“GERALD!” teriak Tevi dan Rival yang baru saja tiba di kelas. Mereka kemudian langsung berlari menghampiri Gerald.
“Ger lo kenapa Ger?” tanya Tevi.
“Apaan sih lo? Orang pingsan malah ditanya-tanya. Mana bisa ngejawab! Ayo bawa ke UKS!” ucap Rival.
“Iya-iya. Ayo!”
Tevi dan Rival lalu membawa Gerald ke ruangan UKS untuk segera ditangani.
“Ra, lo apain si Gerald?” tanya Alexa. “Kok bisa sampe pingsan gitu sih?”
“Gu-gue,”
“Apa?” tanya Elina. “Lo apain Gerald?”
“Ah! Nanti aja gue nyeritanya.” Liora berlari menyusul Gerald yang dibawa oleh Tevi dan Rival.
“Dih! Aneh banget si Liora.” ucap Elina.
“Ikutin yuk! Penasaran gue!” ucap Alexa.
“Iya, ayo!”
Alexa dan Elina pun kemudian pergi menyusul Liora.
Setibanya di ruangan UKS, Gerald langsung direbahkan di ranjang.
“Val, lo telepon Om Raffi ya, biar gue yang lapor ke Guru.”
“Oke.”
Tevi kemudian pergi untuk melaporkan Gerald yang pingsan kepada para Guru. Sementara Rival menelepon Ayahnya Gerald untuk memberi tahu bahwa Gerald pingsan.
Tak lama kemudian, Liora, Alexa, dan Elinapun tiba di ruangan UKS.
“Halo Rival, ada apa?”
“Halo Om. Ini saya mau ngasih tahu, kalau Gerald pingsan di sekolah.”
“Astaghfirullah.” Raffi sangat terkejut dan panik saat mendengar kabar Gerald pingsan. “Kenapa Gerald bisa pingsan?”
“Aku belum tahu Om, soalnya aku tadi nggak lagi sama Gerald. Mending Om ke sini aja ya, buat lebih jelasnya.”
“Yaudah, kalau gitu Om ke sekolah ya. Makasih udah ngasih tahu Om.”
“Iya Om.”
Telepon kemudian berakhir.
Rival lalu menatap Liora, Alexa, dan Elina. “Gerald kenapa sih? Kok dia bisa pingsan?”
“Tanyanya sama Liora nih! Soalnya dari tadi mereka pacaran mulu di kelas.” jawab Alexa.
“Kenapa Gerald, Ra?”
“Gu-gue nggak tahu Val. Gue tadi cuma pegangan tangan doang kok sama Gerald, habis itu dia tiba-tiba pingsan gitu aja.”
“Pegangan tangan? Kok bisa sih pegangan tangan doang bikin pingsan?”
“Gue juga nggak tahu.”
“Wah Ra! Jangan-jangan tangan lo ada virusnya tuh.” ucap Elina.
“Sembarangan aja lo kalau ngomong.” ucap Alexa. “Kalau tangan Liora ada virusnya, harusnya kita yang pingsan duluan, kan kita yang pegangan duluan sama Liora.”
“Oh iya yah.”
“Tapi,” ucap Liora.
“Tapi apa?” tanya Rival.
“Gerald tadi bilang, kalau dia itu suka ngerasain hal aneh kalau deket-deket dan bersentuhan sama cewek.”
“Maksud lo?” tanya Alexa.
“Gerald bilang, kalau dia deket sama cewek, atau pegangan tangan sama cewek, dia bakalan ngerasain hal aneh, kayak jantung berdebar kencang nggak karuan, badan gemeteran kaku, dan pikiran pusing.”
“Hah? Gerald nyeritain hal itu ke lo?”
“Iya.”
“Tapi kok ke gue sama Tevi nggak pernah dia ngasih tahu hal itu.”
“Ya mana gue tahu.”
Pak Helmi, Tevi, dan seorang Dokter laki-laki kemudian tiba di ruangan UKS.
“Ini murid saya, Dok.”
“Saya periksa dulu ya, Pak.”
“Iya.”
Dokter kemudian mulai memeriksa keadaannya Gerald.
“Rival, telepon orangtuanya Gerald!”
“Udah Pah, aku udah telepon Om Raffi. Udah di jalan dia mau ke sini.”
“Bagus.”
Mereka semua kemudian memandang Dokter yang memeriksa Gerald.
“Gimana keadaan murid saya, Dok?”
“Saya nggak nemuin adanya gejala penyakit apapun, Pak. Sepertinya, murid Bapak ini terkena gejala mental. Lebih baik dibawa ke Dokter jiwa saja.”
