Reihan is the boyfriend

745 Kata
Saat aku berhasil membuka kunci pagar aku baru sadar sebuah mobil terparkir di samping mobilku. Milik Rei. Aku kegirangan dan terburu-buru membuka kunci pintu. Tidak ada siapapun di ruang tamu tetapi aku bisa mencium samar aroma tubuh Rei yang bercampur dengan parfumnya dari sini. Aku berjalan menuju kamarku. Benar saja, pacarku yang paling tampan sedang berbaring diatas kasurku sambil memejamkan matanya. Senyum bodoh terukir diwajahku karena senang melihatnya ada disini. Yah, aku tidak menampilkan senyum bodohku pada orang lain, apalagi pada Rei, tidak akan pernah. Setelah melemparkan tas dan sepatuku dengan asal diatas karpet aku menghampirinya dan membungkuk diatasnya untuk menyapukan sebuah ciuman kecil diatas bibirnya. Namun, aku baru sadar sebuah ciuman tidak akan cukup untukku. Mata Rei perlahan terbuka. Tangannya memeluk pingganggku dan menarikku turun untuk berbaring diatas badannya. Aku tersenyum senang dan menciumnya kembali. “Kalau aku tau bakal disambut seperti ini, aku bakal pulang lebih cepet, Sab.” Kata Rei saat aku menarik kepalaku menjauh. “Sejak kapan kamu ada disini?” Tanyaku dengan sedikit terengah karena kehabisan napas. “Aku kira bakal pulang besok.” “Ini namanya kejutan, Sabrina.I’m here to give you a birthday surprise.” Rei memalingkan wajahnya melihat jam diatas nakas yang sudah menunjukan pukul 1.40 pagi.  Lalu menatapku dan merengut. “Dan sekarang hari ulang tahun kamu udah lewat.” “Sorry. Aku nggak tahu kamu bakal kesini.” Aku meringis sambil mengusap kerutan di sekitar kedua alisnya dengan ibu jariku. “Jadi, habis dari mana?” Tanya Rei sambil memperhatikan pakaianku. Aku sempat ingin menjawab dari kantor tapi tidak mungkin aku bisa berbohong dengan pakaian seperti ini. “Girls night biasa kok sama Sel dan Najla.” Aku bangkit dari atas tubuh Rei. Dan ia pun langsung terduduk dan bersandar di kepala ranjang. “Kamu keluar pake baju seperti itu?” Tanyanya dengan nada tidak suka. Rei pasti baru sadar baju yang aku kenakan sangat terbuka dibagian belakang. Aku menurunkan dress ketat yang ku pakai, hanya menyisakan bra dan celana dalamku. Lalu melemparkannya ke keranjang pakaian kotor di sudut kamarku lalu berjalan menuju lemari. “Kenapa memangnya?” Aku sedikit memalingkan wajahku menghadap Rei saat bertanya. Rei menggeleng kesal. “Seharusnya dari dulu aku bakar aja semua baju-baju kamu yang seperti itu.” yang tentu saja ku jawab dengan tertawa untuk saat ini. namun jika ia memang membakar semua bajuku, aku akan menyita seluruh kartu kredit yang dia punya. Aku mengambil satu stel pakaian tidur Victoria Secret ku. Setelan berwarna pink dengan celana pendek bermotif garis-garis lucu yang di iklankan oleh Taylor Hill dulu. “Udah hampir jam 2. Ayo tidur.” “Aku ga usah pake baju aja nih, jadinya?” tanyaku jahil sambil mengayun-ayunkan baju tidurku. “Sabrina.” Ucap Rei memperingati. “Oke, oke! Sabar dong.” Aku cepat-cepat memakaikan baju dan berlari ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencuci muka supaya terbebas dari makeup tipis yang ku kenakan. Rei langsung membuka lengannya untukku saat aku bergabung kembali dengannya. “Jadi, sekarang, cerita sama aku siapa yang udah kasih kamu bunga dan kalung mahal itu?” Oops, seems like my boyfriend has turned into a cleaning service who take care of my trash. “Oh, itu dari Tristan.” Well, don’t call me stupid. Aku mau aja bohong dan bilang itu dari mama tapi aku ingat bahwa kartu ucapan dari Tristan pasti masih berada di tempat yang sama dengan tempat aku menaruh kalung dan bunga itu. Rei akan marah berkali-kali lipat jika dia tahu aku bohong. So I decided to tell the truth. “Besok aku bakal balikin, that’s why I keep everything.” “Dia masih suka contact kamu, ya?” matanya menyipit saat bertanya padaku, jenis mata seorang dosen yang menginterogasi mahasiswanya saat menyontek. Oh, Rei memang punya badan yang membuat kaum hawa tergila-gila tapi kadang-kadang wajahnya yang terlalu serius membuatku meringis karena terlihat seperti dosenku dulu. Jangan salah, dia tampan, hanya saja tipe pria tampan yang serius. Jika kau mengerti maksudku. “Aku ga inget kapan terakhir dia kontak aku, hm I think it’s a while ago.” Aku memang berusaha mengingat kapan terakhir kali Tristan mengirimi puluhan chat dalam sehari. Setelahnya aku memblokir nomor Tristan dari ponselku. “Kayaknya aku udah blokir nomor dia.” Wajah Rei terlihat lebih rileks sekarang, dia mengangguk lalu menangkup kepalaku. Ini tandanya diskusi selesai dan dia ingin kita tidur. Tidur dalam arti yang sebenarnya. Tidak ada adegan tambahan untuk memanaskan ruangan, tentu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN