Kain Putih Panjang

2097 Kata
“Assalamualaikum,” salam Andi. Sambil melepas sepatu kerjanya. Andi sekarang tinggal di sebuah perumahan, dengan bangunan yang tidak terlalu besar. Pun, tidak terlalu kecil. “Wa'alaikumussalam. Kok tumben sekali, Ayah pulang malam?” tanya Rindi—Sang istri. “Iya. Tadi tiba-tiba ada audit. Mau tidak mau, harus lembur.” Andi bekerja di salah satu bank swasta, di kotanya. Mungkin sekitar 2-3 tahun, ia bekerja di tempat itu. Gajinya yang tidak terlalu besar—coba diaturnya agar bisa mencapai akhir bulan. Sementara Rindi, sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga, yang juga memiliki usaha daring. Berdagang makanan siap saji. “Ya sudah. Ayah mandi dulu. Aku siapkan makan malamnya dulu.” “Ibu masak apa?” “Oseng tahu dan tempe. Hehe.” Andi tertawa kikuk. Bukan tidak suka dengan masakan sang istri. Tapi, sudah 7 hari ini—Rindi masak dengan menu yang sama. Rindi baru saja masuk ke dunia pernikahan—yang di mana semua baru baginya. Menjadi seorang ibu dari anak laki-laki berusia 4 tahun. Menjadi seorang istri, yang harus melayani suami. Sewaktu masih lajang—Rindi memang malas untuk membantu Ibunya memasak. Akibatnya, sekarang ia harus belajar dari nol. Andi masuk ke dalam kamar. Melepas kemejanya. Dan, di gantungkan di belakang pintu. Meyapa sejenak, anak laki-lakinya—yang menonton TV. “Ayah!” pekik Diko, yang sedang di fase banyak mengoceh. “Hei, jagoan Ayah! Ayah mandi dulu, ya? Nanti, Ayah temani lihat TV.” “Ya,” jawabnya, dengan suara menggemaskan. Andi berjalan keluar. Belok ke kiri. Melewati satu kamar. Dan, melewati pintu belakang, yang dekat dengan ruang tengah—serta ruang tamu, yang menyambung. Belok ke kiri. Berjalan melewati dapur kecilnya, di mana Rindi tengah menghangatkan masakannya. Mengambil handuk, yang tergantung pada tali di atas kolam ikan. Lalu, berbalik badan. Berjalan lurus. Melewati dapur lagi. Dan, berdiri di depan kamar mandi. Membaca do’a. Lantas, masuk dengan kaki kirinya. Belasan menit kemudian, Andi keluar. Menggosok-gosok kepalanya dengan handuk. Masakan sudah siap di ruang tengah. Di letakkan pada karpet merah, yang tak begitu lebar. Karena mereka, tak memiliki sofa maupun kursi. “Kamu sudah makan?” tanya Andi pada Rindi, yang duduk di depannya. “Sudah. Bareng sama Diko tadi, Mas.” Tak lama kemudian, Diko keluar dari kamar. Wajahnya gelisah. Melompat-lompat. Sambil meremas celananya. Tanda ia ingin ke kamar mandi. “Bu.. bu..” panggilnya. “Haha. Diko mau ke kamar mandi?” tanya Rindi. Diko mengangguk. “Ya sudah. Lepas celananya.” Diko segera melepas celananya. Dan, berlari ke kamar mandi. Rindi mengikuti dari belakang. Di detik selanjutnya, Diko menangis. Rindi menggendongnya seketika, setelah membasuhnya. Membawanya keluar dari kamar mandi. “Ada apa? Kenapa kamu menangis?” tanya Rindi, sembari berjalan mendekati suaminya, yang lahap makan. Diko menunjuk kamar mandi. Sambil terus menangis. Andi segera meletakkan piringnya. “Kemari. Ayah pangku.” Rindi memberikan Diko pada Andi. “Ada apa di kamar mandi? Hantu?” Diko mengangguk. “Diko takut? Wajahnya menyeramkan?” Diko kembali mengangguk. “Hmm.. Karena itu, kan? Ayah memberitahumu. Jika, mau masuk kamar mandi, harus berdo’a. Agar Allah melindungi Diko. Sudah tidak apa-apa. Jangan menangis. Nanti biar Ayah pukul hantunya,” kata Andi. “Sekarang.. Diko tidur, ya? Sudah malam. Jangan lupa berdo’a.” Diko menghentikan tangis. Dan, kembali ke kamar. ** Pukul 22.00 saat ini. Diko sudah tertidur pulas. Sedangkan Rindi dan Andi, masih menonton TV. “Mas..” “Hm?” “Seharusnya, Mas jangan menakuti-nakuti Diko seperti itu.” “Heh? Menakut-nakuti bagaimana?” “Ya, tadi. Bilang ada hantu.” “Nah, kalau memang dia lihat hantu, bagaimana? Masa Mas harus bohong?” “Ya, tidak juga. Cuma bisa bilang yang lain. Kan, hantu itu enggak ada, Mas.” Andi mendengus. “Kamu masih enggak percaya, Rin?” Sejak dulu, Rindi memang tidak percaya dengan adanya makhluk yang tak bisa dilihat dengan matanya. Ia berpikir—semua yang dilihat orang lain itu, hanya imajinasi saja. Andi tak pernah mempermasalahkan itu. Pun, tak ingin memaksa Rindi untuk percaya, dengan penglihatan Andi. Seperti halnya, saat mereka baru pindah ke kawasan perumahan ini. Keduanya jalan-jalan malam, di sekitar rumah. Andi yang memang suka bicara tanpa di pikirkan dahulu, menjelaskan pada Rindi—tentang yang di lihatnya. “Di sebelah pos kamling itu—ada kuntilanak. Lagi jongkok.” “Oh,” jawab Rindi. Singkat. Dan, datar. “Nah, di pohon itu—ada pocong, Rin. Kakinya lagi bergerak-gerak.” “Haha. Pocongnya lagi ayunan, Mas?” “Kamu enggak takut, Rin?” “Enggak, Mas. Hantu itu enggak ada. Kamunya saja yang mengada-ada.” “Haaah. Terserah kamu saja, Rin. Berdebat pun, Mas akan kalah. Wanita itu maha benar.” “Hehe.” ** “Enggak, Mas. Sesuatu yang enggak bisa di lihat mata itu enggak nyata.” “Berarti kamu enggak percaya Tuhan, dong?” “Ih, Mas. Beda kali sama yang itu. Kalau Tuhan aku percaya sekali.” “Sebenarnya.. Mas juga enggak mau percaya sih, Rin. Tapi.. Sejak kecil—Mas, sudah bisa lihat hantu.” “Hantu apa, Mas? Kuntilanak? Pocong? Seperti di TV?” “Enggak.” “Terus?” “Hantu di kamar mandi.” “Hantunya mandi?” “Hehe. Tidak juga, Rin.” “Terus bagaimana, Mas?” “Waktu kecil—keluarga Mas, tinggal di rumah kontrakan, yang besar banget. Rumahnya di pinggir jalan. Tapi, saat kamu masuk ke dalam rumahnya—hawanya itu berbeda. Semacam dingin dan lembab. Dan.. Hantu suka dengan kondisi rumah seperti itu.” “Banyak hantunya?” “Bisa di katakan begitu.” “Mas, sering di ganggu?” “Sekitar 10 tahun usia Mas, waktu itu. Mas, belum paham soal do’a-do’a. Kalau mau pergi ke kamar mandi—langsung saja masuk.” Andi yang ketika itu masih kecil, buru-buru masuk. Karena perutnya sudah mulas sekali. Sejurus angin, sudah berkali-kali, di luncurkan dari pantatnya. Andi bergegas mengunci kamar mandi. Dan, melepas celananya. Alih-alih, segera jongkok—Andi tercengang. Melihat ke lubang WC. Di mana ada sebuah tangan pucat—muncul dari situ. Seketika saja, perut mulasnya tidak di rasa. Andi keluar kamar mandi, tanpa memakai celana. “Haha.” Rindi tertawa terbahak. Andi meliriknya sinis. “Lucu menurut kamu?” Rindi mengangguk. Sambil memegang perutnya, yang kram. Karena tertawa terpingkal. “Lagian, malam-malam kenapa BAB?” “Rin.. Kejadiannya itu jam 09.00 pagi.” “Hah? Serius, Mas?” Andi mengangguk. “Bukannya hantu itu datangnya malam?” “Itu Cuma akal-akalan manusia saja. Siang dan malam. Sama saja. Hantu muncul di saat ia suka.” “Terus-terus, Mas. Ada cerita lagi enggak?” “Katamu, enggak percaya?” “Memang. Tapi, ceritanya seru.” “Banyak, Rin. Kejadian mengerikan waktu tinggal di rumah itu.” Rendi, Andi dan Putra. Adalah 3 bersaudara. Dari Eva dan Heru. Ketika itu, orang tua mereka belum berpisah. Jadi, setiap hari selalu terasa bahagia. Kondisi ekonomi mereka pun mumpuni. Eva hanya sebagai Ibu rumah tangga. Kadang juga, menjahit pakaian. Sementara Heru, bekerja di sebuah kecamatan. Sebagai salah satu PNS di sana. Bahan pangan pun tidak semahal sekarang. Pukul 19.00 malam. Ketika itu, Eva dan Heru tengah keluar untuk membeli makanan. Sementara Andi dan Rendi, sedang menonton TV. Putra yang masih kecil tengah bermain sendiri, di ruang tamu. Berlari-lari sendiri. Sambil tertawa-tertawa. “Mas, antar ke kamar mandi. Mau kencing,” kata Putra, pada Andi. Andi yang semula berbaring, kini berdiri dengan malasnya. Berjalan menjauh dari ruang tengah. Berdiri dengan berkacak pinggang, di depan kamar mandi. Sementara Putra, sudah berada di dalam. Gemericik air terdengar. “Mas Andi mana?” tanya Putra pada Rendi. “Kan, antar kamu ke kamar mandi,” jawab Rendi. Masih konsentrasi menonton TV. “Huh?” Rendi tergelak takut kemudian. Menengok pada Putra, yang masih berdiri di sampingnya. “Aku enggak ke kamar mandi,” kata Putra. Rendi terkesiap. “ANDI!” teriaknya. Jarak kamar mandi tak begitu jauh. Dan, bisa terlihat dari tempat Rendi menonton TV. Andi segera menengok ke arah Rendi. Dan, terbelalak melihat Putra. “Ko-Kok.. Pu-Putra di situ? Lantas, yang di kamar mandi—siapa?” Andi menggelak ludah takut. Menatap pintu kamar mandi. Masih terdengar gemericik air dari dalam. Dan, terdengar suara berdeham seorang pria, dari dalam kamar mandi. Suaranya terdengar berat dan sangat kencang. Andi segera menjerit ketakutan. Lalu, berlari ke depan rumah. Rendi dan Putra menyusul. ** “Sungguh, Mas? Kok bisa mirip Putra?” “Itu namanya jin, Rin. Jin itu bisa menyerupai manusia.” “Ah, begitu.” Rindi buru-buru menampar Andi, setelah mengatakan itu. Andi mengernyitkan dahi. “Astaga, Rindi! Sakit! Kenapa, sih?!” Rindi terkekeh. “Hanya memastikan, kalau kamu Mas Andi yang asli.” “Gila kamu, Rin.” “Hehe. Ya, maaf.” “Sudah cepat tidur. Hampir tengah malam.” “Siap! Mas, juga cepat tidur. Jangan begadang terus.” “Iya. Setelah film ini selesai—Mas akan tidur.” “Ya sudah. Aku tidur ya, Mas?” “Iya.” Rindi berdiri. Mencubit pipi Andi kemudian. “Rindi!” “Hehe. Memastikan lagi.” Andi hanya menggeleng dengan decakan kesal. Rindi tidur bersama Diko, di kasur atas. Sementara Andi, harus mengalah. Tidur di kasur bawah. Usai, menancapkan kabel pengisi daya pada ponsel—Andi mengecilkan volume TV. Dan, kembali menonton film aksi, yang di putar salah satu stasiun TV. KRINCING! KRINCING! Terdengar suara bergemerincing, tak lama kemudian. Suaranya terdengar sangat jauh. Andi mengedarkan pandangan. Dan, menajamkan indera pendengarannya. KRINCING! KRINCING! Suara itu semakin terdengar mendekat. Dan, berhenti tepat di depan rumah Andi. Andi yang merasa penasaran pun, keluar dari kamar. Dan, menilik ke halaman depan. Lewat tirai, yang sedikit di sibakkan. Sunyi. Sepi. Rumah-rumah tetangga