“Dokter jiwa?” semuanya langsung terkejut saat mendengar bahwa Dokter menyarankan Gerald untuk dibawa ke Dokter jiwa.
“Iya Pak, karena saya tidak bisa menemukan gejala penyakit apapun. Jadi ada kemungkinan, murid Bapak ini mengalami masalah pada mentalnya. Jadi saya sarankan untuk dibawa ke Dokter jiwa saja.”
“Oke Dok, terima kasih atas sarannya.”
“Iya. Kalau begitu saya permisi Pak.”
“Iya silahkan.”
Dokter kemudian pergi. Tak lama setelah itu, Raffi dan Yulia datang untuk menemui Gerald.
“Gerald!” mereka langsung menghampiri Gerald dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa cemas dan khawatir.
“Apa yang terjadi sama Anak saya Pak Helmi? Kenapa Anak saya bisa pingsan begini?”
“Tadi saya sudah panggil Dokter spesialis penyakit dalam, Pak Raffi, dan Dokter tidak menemukan adanya gejala penyakit apapun pada Gerald. Lalu dia menyarankan agar Gerald dibawa ke Dokter jiwa, karena ada kemungkinan, Gerald mengalami masalah pada mentalnya.”
“Astaghfirullahaladzim.” Raffi dan Yulia sangat terkejut mendengar ucapan Pak Helmi barusan.
“Kalau gitu ayo cepet Pah! Bawa Gerald ke Dokter jiwa!”
“Iya Mah.” Raffi lalu bergegas untuk menggendong Gerald.
“Om Raffi. Biar aku sama Tevi aja yang bantu gendong Gerald ke mobil Om.” ucap Rival.
“Oke kalau gitu, makasih ya.”
Tevi dan Rival menganggukan kepala. Lalu membawa Gerald menuju mobil orangtuanya.
“Makasih ya Rival, Tevi.” ucap Yulia.
“Iya Tante. Semoga Gerald cepet sembuh ya.” balas Tevi.
“Aamiin.”
“Kira-kira kalian tahu nggak di mana Dokter jiwa di area sini?” tanya Raffi. “Om belum pernah ngelihat ada psikiater Dokter kejiwaan di daerah sini.”
“Kita juga nggak tahu sih Om. Mending Om cari di google maps aja.” balas Tevi.
“Iya Pah, kita cari pake google maps aja. Biar nanti Mamah yang ngasih tahu jalannya.”
“Yaudah kalau gitu. Makasih atas bantuan kalian ya.”
“Iya sama-sama Om.”
“Ayo Mah!”
“Ayo Pah!”
Raffi dan Yulia kemudian memasuki mobil. Yulia lalu mencari lokasi psikiater terdekat melalui google maps, dan menemukan psikiater terdekat dalam jarak 14 kilometer. Setelah itu mereka langsung melaju menuju psikiater tersebut.
“Mmmhhh.” saat masih dalam perjalanan, Gerald terbangun dari pingsannya. Dia terbangun dalam pangkuan Ibunya.
“Gerald, alhamdulilah kamu sudah sadar sayang.” ucap Yulia tersenyum senang, karena Gerald sudah tersadar dari pingsan. Begitupun dengan Raffi.
Gerald lalu mengambil posisi duduk di sebelah Ibunya. Kemudian menyadari jika dia sedang berada dalam perjalanan bersama orangtuanya.
“Kok aku bisa ada di sini sih, Mah? Ini kita mau ke mana?”
“Kita mau ke Dokter, Gerald. Meriksain kondisi kamu.” balas Raffi.
“Ke Dokter? Meriksain kondisi aku? Emangnya aku kenapa?”
“Tadi kamu pingsan di sekolah, dan kamu disuruh diperiksain ke Dokter jiwa, karena ada kemungkinan kamu ngalamin masalah mental.”
“Gawat! Kalau gue diperiksa ke Dokter jiwa, nanti kebongkar dong kalau gue nggak bisa deket-deket sama cewek. Terus nanti Mamah sama Papah bakalan makin ngekang gue abis-abisan.” ucap Gerald dalam hati.
“Emangnya kenapa kamu bisa pingsan tadi, nak?” tanya Yulia.
Gerald terdiam.
“Kok kamu diem? Mamah nanya loh.”
“Udah-udah, jangan banyak ditanya dulu. Dia baru sadar. Nanti juga kita tahu dia kenapa setelah Dokter jiwa meriksain keadaannya.” ucap Raffi.
Yulia menghela napas panjang sembari menatap putra keduanya itu. “Sini istirahat! Jangan banyak gerak dulu.” lalu menyandarkan kepala Gerald pada dirinya.
“Mampus gue! Sebentar lagi rahasia gue bakalan kebongkar.”