Kalimat Maura tergiang di telinga Mentari, ia merasa tak mungkin jika ia sampai hamil. Mentari bersender di jendela kaca mobilnya yang tertutup. Untungnya ada Tata yang mau mengantarnya pulang, sementara Salsa membawa mobil Tata menguntitnya dari belakang. "Ta... Singgah apotik sebentar ya. Gue mau beli obat." Lirih Mentari pada Tata. "Lo yakin kita gak ke rumah sakit aja. Lagian kenapa lo gak minta antar Langit sih?" Mentari menghela napas panjang. Andai bisa sudah dari awal ia minta tolong pria batu itu. "Enggak ah! Malas gue. Nggak mau repotin dia. Lagian dia kan mau ke rumah sakit." Gumam Mentari sambil memandang layar ponselnya yang tidak ada pesan dari Langit satu pun untuknya. "Berantem lo sama Langit." "Enggak!" "Bohong lo, kita kenalan udah berapa la.ma, sampai lo bohongin