sudah gelap. Seolah tak berpenghuni. Sumber suara yang didengar Andi, tak ada wujudnya. Andi segera berlari ke kamar. Mengunci pintu. Mematikan TV. Dan, sembunyi di bawah selimut. ** Pukul 08.00 pagi. Andi baru saja tiba di kantornya. Dan, melakukan absen. Dengan menempelkan ibu jari pada suatu alat, berwarna hitam. Bercahaya hijau. “Kamu kurang tidur, Ndi? Habis melakukan yang istimewa dengan istrimu semalam?” goda Panji, salah satu rekannya. “Seandainya saja begitu,” kata Andi, dengan desahan berat. “Lantas? Kenapa kantung matamu menghitam?” “Semalam.. Aku mendengar suara bergemerincing. Kamu tahu, kan? Suara tukang sate, yang mengayuh gerobaknya. “Ya, mungkin tukang sate.” “Awalnya, suara itu terdengar sangat jauh. Lama kelamaan, suara itu semakin terdengar dekat. Dan, berhenti di depan rumah. Waktu aku cek—ternyata enggak ada apa-apa.” “Ih, serius kamu, Ndi?” “Iya. Kenapa aku bohong. Lihat kantung mataku, kan?” Panji mendesah panjang. Keduanya naik ke lantai 2. Melepas ransel masing-masing. Di letakkan di bawah meja. Panji yang sudah duduk, segera menggeser kursi beroda nya. Mendekat pada Andi. “Tapi, memang hal-hal semacam itu sungguh ada, Ndi. Aku juga pernah mengalaminya.” “Suara bergemerincing?” “Tidak. Tapi, suara wanita yang mengucapkan salam.” “Terus kamu jawab?” “Iya.” “Beruntung kamu, masih di sini.” “Kenapa, Ndi?” “Katanya, kalau ada yang mengucapkan salam—tapi, tidak ada orangnya. Itu enggak boleh di jawab. Bisa jadi, itu jin jahat. Atau, seseorang mengirim guna-guna ke rumah kamu. Nantinya, kamu akan celaka.” “Eh, serius kamu, Ndi?” “Aku juga dengar dari seseorang, sih. Enggak tahu benar apa enggak. Lain kali, cek dulu saja. Buat jaga-jaga.” “Jadi, merinding aku, Ndi. Padahal itu kejadiannya setelah adzan magrib.” “Ah, kamu masih begitu. Nah, aku. Malah lebih parah.” “Parah bagaimana, Ndi?” Kejadian mengerikan lainnya, saat Andi sudah beranjak remaja. Namun, ketiga pemuda yang bersaudara itu—masih tidur satu kamar. Mereka tidak lagi, tinggal di rumah besar sebelumnya. Mereka pindah ke rumah, yang di tinggali bersama Rindi dan Diko sekarang. Jendela kamar Andi, cukup besar. Kaca dengan pinggiran kayu. Pukul 23.00 saat itu. Suara dengkuran Rendi terdengar kencang. Sehingga, Andi sulit tidur. Zaman Andi remaja—sosial media belum setenar sekarang. Jadi, ia hanya bisa memandang langit-langit kamar, yang di sudutnya berlubang. Hingga, genteng di atas sana terlihat. Andi terkesiap tiba-tiba. Saat melihat sebuah bayangan lewat di jendelanya. Andi yang merasa penasaran, mengerutkan mata. Melihat jendela tersebut. Takut-takut, kalau ada maling di luar rumah. Bayangan putih itu bergerak ke samping. Dengan gerakan sangat-sangat lambat. Sehingga, Andi bisa dengan jelas mengamati wajahnya yang hitam. Di bungkus kain putih. Yang biasa di sebut—Pocong. Seketika, jantung Andi berdebar kencang. Lemas di rasa tubuhnya. Andi pun tidur telentang. Menghadap langit-langit. Berharap pocong tersebut tidak terlihat lagi. Namun, yang di lihatnya kali ini lebih mengerikan. Sosok pocong berwajah hitam itu, mengintip dari lubang langit-langit. Andi segera memejamkan mata. Sambil membaca do’a sebisanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN