"Mi, Mami..!!" Teriak Mentari memasuki rumah besar. "Mami dimana."
Suara Mentari bergema dirumah nuansa hijau. Holden hijau terpasang dijendela rumahnya.
"Ya Ampun, Dek. Suara kamu kedengaran sampai di kamar aku!!"
Bulan menatap Mentari dengan tatapan luas, ia tersenyum pada adik bungsu kesayangannya.
"Kak Bulan. Lo disini!! Ih.. enggak ngabarin." Mentari bersungut pada kakaknya yang perutnya bucit. "Cie..ponakan gw nih.. Pasti besar kayak gw." Mentari mengelus perut bulan.
"Ih.. ogah. Lo gila gitu, males gw kalau mirip lo." Protes Bulan seraya menepis tangan adiknya.
"Duh.. aduh. Kelakuan kalau udah ketemu, Ribut aja!!"
"Kak Bul ni, Mi." Cerca Mentari seolah mengadu pada Maminya.
"Eh gesrek lo, manggil gw Kak Bul." Bulan memukul pelan lengan Mentari kesal.
Bulan memang sangat tidak suka dipanggil Kak Bul. Karena pipi ngembul maka Mentari sering sekali mengejeknya membuatnya jengkel.
"Bulan!!" Runi menekan suaranya.
"Rasakan lo!!"
"Kamu juga, Mentari!! Udah tau kakaknya lagi hamil.. diledekin melulu."
Entah sudah berapa lama Mentari tidak mengunjungi rumahnya sendiri, dia cukup jarang tidur disini, ia sering menghabiskan waktu di apartemen dibanding dirumahnya sendiri. "Mi, katanya mau ngomong penting."
"Tunggu Papi dulu ya!! Papi udah dijalan." Jawab Runi.
"Mi, Mentari enggak bisa lama nih! Ada tugas makalah, mau cari buku lagi." Ujar Mentari berbaring di sofa ruang tengah. "Papi lama gak?"
"Bentar lagi juga Papi datang, tunggu aja honey."
Bulan melempar batal kecil kearah Mentari yang mengerjapkan matanya. Mentari mendengus kesal pada Bulan yang baru saja menganggu dirinya. "Apaan sih lo."
"Ih.. galak!! Enggak dapat laki lo."
"Bodoh!! Berisik lo ah." Rungut Mentari.
Mendadak tangan besar mengelus rambutnya yang terkuncir. Mentari bangkit mendongakan kepalanya lalu memeluk sosok tersebut. "Papi."
"Ehhmm drama lo!!"
"Iri lo." Mentari mengulur lidahnya seraya mendekap tubuh Jaya.
"Udah.. Udah. Mentari, Bulan, Cukup ya!"
"Daritadi sayang.. Mereka seperti itu. Ribut terus." Sambung Runi terkekeh melihat kelakuan kedua putri kesayangan mereka.
Mentari memperhatikan Runi dan Jaya sangat romantis. Walaupun umur mereka tidak dikatakan muda lagi, tapi kedua saling mencintai. Saat bertemu tidak pernah Jaya melupakan ciuman kening untuk sang istri. "So sweet."
"Papi, lihat anak kita udah gede. Dia udah berani mengejek Mami dan Papinya."
"Mentari, Papi dengar kamu sering buat masalah di kampus."
'Aduh mampus gw. Pasti tu dosen ngadu. Dasar!!' Batin Mentari kesal.
"Eh.. hemm.. it.."
"Itu apa adikku sayang." Kekeh Bulan membuat Mentari melotot padanya. "Lo bandel sih."
"Aku tu enggak pernah buat ulah, Pi. Mereka aja yang selalu Cari gara-gara." Bela Mentari berharap kali ini Papinya tidak memarahi kelakuannya.
Terakhir kali Jaya memberi hukuman Mentari sangat berat, ia mengambil semua fasilitas yang diberikannya, mobil, uang, kartu kredit. Mentari tidak sanggup hukuman seperti itu lagi.
"Tenang, Papi tidak memberi hukuman lagi."
"Ah.. syukurlah." Desah Mentari dengan simpulan senyum dibibirnya.
"Duduk sini. Kamu juga Bulan, Gimana kandungan kamu?"
"Alhamdulillah, Pi. Sehat." Seru Bulan
Mentari, Bulan dan Runi duduk di sofa panjang yang sama. Sementara Jaya duduk sendiri di hadapan mereka. Mentari bisa melihat wajah Jaya begitu serius menatapnya.
"Mentari, Papi ingin bicara serius sama kamu. Papi harap kamu tidak menolak." Ucap tegas Jaya.
Mentari mengeryit heran pada mimik Jaya yang tidak bisa dibacanya. "Ini masalah kampus ya." Tebak Mentari.
"Bukan sayang." Sambung Runi mengelus rambut Mentari. "Kamu dengar dulu Papi ngomong."
"Mentari.. Papi sudah menjodohkan kamu dengan anak sahabat Papi." Kata Jaya dengan lembut.
"What?? Jodohkan. No.. No.." Mentari memburu menggeleng. "Pi, ini zaman modern. Masa masih jodohkan sih." Protesnya.
"Honey, calon kamu baik sekali anaknya, dia juga pintar. Kalian satu kampus loh."
'Hah? Satu kampus!! Siapa?? Beruntung banget tu cowok bisa jadi laki gw nanti.' Gerutu Mentari dalam hati.
"Tapi, mi.."
"Temui dulu lah.. lo kan belum kenal. Siapa tau gebetan lo."
"Rese' lo." Umpat Mentari pada bulan.
"Kakak kamu benar. Sabtu nanti kamu tidur rumah, nanti supir jemput kamu." Putus Jaya tidak menerima bantahan langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Mentari menyesal mendapatkan berita buruk untuknya. Sialnya dia tidak punya pilihan selain bertemu dulu dengan pria yang akan dijodohkan untuknya.
***
Malam harinya Mentari pergi ke toko buku yang berada di salah satu pusat mall. Ia bingung buku apa yang harus di belinya, dia tidak sepintar Tata. Sahabatnya yang selalu mengajarkannya mengerjai tugas. "Ah sial!! Buku mana yang harus gw beli."
"Buku ini."
"Lo jurusan kedokteran beli buku kesehatan." Terdengar suara menggelegar dibelakangnya.
"Lo!! Lo followers gw." Mentari membalik melihat Langit dihadapannya.
"Huh.." Langit menghela nafas bosan. "Enggak minat!!"
"Yaelah lo gitu amat." Mentari merengkuh lengan Langit membuat pria itu kesal. "Lo udah tau jawabannya." Mentari medongakan kepala dengan nyengirannya.
"Lo berisik!!" Ucap Langit dengan penekanan. "Minggir lo.." Langit menepis tangan Mentari.
"Ish.. kasar banget sih sama calon pacar."
"Astaga nih cewek terbuat dari apa sih." Ujar pelan Langit namun masih bisa di dengar Mentari.
"Gw terbuat dari kasih sayang nyokap dan bokap gw." Sahut santai Mentari.
"Ya Allah.. lo benar-benar ya!!" Greget Langit ingin sekali merobek wajah Mentari.
Langit melangkah menjauh dari Mentari, tapi sepertinya Mentarilah yang telah menjadi followersnya. Ia berjalan dibelakang Langit dengan pakaian casual yang memperlihatkan tubuh eloknya. "Lo jalannya jangan cepat dong!"
"Enggak ada yang minta lo ikuti gw." Gerutu Langit mempercepat langkahnya.
"Langit tunggu..!!" Pekik Mentari dilihat semua orang.
Langit memandang kanan dan kirinya yang sedang memperhatikan dirinya dan Mentari. Argh.. Dengan cepat laki-laki itu meraih tangan Mentari dengan kasar. "Sini lo!"
"Mau lo apa." Bentak Langit tak perduli lagi banyak orang melihat mereka, mungkin orang-orang mengira mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Carikan gw buku, dan bantu gw kerjain makalah malam ini juga."
"Lo sinting ya!"
"Emang." Jawabnya santai. "Lagian kita satu jurusan, hanya beda kelas doang, gw dengar lo kan pintar."
"Ya udah.. gw tolong tapi ini pertama dan terakhir. Gw enggak mau di buat malu kayak gini sama lo." Ujar Langit terpaksa.
Kontan Mentari memeluk Langit, ia tidak perduli dimana keberadaan mereka sekarang. "Lepas!"
"Lepas enggak.. enggak gw bantu lo yah." Ancam Langit membuat Mentari melepaskan pelukannya.
Wajah Mentari cembrut dengan kelakuan Langit yang bisa dibilang galak, tidak ada kebaikan yang ditunjukkan Langit. "Ayo! Katanya mau cari buku."
Mentari cepat beranjak mengikuti Langit yang mencarikan buku untuknya. Langit dan Mentari memutar lorong dimana seharusnya dirinya mencari buku. "Ini buku yang seharusnya lo beli."
"O.. thanks." Mentari menyergir menampakkan gigi putihnya. "Gw dengar lo dari London. Kenapa lo pindah?"
"Bukan urusan lo."
"Cerita dong sama calon pacar. Kan gw.."
"Sekali lagi lo bilang gw calon pacar, gw cabik mulut lo." Cela Langit dengan dingin.
"Ih.. takut." Mentari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Seolah dirinya benaran ketakutan. "Lo jadi cowok jangan galak ntar enggak ada yang suka atau jangan-jangan lo homo ya."
Langit menerbitkan senyum yang sangat terpaksa pada Mentari, hati memanas pada sikap Mentari yang merenggoti dadanya. Pria itu memilih diam, tak ingin berdebat dengan Mentari yang tak ada ujungnya.
"Kok lo diam, jangan-jangan iya."
"Masa iya calon pacar gw homo." Oceh Mentari tidak ada habisnya.
"Lo bisa diam gak sih, Mentari!"
"MEN-TARI.. ini pertama kali lo sebut nama gw." Seru riang Mentari seraya melonjak kegirangan.
Langit mendengus kesal seraya mengelus dadanya yang rata. "Bisa gila gw hadapi lo."
***