“Iya Pah, Om Raffi. Untuk saat ini, kita maafin mereka dulu ya! Nanti kalau mereka belum berubah, kita bisa tuntut mereka, karena prosesnya pasti gampang.” ucap Liora.
“Jujur, tadi aku nggak tega banget ngelihat Mamahnya Clara nangis shock di sekolah. Kasihan orangtua mereka Pah! Jadi, kita kasih mereka kesempatan sekali aja ya Pah, Om Ridho!”
Mendengar ucapan Anak-Anak mereka, membuat Raffi dan Ridho terdiam.
“Bapak-Bapak,” ucap Pak Polisi. “sepertinya yang diucapkan oleh Anak-Anak kalian ini benar. Devin dan Clara sudah mendapatkan hukuman, yaitu hukuman ujaran kebencian dari seluruh warga Indonesia, karena mereka sudah mengklarifikasi kebenaran masalah ini, yang mengakibatkan nama mereka hancur. Jadi, saya setuju dengan Anak-Anak kalian, untuk memberi Devin dan Clara satu kesempatan. Jika mereka berani melakukan kesalahan lagi kepada Anak-Anak kalian, kalian bisa langsung laporkan mereka saja, maka kami akan menindak lanjuti mereka.”
Raffi dan Ridho terdiam.
“Pah, maafin Devin sama Clara ya!” pinta Liora sembari memegang tangan Ayahnya.
“Maafin Devin sama Clara ya Pah!” pinta Gerald, sembari memegang tangan Ayahnya juga.
“Oke, saya selaku Ayahnya Gerald, akan memaafkan kesalahan Devin dan Clara.” ucap Raffi.
“Ya, saya selaku Ayahnya Liora, juga memaafkan kesalahan mereka.” ucap Ridho.
Akhirnya, Ayah mereka mau memaafkan kesalahan Devin dan Clara. Hal itu langsung membuat Gerald dan Liora tersenyum senang.
“Tapi jika mereka berani melakukan kesalahan lagi kepada Anak-Anak kami, saya tak akan sudi untuk memaafkan mereka lagi.” ucap Raffi.
“Iya, saya pun seperti itu.” ucap Ridho.
“Baik Bapak-Bapak, jika ada apa-apa, langsung saja melapor pada kami.”
“Iya Pak, kalau begitu, kami pamit.” ucap Ridho.
“Iya, silahkan.”
Raffi, Ridho, Gerald dan Liora kemudian keluar dari ruangan tersebut.
“Gerald, Liora, kalian habis ngapain di dalem?” tanya Silvia.
“Habis ngebujuk Papah, supaya nggak nuntut Devin sama Clara, dan ngemaafin mereka.” balas Liora.
“APA?” Maya, Yuni, Silvia dan Anton langsung terkejut mendengar ucapan Liora barusan.
“Maksud kamu ngomong gitu apa Liora?” tanya Anton.
“Sudahlah! Jangan bahas masalah ini lagi!” ucap Ridho. “Apa yang dikatakan Gerald dan Liora itu benar, kita seharusnya memaafkan Devin dan Clara, karena mereka telah menebus kesalahan mereka.”
“Kok Papah malah dengerin omongannya Liora sih? Bukannya kita semua udah ngomongin ini semua ya di rumah?” tanya Silvia.
“Devin dan Clara, sudah menebus kesalahan mereka, dengan menjatuhkan nama mereka sendiri. Ya, mereka telah menjatuhkan nama mereka sendiri, dengan membuat video klarifikasi, yang membenarkan jika mereka bersalah. Itu membuat mereka langsung mendapat ujaran kebencian dari seluruh penduduk Indonesia. Jadi, itu sudah cukup untuk jadi hukuman mereka.”
“Ya, mereka sudah dibenci dan dihujat oleh semua orang dari seluruh penduduk di Indonesia ini. Jadi, hal itu sudah cukup untuk membuat mereka jera, karena hal itu benar-benar merupakan hukuman yang luar biasa bagi mereka.” ucap Raffi. “Jadi, untuk sekarang, kita maafkan saja dulu mereka. Nanti, jika mereka berani melakukan kesalahan yang sama lagi kepada Gerald dan Liora, kita langsung saja memproses hukuman mereka.”
“Jadi, Papah sama Om Ridho udah maafin mereka gitu aja?” tanya Anton. “Biar bagaimanapun, mereka itu--”
“Sudahlah Anton!” potong Raffi. “Keputusan Papah dan Om Ridho, adalah keputusan yang terbaik untuk sekarang.”
“Benar!” ucap Ridho. “Lagi pula, jika ada masalah lagi yang mereka lakukan, kita bisa melaporkan mereka untuk ditindak pidana. Jadi tidak perlu khawatir!”
“Yasudah, terserah Papah saja. Mamah ikut aja.” ucap Yuni.
“Iya, aku juga.”
“Hmmm.” Anton dan Silvia berdehem kesal, karena orangtua mereka telah memaafkan Devin dan Clara.
“Pak Ridho.” panggil Raffi.
“Iya Pak Raffi?”
“Gimana kalau sekarang kita pergi ke rumahnya Devin dan Clara! Untuk membicarakan hal ini dengan orangtua mereka.”
“Boleh, ayo!”
“Tapi, tidak dengan Anak pertama kita.”
“Memangnya kenapa?”
“Emosi mereka masih memuncak, jadi lebih baik kita biarkan mereka pulang. Takutnya, jika mereka ikut bersama kita, mereka malah membuat keributan.”
“Anda benar Pak Raffi. Saya setuju! Kalau gitu, Anton sama Silvia, kalian pulang aja pake taksi ya! Karena kita mau pergi ke rumahnya Devin dan Clara.”
“Segitunya banget sih Pah. Yaudah yuk Ton!” Silvia lalu menarik tangan Anton, pergi dari tempat tersebut.
“Sil!” panggil Anton kepada Silvia, yang kini sudah menarik tangannya sampai tiba di pinggir jalan. “Silvia!”
“Apa?” Silvia lalu melepas tangan Anton, dan menghentikan langkahnya.
“Pelan-pelan dong jalannya. Jangan cepet-cepet!”
“Ah! Habisnya gue kesel sama Papah kita! Bisa-bisanya mereka lebih milih ngedengerin omongannya para bocah itu daripada kita yang udah dewasa.”
“Ya mau gimana lagi? Papah kita udah berpikir sama kayak Gerald sama Liora, nggak bisa kita ubah lagi pikiran mereka.”
“Lagian si Gerald sama Liora kenapa baik banget sih? Kenapa mereka mau gitu aja ngemaafin orang yang udah ngejahatin mereka, yang kejahatannya itu di luar batas banget? Heran gue!”
“Gue juga heran! Udah kita belain supaya si Devin sama si Clara dapetin hukuman. Eh! Mereka malah ngebelain orang jahat yang udah jahatin mereka. Aneh banget emang!”
“Udah ah! Nggak usah bahas masalah ini lagi! Males gue!”
“Iya. Yaudah mending sekarang kita balik aja!”
“Lah! Jangan dulu dong!”
“Ya terus, mau ngapain?”
“Kita refreshing dulu kek. Ke mana gitu? Ngedinginin ni kepala sama hati yang lagi panas banget.”
“Ngedinginin pikiran sama hati yang paling ampuh itu, ya tidur. Udah kita balik aja yuk! Bobo siang!”
“Nggak mau ih! Please! Lo temenin gue jalan ya!”
“Jalan ke mana? Kita banyak tugas kuliah loh.”
“Ke danau aja yuk!”
“Ngapain ke danau?”
“Ya ngelihat suasana yang adem, biar ngademin pikiran sama hati. Yuk! Udah lama juga gue nggak ke danau.”
“Nggak ah, jangan danau.”
“Terus ke mana?”
“Mending ke taman aja, di sana lebih adem suasananya.”
“Gundulmu adem! Taman ya rame lah suasananya, panas juga siang-siang gini, banyak orang juga. Adem dari mananya coba?”
“Ya carinya pojok yang sepi dong, supaya bisa nenangin pikiran.”
“Udahlah ke danau aja! Titik nggak pake koma.”
“Jangan danau dong!”
“Emangnya kenapa sih? Kenapa lo nggak mau ke danau?”
“Ya gue takut aja, takut ada buaya. Secara, buaya kan kebanyakan hidupnya di danau.”
“Danau wisata yang ada di kota kita ini aman Anton, kan udah dipastiin keamanannya sebelum dibuka jadi tempat wisata. Gimana sih lo?”
“Yaudah deh serah.”
“Taksi.” kebetulan, taksi lewat di hadapan mereka. Silvia langsung menghentikan taksi tersebut, setelah itu dia dan Anton langsung melaju menuju danau wisata yang ada di kota mereka.