Setelah acara malu-malu kucing ala Gendis, obralan kembali berlanjut
"Dis nanti malam iku kita liburan yuk." ucap Ayu tiba-tiba
"Gimana mbak?." sebenarnya Gendis sudah degar hanya memastikan kembali telinganya masih berfungsi dengan baik
"Nanti malam kita sekeluarga rencana mau liburan, deket-deket sini aja. Kamu ikut ya?." ucap Halimah
"Nggak ah bu, kan ini acara keluarga." jawab Gendis
" Bentar lagi kan kamu jadi mantu ibu Dis." Kata Halimah yang membuat mengangetkan buat Gendis meskipun Halimah sering mengatakan dirinya sebagai calon mantu.
"Ibu mah gitu terussss." renggut Gendis
"Udah nanti biar aku telpon ibu mu buat mint izin nyulik anak gadisnya ini." ucap Ayu
*****
Malampun tiba, rencananya Gendis akan di jemput Ayu setelah sholat isya
Mbak Ayu
|Dis, aku otw kerumahmu
oke mbak, hati-hati|
Itulah isi pesan singkat Ayu dan Gendis
"Mamak, mbak Ayu udah otw." ucap Gendis pada mamaknya
"Iya, udah dibawa semua apa belum barang- barangnya?."
"Udah sih mak kayaknya."
Ayu benar merealisasikan ucapannya untuk meminta izin langsung pada mamak Gendis, setelah tadi Ayu menelpon Heti dan akhirnya memberikan anak gadisnya untuk di bawa liburan.
Tak menunggu lama mobil Ayu berhenti di depan rumah Gendis. Gendis segera keluar membawa barang bawaannya tak lupa berpamitan kepada mamak dan bapaknya, setelah itu mobil Ayu pun melaju muju kerumah mertuanya.
"Akhirnya kak Gendis jadi iku liburan kita." ucap Sandra
"Kamu seneng gak kalau kak Gendis ikut?."
"Seneng dong." Jawab Nino dan Sandra bebarengan
Perjalanan kali ini cukup lanjar dan sampai mereka di rumah Halimah. Disana terlihat asisten rumah tangga Halimah tengah menyiapkan barang bawaan kedalam mobil yang akan mereka tumpangi.
"Gendis kamu satu mobil sama Dzawin ya, soalnya dimobil ibu udah nggak muat." ucap Halima.
Itu hanya akal-akalan Halimah supaya Gendis satu mobil dengan anak laki-lakinya itu.
"Loh heh." kaget Gendis
Dzawin yang memang sudah tau rencana ibunya itu hanya diam. Lebih baik segera berangkat dari pada berdebat pikirnya
"Sudah ayo masuk mobil masing-masing." ucap papa Dzawin
*****
Situasi didalam mobil yang ditumpangi Dzawin dan Gendis sangat sunyi, karena mobil ini hanya di tumpangi mereka berdua. Iya, rencana Halimah sangat rapi dan sudah tersusun sangat matang.
"Emmm, maaf ya bang gara-gara aku iku abang jadi terpisah sama keluarga abang." ucap Gendis memecah keheningan
"Iya." jawab Dzawin.
Setelah percakapan itu terjadi keheningan Kembali, lagi dan lagi Gendis memecah keheningan tersebut.
"Bang, boleh putar musik nggak?."
"Boleh."
"Emmm, ini caranya gimana bang?." tanya Gendis karena takut salah
"Nih pakai handphone aku aja, yang udah connect langsung." ucap Dzawin menyodorkan hpnya
"Emmm bang, ini nyalain gimana?." tanya Gendis cara menyalakan hp yang Dzawin milik, maklum hp Gendis masih jadul meskipun sudah android. Sedangkan hp Dzawin sudah gaya baru dengan logo buah yang sanggat terkenal itu.
"Nih udah."
"Abang suka lagu apa?". tanya Gendis
"Semua."
"Abang ada request mungkin?."
"Nggak."
"Oh oke."
Akhirnya lagu only me milik kaleb J mengalun memecah kesunyian didalam mobil
*****
Tengah malam dua mobil memasuki halaman villa yang terlihat asri. Yups, kedua mobil tersebut adalah mobil rombongan keluarga Halimah.
Villa tersebut memiliki lima buah kamar yang masing-masing memiliki kamar mandi ruang tamu, ruang tv, dapur dan sebuah kolam renang yang berada di belakang rumah.Setelah masuk kedalam villa, Halimah memerintahkan semua anggota keluarga untuk mengistirahatkan diri setelah perjalanan yang cukup melelahkan.
Adzan subuh berkumandang dan semua anggota keluarga Halimah tak lupa Gendis telah bersiap-siap untuk sholat subuh berjamaan.
"Ini siapa yang mau jadi imam?." tanya Hartono a.k.a papa Dzawin
"Dzawin tuh pah." tunjuk Ayu membuat semua orang menujukan padangan pada dirinya
"Gimana Win?."
"Iya pah." jawab Dzawin setelah itu mereka merapikan saf dan memulai sholat subuh.
Gendis terkesima mendengar lantunan surat pendek yang Dzawin lantunkan saat menjadi imam.
Iya, Dzawin memiliki suara yang merdu saat melantukan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dan akan menghipnotis siapa saja yang mendengarkan tak terkecuali Gendis.
Duh merdu banget sih suaranya, mau deh di imamin setiap hari- ucap Gendis dalam hati
Lantunan surat pendek yang merdu bukan menambah kekusyukan sholat Gendis malah membuat pikiran Gendis kemana-mana, dasar Gendis.
*****
Rencananya hari ini mereka akan berlibur ke pantai, untuk mengawali liburan. Setelah selesai sarapan mereka berangkat, lokasi pantai yang akan di tuju tidak terlalu jauh dari villa. Masih dengan formasi yang sama Gendis satu mobil dengan Dzawin.
"Bang mau putar musik lagi boleh?." tanya Gendis memecah keheningan seperti kemarin malam.
Dzawin langsung menyodorkan handphone-nya seperti semalam, lagi dan lagi Gendis meminta Dzawin untuk membuka kunci pada layar handphone.
"Sinin jari telunjuk kamu."
Gendis menyodorkan jari telunjuknya, dan dengan tak terduga Dzawin menambahkan sidik jadi Gendis untuk membuka handphonenya.
Bukankan handphone adalah benda privat? mengapa Dzawin dengan mudahnya menambahkan sidik jari gadis Gendis, entahlah.
"Sekarang kamu bisa membuka hp itu sendiri." ucap Dzawin
Gendis yang melihat hal itu hanya ngang ngong ngang ngong wkwkwkw
*****
"Akhirnya kita liburan ya kak." ucap Nino pada Sandra yang hanya di balas anggukan.
Semua orang terlihat senang, Handoko, Halimah dan Dzawin duduk dibawah payung sedangkan yang lainnya tengah bermain di tepi pantai.
"Kamu nggak iku main Win?." tanya Handoko
"Nggak ah pa."
"Ganggu orang mau pacaran aja kamu." ucap Handoko
"Inget udah punya cucu." balas Dzawin
" Ck, sudah ngomong sama orang yang nggak punya pacar."
"Tunggu aja, bentar lagi juga punya."
Halimah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan anak laki-lakinya itu.
*****
Ruang makan terlihat ramai dengan keluarga Halimah yang baru saja menata makanan yang di beli saat perjalanan pulang. Semua keluarga telah berkumpul, terlihat para istri —Ayu dan Halimah— tengah mengambilkan makanan untuk suami mereka.
Gendis yang melihat itu berinisiatif mengambil makan untuk Dzawin sebagai rasa termakasihnya karena sudah diberi tumpangan.
"Bang Dzawin mau diambilkan makan juga?." bisik Gendis pada laki-laki disampingnya itu
"Boleh." Jawab Dzawin dengan muka datar dan cuek, padahal dalam hatinya sedang berdiskoria
"Mau lauk apa?."
"Ikan goreng sama sambal aja."
Gendis pun mengambil sesui yang Dzawin mau,
"Ini bang." ucap Gendis seraya menaruh piring yang telah terisi didepan Dzawin, hal ini tak ayal membuat mereka bedua menjadi pusat perhatian
"Duh calon mantu ibu emang peka banget." kalian pasti tau kalimat itu dari siapa? yups, benar tak lain dan tak bukan dari Halimah
"Aduh-aduh gas lah Win, pulang liburan otw sah." goda Ayu
"Pulang dari sini papa anter kerumah Gendis ya Win biar sekalian lamaran." goda Hartono
"Bentar lagi ada yang mau ninggalin status jomblo nih." goda Dika
Dua anak manusia yang menjadi bahan godaan pun hanya diam dengan pipi dan telinga merah seperti bendera partai wkwkwk
"Sudah-sudah kalian nggak lihat apa, telinga sama pipi mereka sudah merah padam, ayo Nino pimpin doa makan." ucap Hartono menghentikan godaan untuk Gendis dan Dzawin