Trip

1377 Kata
Teriknya matahari masih menyilaukan hari mereka. walaupun sekarang sudah pukul tiga lebih tapi panasnya matahari masih menyala. Tapi mereka tetap menikmati keindahan kota semarang. Dhira mengajak Dian berjalan menyusuri jalanan sekitar kota lama. Sebenarnya tadi dia sudah mengunjungi beberapa tempatnya. Seperi Gedung Marbel tapi dia ingin menunjukkan lagi kepada Dian keindahan gedung-gedung tersebut. Seperi Dhira, Dian juga terkesima melihat bangunan-bangunan ala eropa itu. Dia tak henti-hentinya mengambil foto disana. Dia terlihat begitu excited. Kemudian mereka melanjutkan pengembaraan mereka. di seberang gedung marbel ada sebuah taman srigunting yang disana terdapat sebuah Gereja bergaya eropa. Gereja Bleduk namanya. Gereja tersebut merupakan Landmark kota lama yang memiliki atap seperti kubah. Mereka bergerak seratus meter melewati pasar barang-barang tua. Dilihatnya barang-barang yang ada disana sebelum mereka berhenti di sebuah galeri seni. Bangunan yang didesain minimalis dengan dominan warna putih, lantainya terbuat dari kayu diambah dengan railing kaca yang menambah suasana modern membuat siapapun yang berkunjung kesana tak heni-hentinya terkesima. “Ra, aku gak paham seni tapi aku suka lihatnya. Keren banget sih ini.” Ujarnya begitu terkesima. Dhira mengangguk setuju. Sebenarnya dia juga tak begitu mengerti tentang seni, apalagi seni lukis. Tapi meliha jajaran lukisan itu, begitu memanjakan matanya. Tak hanya seni lukis saja yang ada disana, tapi ada juga seni ukir dan patung. Semuanya disajikan dengan sangat apik sehingga pengunjung pun puas melihatnya. Sepulangnya darisana, mereka mulai berburu kuliner. Disana ada rekomendasi makanan enak. Mereka tertarik untuk makan sate kambing khas semarang yang tak jauh darisana. Kemudian malamnya mereka mencari kafe terdekat untuk menikmati suasana malam kota semarang sembari ngopi santai. “keren banget sih ra. Pinter ya lu cari tempat.” Pujinya pada Dhira. “iyalah. Siapa dulu.” Ujarnya dengan bangga. Mereka menghabiskan malam mereka dengan bercerita kesana kemari. Dari obrolan santai sampai yang mendalam. Dari yang ketawa ketiwi sampai menangis satu sama lainnya. Memang terkadang mereka membutuhkan waktu untuk bersama. Meletakkan sejenak beban pikiran yang ada. Hari kedua mereka kembali menjelajahi kota semarang. kali ini mereka mengunjungi salah satu destinasi wisata berserjarah di Semarang yang masih berkaitan erat dengan sejarah islam. Klenteng Sam Poo Kong namanya. “Bangunannya oriental banget ya Ra. Emang sejarahnya gimana sih?” tanya Dian penasaran ketika mereka sudah tiba di klenteng tersebut. Mereka sedang berada di area depan klenteng yang didominasi warna merah itu. Tentu saja bentuk bangunannya seperti arsitektur bangunan di china. “setahuku ya Ra, klenteng ini tuh dibangun abad-15 gitu. Nah tempat ini dulunya dijadikan persinggahan oleh seorang Laksamana cheng Ho atau dikenal dengan Sampo. Dia tuh seorang penjelajah terkenal dunia yang berasal dari tiongkok tapi dia ini seorang muslim mbak.” “wih keren yaa. Terus kenapa dia nih bisa mendarat disini?” “sebenarnya nih dia gak punya niat buat mampir kesini. Dia sedang melakukan pelayaran melewati perairan jawa dengan tujuan diplomasi, perdagangan dan penyebaran pengaruh Tiongkok di Asia Tenggara. Lalu tiba-tiba ada salah satu awak kapalnya yang sakit waktu itu, jadi dia memutuskan untuk singgah sebentar untuk berobat.” “ohh gitu ya. Menarik yaa.” “iya mbak. Itulah kenapa ada patung laksamana Cheng ho disini.” Dhira menunjuk patung yang berdiri kokoh tepat di depan klenteng itu. Dian mengangguk mengerti. Mereka pun lanjut mengeksplor klenteng itu. Tentu saja Dhira tak lupa memotret setiap sudutnya. Setelah puas mengeksplor klenteng sam poo kong, mereka bergerak sekitar 7,6 kilometer menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid yang terkenal di Kota Semarang ini karena bangunannya yang begitu megah dan terdapat pilar-pilar payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi. Mereka membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai kesana. Untung saja mereka menyewa motor sendiri, jadi mereka bebas mengeksplor kota semarang sampai puas. Tepat sekali, mereka sampai disana ketika dzuhur berkumandang. Mereka pun shalat terlebih dahulu disana. Setelah itu baru lah mereka menikmati keindahannya. Bangunan megah itu dirancang dengan gaya arsitektural campuran jawa, arab, dan romawi. Bangunan utamanya beratapkan limas khas bangunan jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi kubah besar berdiameter 20 meter ditambah dengan 4 menara masing-masing setinggi 62 meter. Mereka bisa melihat gaya romawi terlihat dari bangunan 25 pilar di pelataran masjid. Pilar-pilarnya juga bergaya koloseum di Roma dihiasi kaligrafi-kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 nabi dan rasul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis abjad jawi ‘Sucining Guno Gapuraning Gusti.’ “Ra, thankyou banget loh. Kalo kamu gak ngajak aku travelling kek gini, aku gak akan pernah lihat tempat-tempat ini di belahan bumi lainnya.” Dian berkata dengan tulus. Dia benar-benar bersyukur bisa mengeksplor tempat-tempat baru dan bersejarah seperti itu. Selain mendapat keuntungan secara estetika, dia juga mendapatkan ilmu baru mengenai sejarah suatu tempat. “Sama-sama mbak Dian. Seperti janjiku, aku bakal bikin kamu ketagihan sama travelling.” Dhira tersenyum bangga dengan dirinya sendiri karena misinya sukses. “You did it Ra. Next trip, ajak aku lagi.” Dhira bersorak senang. Akhirnya Dian si manusia paling introvert dan gak pernah kemana-mana, memutuskan untuk jadi traveller sepertinya. “Siap kalo itu.” Ujarnya dengan senyum bahagia. Usai puas menganggumi masjid agung Semarang, mereka mulai bergerak kembali. Rasanya perut mereka sudah meronta-ronta minta diisi. Mereka pun mampir di sebuah tempat makan yang tak jauh darisana. Tak lupa mereka juga mampir ke toko oleh-oleh untuk mereka bawa dan bagikan ke keluarga serta teman-teman mereka. kalau di Semarang tentu saja oleh-oleh yang wajib dibawa adalah Lumpia, bakso tahu dan juga bandeng presto. Tapi lumpia disana bukan sembarang lumpia. Umumnya lumpia hanya diisi dengan wortel, kubis dan lainnya. Lumpia semarang berbeda dari lumpia lainnya karena menggunakan isian rebung yang memang jarang sekali digunakan. Menjelang sore, mereka mengunjungi destinasi terakhir mereka. tempat terakhir yang menutup perjalanan mereka di Semarang ini. Tempat yang juga wajib dikunjungi jika berkunjung di Semarang. “Ini beneran Ra, pintunya ada seribu?” tanya Dian penasaran. Ya, mereka telah tiba di Lawang Sewu. Tempat bersejarah peninggalan Belanda yang menjadi Ikon kota Semarang. Dulunya Lawang Sewu digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api Belanda atau dikenal dengan NIS (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatshappij). Tempat ini juga menjadi saksi sejarah masa pendudukan jepang sebagai kantor transportasi dan penjara. Juga menjadi lokasi pertempuran lima hari antara pejuang Indonesia dan tentara Jepang pada Oktober 1945. Nah, saat ini Lawang Sewu difungsikan menjadi museum dan tempat wisata edukasi. “Kalo yang aku baca di internet sih sebenarnya dia dinamakan lawang sewu karena banyaknya jendela dan pintu yang terdapat di bangunan ini mbak. Tapi jumlahnya sebenarnya tak mencapai seribu.” Jelasnya membuat Dian mengangguk mengerti. “Aku sering lihat lawang sewu ini sering dikaitkan dengan hal mistis Ra, kenapa ya? Padahal tempatnya estetik gini.” “mungkin karena dulu tempat ini juga dijadikan sebagai penjara dan tempat eksekusi mati mbak. Jadi di dalam bangunan ini ada sebuah ruang bawah tanah yang digunakan untuk memenjara dan mengeksekusi mati para pejuang. Itulah kenapa lawang sewu ini selalu dikaitkan dengan hal-hal mistis.” “Hah? Demi apa Ra? Jadi merinding deh.” Dian merapatkan tubuhnya kearah Dhira usai mendengar cerita tersebut. Dhira tertawa kecil melihatnya. “Ya begitulah mbak. Itulah sejarah kelamnya. Tapi terlepas dari itu semua, tempat ini merupakan tempat yang bagus untuk dikunjungi apalagi untuk tahu sejarah kereta api dari jaman dulu.” Tentu saja itu menjadi hal yang menarik bagi Dhira. Dia adalah salah satu orang yang selalu suka dengan Kereta Api. Bahkan dia selalu menjadikan kereta api sebagai bagian dari setiap perjalanannya. Disana mereka bisa melihat replika lokomotif uap, mesin tik, mesin hitung, koleksi alkmaar dan dokumen sejarah lainnya. Siapapun yang berkunjung kesana juga akan berkesempatan untuk menikmati wahana imersif tentang sejarah perkeretaapian, menjelajai arsitektur kolonial belanda di setiap lorong-lorongnya dan juga menyaksikan kaca patri yang unik. “Gimana, gak menyeramkan kan?” tanya Dhira setelah mereka selesai menjelajahi lawang sewu dan melihat setiap apa yang mereka suguhkan disana. Tentu saja rasa takjub menyelimuti suasana hati mereka. melihat sejarah yang pernah ditorehkan pada zaman dahulu. Seakan mereka melakukan kilas balik ke masa itu. “Gak menyeramkan sama sekali sih Ra. Karena otak ini udah fokus sama hal-hal menarik disini.” Ujarnya jujur. “Nah itulah. Gak ada yang menyeramkan kalo kita fokusnya pada hal-hal positif.” Dian pun mengangguk setuju dengan pernyataan itu. Usai sudah perjalanan mereka kali ini. Hari sudah mulai gelap. Dengan berat hati mereka pun perlahan meninggalkan lawang sewu. Tempat yang tak akan pernah mereka lupakan atau bahkan tempat yang akan mereka kunjungi lagi di kemudian hari. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN