“Jadi waktu di pantai, gue kelihatan jelek gitu?”
“Ya, nggak gitu maksudnya.”
“Pantesan aja lo ninggalin gue gitu aja, karena gue kelihatan jelek waktu itu.”
“Nggak gitu Liora, elo cantik kok. Cuman, lebih cantik kalau rambut lo kayak gini.”
“Serius, gue cantik?”
“Iya, cantik, banget malah.”
“Suka nggak?”
Gerald mendadak terdiam saat Liora bertanya seperti itu.
“Kok diem?”
“Udah ah bercandanya, lanjut baca buku.”
“Siapa yang bercanda? Aku serius loh.”
“Kok jadi pake aku kamu?”
“Ya karena aku serius, aku nggak bercanda.”
Gerald kembali terdiam, dan menatap Liora.
“Apa gue jujur aja ya kalau gue suka sama Gerald. Toh, dia juga udah tahu kalau gue suka sama dia, soalnya kan gue pernah minta foto bareng dia waktu di pantai.” ucap Liora dalam hati.
“Gila! Liora cantik banget! Bikin salting aja nih ditatap dia kayak gitu.” ucap Gerald dalam hati.
“Ger.”
“Hmmm?”
“Beuh! Dehemannya berdamage banget!” ucap Liora dalam hati.
“Aku pengen jujur, boleh nggak?”
“Jujur apa?”
“Wah! Kayaknya Liora mau nembak gue? Tapi, masa sih cewek nembak duluan. Tapi kan waktu di pantai dia terpesona sama gue, berarti dia suka sama gue. Aduh Ger, jangan kegeeran dulu.” celoteh Gerald dalam hati, dia tiba-tiba mendadak salting.
“Aku, sebenernya,”
“Apa?”
“Aku,”
Gerald terdiam menunggu Liora mengucapkan kejujurannya.
“Aku, suka sama kamu.” sampai akhirnya, kata ini keluar dari mulut Liora.
Setelah mengucapkan perkataan tersebut, Liora langsung duduk berbalik badan membelakangi Gerald, sebab dia merasa sangat malu karena menyatakan perasaannya lebih dulu.
Gerald langsung tersenyum senang setelah mendengar kejujuran Liora barusan.
“Nah, bener kan dugaan gue. Liora bakalan nembak gue.” ucap Gerald dalam hati dengan penuh senyuman.
“Aku juga suka sama kamu.”
Liora perlahan kembali membalikan badannya, menghadap Gerald yang sedari tadi tersenyum padanya.
“Kamu serius ngomong kayak gitu?”
“Nggak.”
“Ih!”
“Nggak salah lagi, hahaha.”
“Gerald, serius dong!”
“Ya serius dong, ngapain aku bohong? Cowok mana sih yang nggak suka sama cewek spek bidadari kayak kamu.”
“Serius?”
“Serius, cantik.”
“Kalau suka, kenapa nggak nembak dari kemarin? Atau, nggak dari sejak masih ospek?”
“Soalnya, aku baru inget kemarin, kalau kamu itu cewek yang pernah aku temuin di pantai. Aku tadinya mau nanya ke kamu lewat chatt semalem, tapi nggak berani.”
“Kenapa nggak berani?”
“Malu.”
“Kok malu? Aku aja yang cewek nembak kamu duluan nggak malu.”
“Ya aku kan belum pernah ngedeketin cewek kayak cowok yang lain, jadi aku malu.”
“Terus, sejak kapan kamu suka sama aku?”
“Sejak kita ketemu di pantai. Waktu itu aku terpesona banget sama kecantikan kamu. Makanya aku langsung ngiyain waktu kamu minta foto. Terus, pas inget kemarin, kalau itu kamu, rasa suka aku jadi berubah gitu aja jadi perasaan cinta.”
“Kamu serius, nggak bohong?”
“Serius. Kok kamu bilang aku bohong terus sih?”
“Ya soalnya dari kemarin, sikap kamu itu biasa aja ke aku. Gimana aku bisa percaya coba?”
“Ya kan sekarang aku udah jujur sama kamu.”
“Terus kenapa masih diem?”
“Maksudnya?”
“Kalau kamu cinta sama aku, berarti kamu mau dong, jadi pacar aku.”
“Aku,”
“Kok gugup gitu sih?”
“Aku bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Kamu tahu sendiri kan? Aku dilarang pacaran sama Papah aku. Tiap hari HP aku dicek, jadi aku nggak bisa jadi pacar yang sempurna kayak yang lain. Aku nggak bisa ada di saat kamu butuh aku, aku nggak bisa ngajak kamu makan bareng, nonton bareng, aku cuma bisa ketemu kamu di sekolah doang.”
“Ya terus? Kamu pikir itu bakalan jadi masalah gitu? Aku sih bodoamat.”
“Hah?”
“Bisa dapetin kamu aja aku udah bahagia banget. Lagian, kita di sekolah juga 8 jam tiap hari, cukup kok buat hubungan kita. Di rumah, kita juga bisa chattan, kalau HP kamu dicek, kamu hapusin aja chattan kita.”
“Jadi kamu nggak keberatan, kalau kita pacaran di sekolah aja?”
“Ya nggak apa-apa. Aku sih biasa aja.”
“Nggak yakin aku.”
“Kok gitu?”
“Biasanya cewek selalu pengen dingertiin, apalagi kalau udah kangen. Mana mungkin ada cewek yang mau pacaran di sekolah doang. Apalagi kita bisa berduaan cuman pas istirahat doang. Waktu istirahat di sekolah cuma dua kali, itupun sebentar.”
“Ada kok, aku buktinya. Aku nggak keberatan kok kalau harus pacaran sama kamu di sekolah doang. Aku bakalan nemenin kamu, dari masa SMA, kuliah, sampe kamu sukses.”
“Kita temenan aja ya?”
“Gerald kok ngomongnya gitu sih?”
“Ya habisnya aku takut!”
“Takut kenapa?”
“Aku takut, kalau misalnya pas udah kita jadian nanti, kamu ninggalin aku karena kamu nggak mau pacaran sama aku yang nggak bisa ada buat kamu di luar sekolah. Aku nggak mau nanti aku depresi karena ditinggalin kamu.”
“Kamu kok mikirnya gitu sih? Kan aku udah bilang aku siap nerima kamu. Lagian ngapain sih mikirnya sampe ke sana?”
Gerald terdiam.
“Kok kamu malah diem?”
“Kasih aku waktu ya, buat mutusin keputusan yang tepat buat kita.”
Liora terdiam sejenak. “Yaudah.” lalu kembali membaca buku.
“Ra kamu jangan marah dong.”
“Nggak kok aku nggak marah.”
“Kalau kamu nggak marah kenapa kamu cemberut kayak gitu?”
“Nggak apa-apa.”
“Please, jangan marah dong!”
“Ya habisnya kamu nyebelin, udah aku bilang aku siap nerima kamu, kamunya overthinking berlebihan.”
“Kasih aku waktu, sehari aja. Ya?”
“Oke. Aku tunggu jawaban kamu besok pagi.”
“Oke.”
Rupanya, mereka berdua sudah saling menaruh hati ketika pertemuan pertama mereka di pantai bali. Hingga akhirnya pertemuan mereka membawa mereka ke SMA Garuda Bangsa.
Namun, Gerald belum merasa yakin dengan ucapan Liora yang siap menerimanya. Dia juga sangat takut jika suatu saat Liora akan meninggalkannya, karena dia tidak bisa menjalin hubungan normal seperti orang lain.
Dia merasa sangat takut, apabila suatu saat nanti dia kehilangan Liora, dan hal itu akan membuatnya depresi seperti Omnya, lalu membuatnya berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Itulah yang sangat Gerald takuti.
“Yaudah, kita ke kelas yuk!” ajak Gerald.
“Nggak mau.”
“Kenapa?”
“Pengen di sini berdua sama kamu.”
“Kalau kita ketahuan berduaan di perpus kayak gini, di saat jam pelajaran, nanti kita dimarahin.”
“Mana ada jam pelajaran? Jamkos juga.”
“Tetep aja ini jam pelajaran, harusnya kita ada di kelas. Yuk ke kelas!”
“Tapi nanti di kelas jangan jauh-jauh dari aku.”
“Iya, yuk!”
“Serius? Beneran ya?”
“Iya cantik. Yaudah yuk!”
“Taru lagi bukunya ke rak.”
“Iya.”
Gerald dan Liora kemudian kembali menyimpan buku yang mereka ambil ke rak buku.
“Yuk!” Liora menarik tangan Gerald.
“Ah!” Gerald merasa sangat terkejut saat Liora menggenggam tangannya, dia kemudian langsung melepas tangannya dari Liora. “Jangan pegang-pegang.” ucapnya dengan lembut.
“Kok kamu gitu sih?”
“Aduh! Maaf Ra, aku terbiasa jaga jarak sama cewek, karena sejak SMP, aku dilarang pegangan sama cewek. Makanya gini.”
“Oohh.” Liora tersenyum. “Makanya, kita biasain yuk!”
“Kalau mau pegang di kelas aja ya! Supaya nggak ada Guru yang ngelihat.”
“Oke ganteng.”
“Yaudah yuk!”
“Yuk!”
Mereka berdua lalu melangkah bersama, kembali menuju kelas mereka.