5. CIUM PIPI

1084 Kata
Mentari menatap curiga pada Langit yang berada di kantin bersama sahabatnya Tama. Entah apa yang menderu diotak Mentari ia teringat kejadian pagi ini ketika dirinya terbangun bersama kedua sahabatnya disebuah hotel. "Aarghhh. s**t!! Kepala gw." Mentari mengerang kesakitan pada kepalanya. "Lah.. Kita dimana." Tata terbangun heran ia tidak terbaring dikamarnya. "Pasti tadi malam kita mabuk." "Men, kepala lo kenapa? kenapa ada perban kecil." Tanya Salsa yang memperhatikan kepala Mentari. Mendengar ucapan Salsa dengan cepat Mentari bercermin melihat keningnya terdapat perban. Ia benar lupa apa yang terjadi apa dirinya. "Lo berdua enggak ingat apa yang terjadi." Tanya Mentari membuat keduanya dengan cepat mengangguk. Mentari mengkerut dahinya melihat jaket yang disofa, tadinya telah menyelimuti dia yang tertidur. Mentari mengetahui jika ini jaket siapa. Tapi ia belum yakin. "Kira-kira siapa yang bawa kita." Salsa dihantui rasa penasaran. Mentari memasuki kamar mandi membersihkan dirinya yang sedikit tercium aroma mint menghinggap ditubuh. 'Aroma siapa ini? Apa benaran dia?' Batin Mentari. Ia ingin memastikan ketika di lobby untuk bertanya pada salah satu resepsionis hotel tersebut. Untuk membenahi rasa penasaran dihatinya. "Lo, duluan. Gw ke resepsionis bentar." "Lo mau ngapain?" "Eh memang lo berdua pikir kita nginap disini enggak bayar." Melihat kedua temannya menghilang Mentari mulai bergerak cepat, ia bertanya dengan cepat agar Tata dan Salsa tak curiga padanya. Ternyata kecurigaannya benar jika ia membawanya ke hotel adalah Langit. Kedua mata Mentari memicing pada Langit yang mejanya tak jauh dari dirinya. Ia ingin mendengar langsung dari mulut langit, jika pria itu yang menolongnya. "Lo memperhatikan target!" tegur Salsa tertuju mata tajam Mentari yang seksama menatap Langit. "Gw rasa lo enggak menangkan taruhan kali ini!" Tata menimpali dengan sebuah seringai, gadis berpostur tubuh menunjang tinggi itu yakin jika Mentari akan kalah. "Lo harus siap malu deh, Men." Kali ini Salsa bersahut. Mentari memilih untuk tidak memperdulikan ocehan kedua sahabatnya ini yang tidak penting. "Udah ah.. berisik lo berdua." Desah Mentari yang terus memperhatikan gerak-gerik Langit. Tak lama Mentari melihat Langit pergi meninggalkan Tama sendiri. Dengan cekatan Mentari berburu menguntit Langit. "Woii.. usaha lo!" Pekik Tata melihat Mentari telah menjauh, Mentari melambai pada Tata dan Salsa dari kejauhan. *** Langit berbelok ke perpustakaan, seorang seperti Langit memang lebih senang diperpus kampus dari pada melakukan hal yang tidak menguntungkan untuknya. "Lo yang nolong gw tadi malam." Kontan kata-kata itu keluar langsung dari mulut Mentari, membuat sosok Langit menghentikan langkahnya. Langit seakan mendengus kesal kembali berurusan dengan Mentari."Lo mau apa. Tau enggak ini perpus." Ujar Langit, merengkuh lengan Mentari untuk keluar. "Gw mau lo jawab." Teriak Mentari. Sejak awal Mentari sangat curiga pada Langit, ia yakin Langit yang menolong. Apalagi mengetahui pria yang menolongnya bernama Langit putra pemilik hotel tersebut. "Lo tu benar-benar ya." Langit ingin sekali menghujat apa yang dihatinya. "Lo bisa enggak sih biarin gw tenang." Sekarang Mentari benar-benar yakin ingin membuat Langit jatuh cinta padanya. Entah bagaimana cara agar Langit bisa berlekuk pada dirinnya, seperti pria lain lakukan padanya. "Bisa.. dengan satu syarat." Ujar Mentari dengan senyum menipis dibibirnya seraya jari lemgiknya menunjukkan angka satu. Seketika muka Langit melas membuang pandangannya pada Mentari. "Apa." Dingin Langit. "Lo jadi pacar gw." Bisik Mentari membuat Langit terperongoh. "Gw tunggu jawabannya minimal besok. Oke!!" Sebelum Mentari pergi, ia mencuri kesempatan menyambar cium pipi Langit, banyak mahasiswa melihat kejadian tersebut. "Sial." Umpat Langit kembali masuk keperpustakaan. Ia merasa Mentari benar-benar sedang mempermainkannya. 'Itu cewek makhluk apaan? Agresif amat!!' Pikir Langit mendarat duduk di kursi. Ia sangat kesal pada Mentari, ia tidak pernah sama sekali menemukan wanita sejenis Mentari. Sekuat tenaga Langit akan berusaha menghindari gadis itu. Pikir Langit. "Enak lo dicium Mentari." Tiba-tiba suara berdendang ditelinga Langit. "Ah.. lo, tam." Desah Langit melemas. "Gw pikir lo--" "Mentari." Cela Tama dengan kekehan yang tertahan. "Katanya lo Mentari enggak penting." Tama berucap dengan tawa kecil membuat keduanya di usir dari perpustakan karena menciptakan keributan. "Ck." Langit berdecih kesal. "Gara-gara lo berisik." Geram Langit pada Tama. *** Dengan bangga mentari memberitahu kedua sahabatnya telah mencium Langit cowok super duper arogan, cowok yang berhasil membuat dirinya terhina. "Gw barusan cium pipi Langit." Ucap Mentari yang berada didalam kelas menunggu dosen. "What." Ucap Tata dan Salsa bersamaan dengan matanya yang melotot kearah Mentari. "Lo benaran? Reaksinya gimana?" Lanjut Tata. "Enggak tau, gw keburu pergi." Impuhnya. "Lo senekad ini. Kalau Arga tau bisa dicincak tu Langit." "Bodoh amat!! Lagian Arga enggak disini kecuali lo berdua ember." "Gw enggak ya." "Apalagi gw." Ketika sedang asik berdiskusi hal tak penting. Ponsel Mentari mendadak bergetar ditas. Dengan sigap ia memperhatikan panggilan masuk yang tak lain Maminya Runi. Drrtt.. Drrtt.. "Ssttt... Diam!! Nyokap gw nelpon." Ucap Mentari seraya meletakkan telunjuknya dibibir. "Halo, Mi Tumben nelpon. There is already time." Jawab Mentari santai. "Come on, Honey. Mami kangen sama kamu. Pulanglah kerumah sebentar ada yang ingin mami dan papi bicarakan." Runi berkata lembut dari seberang sana. "Bicara apa? Ditelpon aja kenapa?" "Enggak bisa, sayang. Ini penting." "Oke. Pulang kampus Mentari balik ke rumah." "Thank you, honey. Mami tunggu ya." Putus Runi menutup telponnya. Mentari menyimpan kembali ponsel miliknya di dalam tas. "Nyokap?? Tumben amat." Ujar Salsa yang tau kedua orang tua Mentari super sibuk bahkan jarang ada waktu untuk Mentari. Mentari mengerdik bahu dengan bibirnya memaju. "Enggak tau ah." "Men, makalah lo udah kelar." Tanya Tata. "Jangan bilang lo lupa." "Makalah apaan." Mentari membalikkan tubuhnya melihat tata yang diduduk dipojok belakangnya. "Kita kan ada tugas makalah, masa lo lupa." Mentari mengerjapkan mata untuk mengingat segala. "Astaga, njrit. Gw lupa. Gw ada janji sama nyokap lagi." "See??" "Ntar gampanglah, sorean gw cari buku sendiri." "Kebiasaan lo!!" Hujat Tata menggeleng, memang dari ketiga wanita ini Tatalah yang paling pintar dalam pelajaran dan selalu mengingatkan tugas mereka untuk dikerjakan sebelum deadline. "Lo udah, Sal." Tanya Mentari. "Udah dong. Rajinkan gw." "Idih tumben gerakan lo cepat." "Ya.. iyalah cepat. Orang bareng gw ngerjainnya." Sambung Tata. Mentari barusan melihat sosok gagah yang melintas didepan kelas, ia tersenyum dari dalam kelas. Meski Langit tidak melihat dirinya. Entah ada perasaan senang ketika melihat Langit yang hanya lewat di depan kelasnya. Merasa dibodohi dengan rasa dihati yang terkurung. Sadar atau tidak sadar Mentari mulai merasakan perasaan aneh, Apalagi ketika dengan berani dia mencium pipi Langit. Ah.. perasaan yang belum dapat dirasakannya pada Arga pacarnya sendiri. Gengsi.. ya terpaut gengsi, ia tidak mengakui suatu menjalar di reluhan hatinya. Entah sejak Langit menabrak atau dirumah sakit, mungkin ketika dirinya mabuk, dan yang lebih parah ketika mencium pipinya. Pikiran Mentari terbuai dalam ingatan semua kejadian itu, tapi ia menyakinkan jika itu semua hanya perasaan semu yang dimilikinya, lambat laun akan menghilang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN