu roboh, sehingga jika berdiri di kebun belakang, gundukan tanah dan batu nisan itu, tampak jelas di mata. Untuk memudahkan Putra, sang ibu sengaja membangun sebuah gubuk kecil. Bisa di gunakan untuk beristirahat. Karena rawan sekali, kalau bebek-bebek itu di tinggal waktu malam. Pencuri bisa masuk dengan leluasa. Untuk memasang pagar saja, harus menghabiskan uang puluhan juta. Dan, kondisi keuangan Eva sedang tidak bagus. Setiap malam, Putra selalu memanggil teman-temannya, untuk menemaninya saat berjaga malam. Pada awalnya, semua berjalan normal. Tidak ada gangguan apa pun. Sebelum, terdengar suara tangisan meringkih perempuan, di atas pohon mangga. Dari awal, Putra sudah menyadari. Jika suara itu, bukanlah suara manusia. Dia berusaha mengabaikannya. Namun, suara itu semakin kencang. Satu temannya yang berada di situ, tertidur pulas. Hanya asap rokok yang menemani ketakutan Putra. Merasa kesal, karena suara tak kunjung hilang. Dia bergumam, "Jangan ganggu! Aku di sini itu cari uang! Bukan main-main!" Suara tak terdengar lagi, berganti suara langkah kaki yang terdengar sangat berat. Seperti suara dentuman. DUM! DUM! DUM! DUM! Putra mulai kesal. Terlebih saat 'dia' meniup tengkuk Putra. Sontak, Putra mengeluarkan sejurus kata-kata indah. "SIALAN!! Jangan ganggu aku!" Kemudian, dia membangunkan temannya, dan seketika itu gangguan hilang. Esok paginya, dia bercerita pada Eva. Soal gangguan tersebut. Eva pun tidak percaya. "Kalau ibu, enggak percaya—nanti malam, coba tidur di belakang sama bapak." Eva menyetujui hal itu. Malam yang dingin pun di lalui oleh Eva. Saat subuh menjelang, Eva pergi ke kamar Putra. "Le, bangun. Ikut ibu, memeriksa bebek-bebekmu." *Le: Nak. Putra pun bangun. Pergi ke kandang bebek bersama Eva. "Iya, le. Kamu benar. Dia menangis semalam." "Kan.. Aku bilang juga apa." Setelah kejadian itu, Eva tidak mengizinkan Putra untuk berjaga sendirian. Dia pun mengundang teman sebanyak-banyaknya. Sekitar ada 5 orang termasuk dia. Malam pertama pun, di lewati dengan normal. Mereka bisa tidur nyenyak. Meskipun, ada suara-suara berisik di kandang bebek. Seperti ada yang melempari batu. Putra mendengar itu. Namun, dia menyerah melawan rasa kantuknya. Dia berpikir, esok pagi saja dilihatnya. Keesokan pagi, dia buru-buru masuk ke kandang bebek. Betapa terkejutnya dia, melihat beberapa bongkahan batu yang besar berada di dalamnya. Beruntungnya, bebek-bebek kecil itu selamat. Kecurigaan mulai tampak dari situ. Ini benar orang—atau makhluk halus? Kalau orang, jelas dia tidak sendirian. Bongkahan batu ini cukup besar. Sulit di nalar, kalau pelakunya satu orang. Merasa cukup aneh, malamnya dia berusaha berjaga. Masih bersama ke empat temannya. Suara berisik, kembali terdengar di kandang. Berbekal senter, mereka segera berlari ke arah kebun yang berdekatan dengan kuburan, untuk mencari pelaku pelemparan itu. Mereka berpencar. Dua ke barat. Dua lagi ke timur bersama Putra. Berjalan beberapa langkah, Putra melihat seseorang yang besar tengkurap di bawah. Berniat untuk menangkap seseorang itu, Putra membungkukkan badan. Lalu, BUG! Ada yang memukul tengkuk Putra, sampai dia terhuyung. Dan, dia melihat sesosok besar hitam berlari cepat di depannya. Teman-temannya yang mendengar suara dia di pukul segera berkumpul. "Put, ada apa? Kamu enggak apa-apa?" "Kalian tunggu di sini." Rasa marahnya mengalahkan rasa takutnya. Dia berjalan ke arah kuburan, seorang diri. Mengarahkan senter ke berbagai arah. Tidak ada satu pun orang. Tidak ada jejak siapa pun. Dia pun baru sadar. Kalau, yang di kejar nya tadi bukanlah manusia. Entah Jin atau Genderuwo. Setelah itu, esoknya berjalan normal kembali. Tidak ada lagi gangguan di kandang. Sudah tidak ada yang melempari kandang. Namun, anehnya, saat malam, ia bermimpi ada seorang bapak-bapak datang ke rumah. "Le, aku minta bebek mu sedikit, ya? Aku lapar." Tanpa persetujuan dari Putra, ia berjalan ke kandang. Selang beberapa menit ia kembali. "Sudah, le. Terima kasih, ya." Anehnya, dia kembali tanpa membawa bebek-bebek itu. Saat paginya, Putra terbangun dan melakukan rutinitas paginya. Memberi makan dan minum bebek-bebeknya. "Astagfirullah," katanya. Beberapa bebeknya mati tanpa sebab. Bercerita lah dia pada Eva. "Coba, nanti malam kamu lakukan seperti yang ibu perintahkan, ya." Malam menjelang. Sekitar pukul 20.00. Dia jongkok di bawah pohon dekat tempat sampah. "Siapa pun yang ada di sini. Aku tidak berniat mengganggumu. Aku di sini hanya bekerja. Mencari uang. Aku juga tidak bisa kasih kamu apa-apa. Tapi, aku bisa mendoakan mu. Agar, di alam mu sana, kamu baik-baik saja. Di ampuni dosa-dosa mu sama Allah. Aku hanya minta bantuan mu. Tolong jaga kandang ku." Setelah mengatakan itu, Putra membaca Al-Fatihah, Ayat kursi dan beberapa surat pendek. Jika ada yang bilang Mbak Wewe Gombel itu buah dadanya menggelambir. Itu omong kosong. Ya, Putra melihat penunggu pohon yang ada di belakangnya saat ini. Sosok Wewe Gombel. Sepertinya, ia mendengar apa yang di ucapkan Putra. Mbak Wewe terbang dari belakang Putra. Mengitari atas kandang lalu menghilang. Bagaimana sosoknya? Yang pasti, bukan buah dadanya yang panjang. Melainkan, tangannya yang menggelambir, menjuntai sampai bawah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN