Flashback, 3 bulan sebelumnya.
Edi, kepala editor dari salah satu penerbit menghela napas kasar sambil menaruh naskahku ke atas meja. “Gue udah capek bahas hal yang sama dengan lo.” Ucapnya.
Aku tahu apa yang akan ia bicarakan mengenai naskah ini. jadi aku diam saja alih – alih mengelak dan menangkas semua omongannya karena apa yang akan keluar dari mulutnya memang benar.
Gelas yang ada di hadapanku tinggal setengah, aku mengambilnya dan menyeruput isinya hingga tandas. Aku pun sama frustasinya dengan Edi tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk menangani masalah naskahku.
“Bisa ngga sih, lo baca lebih banyak buku yang bergenre seperti ini, biar lo ngerasain percikan – percikannya gitu loh. Paling ngga terbayang dulu deh.”
Aku menghela napas. Edi tidak tahu saja bagaimana rasanya menjadi aku. “Udah, Ed. bahkan gue udah baca lebih dari sepuluh buku yang isinya hampir setengah buku adegan ‘kipas-kipas’ semua.”
“Dapet feelnya?” Tanya Edi.
Mataku memutar dengan refleks mendengar pertanyaan konyol itu. “Menurut ngana aja deh gimana.” Aku membalas dengan ketus.
Edi menangkup kepalanya. “Gimana dong? ini udah harus naik cetak bulan depan.” Aku sama pusingnya dengan pria di hadapanku ini. tiba – tiba Edi menengadah, “Lo ngga bisa usaha lebih maksimal lagi?”
“Kayak apa maksud lo?”
“Hmm..” Edi tampak berpikir. “Nonton video bokep misalnya.”
“g****k! Ogah lah! Sialan lo ya lama – lama, sinting tau ngga ide lo?” Aku kesal mendengar saran Edi yang sembarangan. Apakah pria sialan itu tahu bahwa aku sudah menenggelamkan ke dalam buku bacaan bertema e****s selama kurang lebih satu bulan ini? Khusus untuk mendalami bagaimana mendeskripsikan dan menuangkan adegan b******a yang sempurna. Namun tetap saja Edi tidak puas dengan hasilnya. Ia menilai tulisan yang kubuat tidak menyentuh pembaca.
Hell, jangankan menyentuh pembaca, menyentuh hatiku sendiri pun tidak.
Aku seorang pekerja kantoran yang terhitung memiliki gaji sangaaat standar. Tapi kreatifitasku untuk mencari uang tidak hanya bersumber dari satu mata pencaharian. Salah satu caraku untuk menambah tabungan tentu saja dari menulis.
Di jaman sekarang ini, entah mengapa tulisan bergenre romantic yang mengandung konten eksplisit seperti laku keras di pasaran. Sehingga editorku yang kurang ajar itu menyuruhku untuk menulis konten serupa demi mengejar ketertinggalan dari banyaknya buku – buku seperti itu yang telah beredar sekitar satu tahun belakangan.
Aku yang tidak punya pengalaman sedikitpun mengenai itu tentu saja kelabakan. Jika hanya berciuman, aku sudah ahli. Tapi jika harus menyertakan konten eksplisit saat sepasang insan manusia b******a, jujur saja aku angkat tangan. Aku sendiri tidak tahu bagaimana rasanya. Selama ini ia telah menghabiskan setumpukan buku bergenre seperti itu demi menyerap sensasi yang di butuhkan untuk ia tuangkan ke dalam tulisannya tapi Edi tetap saja masih merasa bahwa tulisannya tidak memiliki rasa yang dibutuhkan.
“Ayo lah, Sab. Lo kan udah dewasa juga masa ngga ada keinginan untuk ML sama siapa gitu.”
Aku mendelik pada Edi yang bicara layaknya membalikkan roti di atas panggangan elektrik, alias tidak ada usaha sama sekali, hanya omong kosong yang keluar dari mulutnya.
“Lo tau kan gue jomblo, menurut lo gue harus ML sama siapa kalo cowok aja gue ngga punya.” Mataku sepertinya hampir keluar saat menatap Edi yang otaknya entah ditaruh di mana.
Pria itu mengacak – acak rambutnya. “Duh, lo cari kek. Sumpah lo cantik tapi ngga guna, tahu? buat apa punya muka aduhai, body bohay tapi ngga ada pengalaman sama sekali.”
Satu – satunya yang ada di depan mejanya hanya dompetnya, jadi itu lah yang ia lempat pada wajah Edi. “Emangnya kenapa sih kalo tulisan gue ngga dapet feelnya, biarin aja lah, yang penting kan ide ceritanya bagus dan ngga mainstream.”
“Ngga bisaaa!!!” Edi mengambil dompet dan mengembalikannya ke tengah meja. “Nih, ya, gue kasih tahu. sekarang itu jangan Cuma bikin jalan cerita bagus tapi lo harus bikin pembaca ikutan baper juga.”
“Loh emangnya lo ngga baper baca cerita gue yang ini?”
“Gimana mau baper kalo mereka itu tokoh dewasa yang hobinya ML tapi setiap adegan yang diceritain ngga berasa apa-apa. ini mah kayak gue baca buku pelajaran biologi tentang alat reproduksi, tahu ngga?”
Entah helaan napas yang ke berapa kali yang kukeluarkan saat mendengar ocehan Edi. “Ya udah kalo gitu, lo lah yang tambah – tambahin kekurangan tulisan gue. Gue kan udah bikin jalan cerita yang seru tuh tinggal tambah bumbu di bagian kipas – kipasnya aja, kan?”
“Ya menurut lo aja deh, Sab, kalo gue bisa gue pasti udah jadi penulis best seller sekarang ini.” Edi memutar bola matanya berlebihan.
“Tuh kan, lo aja yang editor ngga bisa. Masa gue harus dituntut bikin cerita yang sesuai lo mau sih?”
Edi mencubit tanganku gemas. “Aduh, udah deh ikutin aja apa kata gue. Project buku ini harus lancar ya, Sab. Sebagai tanda lo come back di dunia penulisan. Kalo ngga, gue ngga mau bantuin lo lagi buat terbitin karya yang lain.”
Sialan dasar si b*****g satu itu.
Bisa saja aku mencari editor lain, tapi Edi memang paling bisa di andalkan untuk urusan penerbitan buku – bukunya. Sehingga terpaksa membuatku mengucapkan kalimat yang tidak ingin aku ucapkan, “Ya udah deh nanti gue coba saran lo.”
Senyum di bibir Edi merekah. Barang kali ini lah senyuman pertama Edi semenjak dia bertemu denganku hari ini untuk membahas projek novel yang sedang aku garap bersamanya. “Nah, gitu dong! Nanti malem lo ikut gue, kita hunting cowok demi penelitian novel lo ini.”
Rasanya sangat salah menyebut hal ini sebagai penelitian, karena ia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya b******a dengan seorang pria agar dirinya bisa memahami yang biasanya dituliskan oleh para penulis bergenre romance jaman sekarang.
“Tapi inget ya, gue bukan Cuma cari cowok asal – asalan. Gue ngga mau keperawanan gue diambil gitu aja sama cowok tidak bertanggung jawab.”
Edi terkejut mendengar permintaanku. “Loh, gue kira lo mau one night stand sama cowok random gitu.”
“Enak aja lo! Ngga ada! Ngga bisa!” bantahku.
“Terus lo mau nyari pacar dulu gitu baru mau ML?”
“Ya iya lah. Menurut lo aja, gue ML sama pria asing. Ini keperawanan yang udah gue jaga sia – sia dong.”
“Tapi kalo lo udah jaga keperawanan lo, kenapa lo mau rela buat ML demi buku ini?”
“Tadi yang ngotot nyuruh gue buat ngerasain ML siapa? bangke ya lo lama – lama!”
Edi tertawa cengengesan saat aku mendampratnya. “Iya sih, gue kira lo mau nyerah aja buat projek buku ini.”
“Gila aja lo, gue udah nulis buku ini Sembilan bulan, kalo lagi hamil udah ngelahirin nih gue. Masa gue gugurin gitu aja kandungan gue?” aku menggunakan perumpamaan yang mudah dipahami Edi. Kadang – kadang aku tidak mengerti mengapa pria ini bisa dipilih sebagai kepala Editor oleh penerbit langgananku.
“Ya udah, deh. Dengan senang hati gue temenin proses mencari jodoh lo dari awal hingga jadi. Pokoknya cowok ini harus berkualitas biar perjalanan menulis lo juga akan lancar nantinya.”
Meski aku tidak tahu apa hubungannya pria berkualitas yang akan menjadi calon pacarnya nanti dengan tulisannya, tapi aku tidak menanggapi obrolan Edi lagi. Aku sudah cukup lelah berdebat mengenai hal ini dengan laki – laki di depanku.