Dhira kembali mengedarkan pandangan ke sekitar. Biasanya dia juga melihat-lihat tempat yang ada disana. Siapa tahu nanti dia butuh ke tempat tersebut.
Dia menemukan apotek, klinik, warung nasi padang, minimart dan tempat lain yang mungkin akan dia butuhkan nantinya.
Jovan memelankan laju motornya kemudian dia pun berhenti di sebuah kafe aesthetic bergaya rustic ala eropa. Mata Dhira berbinar melihatnya. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak memotret kafe itu.
Mereka melangkah masuk ke dalam kafe tersebut. Suasana kafe begitu nyaman dan hommy. Dhira tanpa sadar mengucap ‘wow’ ketika dia menelisik lebih jauh kafe itu. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe dan dia merasa takjub akan hal itu.
“Ra, sini, mau pesan apa?” tanya Jovan memecahkan rasa takjub Dhira itu.
Gadis itupun berlari kecil menghampiri Jovan. Lelaki itu tak bisa menahan senyum simpul di wajahnya itu ketika melihat raut wajah takjub Dhira yang begitu menggemaskan.
Selesai memesan, Dhira mengambil tempat duduk yang dekat dengan jendela dan menghadap keluar. Dia ingin menikmati kopi sembari menyaksikan orang berlalu lalang di jalan. Menikmati suasana kota semarang yang begitu syahdu.
“kamu suka ?” tanya suara itu lagi memecah keheningan.
Dhira mengangguk antusias sembari tersenyum lebar.
“terimakasih sudah mengajak saya kesini.” Ujarnya dengan raut wajah bahagia yang tak bisa disembunyikan lagi.
“tidak usah terlalu formal begitu. Pakai aku kamu saja.” Pintanya yang dijawab anggukan mengerti oleh perempuan itu.
Tak lama kopi terhidang. Mereka pun menyeruput kopi pesanan mereka masing-masing ditemani dengan lumpia isi rebung khas semarang.
“kamu gak mau?” tanya Dhira ketika melihat Jovan tak menyentuh sedikitpun lumpia yang dihidangkan.
“aku tidak suka.” Jawabnya begitu sederhana. Dhira hanya mengangguk saja.
Kemudian suasana hening kembali tercipta. Mereka seakan tenggelam pada pikiran mereka masing-masing.
“kata bapak ibu, kamu suka mengembara ya?” tanya lelaki itu memecah keheningan.
“Cerita apa saja bapak ibuku? Dia gak cerita yang aneh-aneh kan?” tanya Dhira panik. Lelaki itu tertawa renyah.
“tidak cerita apa-apa. Tidak ada yang aneh. Seperti orangtua menceritakan anaknya pada umumnya saja.” Jelasnya yang tidak membuat Dhira puas. Dia yakin pasti bapak ibunya menceritakan hal-hal yang tak dia inginkan.
“tapi apa? Tentang apa contohnya?” pancing Dhira ingin tahu tentang apa yang mereka bicarakan.
“hal biasa saja Ra. Mereka bilang kalau kamu suka jalan-jalan keluar kota. kamu suka jalan-jalan naik kereta. Itu aja sih.” Ujarnya lalu menyeruput kopi miliknya.
Dhira melayangkan tatapan menginimidasi padanya. Dia yakin itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.
“Hal lainnya?” tanyanya dengan tatapan penuh intimidasi seakan meminta kejujuran dari lelaki itu.
“gak ada.” Jawabnya.
Dhira bisa menangkap gelagat aneh dari raut wajah Jovan. Dia penasaran tapi dia tak bisa memaksa lelaki itu untuk berbicara lebih banyak lagi. Dia pun menyerah dan tak bertanya lagi. Dia kembali menatap kosong kearah jalanan kota semarang dihadapannya sembari menyeruput kopi ditangannya itu. Sedangkan Jovan hanya melirik sekilas lalu tersenyum simpul.
“Mereka menceritakan betapa mereka membutuhkan kamu di hidup mereka. mereka sadar kalau seharusnya mereka tak mengekang kamu, dan membiarkanmu lepas juga bebas. Namun, ibumu tak merestuinya kan? Dia ingin kamu tetap disisinya karena kamu satu-satunya. Jadi hanya dengan cara ini mereka harap bisa menghiburmu. Membiarkanmu berkelana tapi tetap bisa kembali pulang.” Ujar lelaki itu dengan suara tenangnya. Dhira menoleh sejenak kearah lelaki yang sedang menerawang ke depan itu.
“Mereka sayang sama kamu Ra. Tapi terkadang kata sayang itu tak pernah terucap.” Mendengar hal itu, hati Dhira merasa tersentak. Pelupuk matanya terasa hangat. Dia mencoba menguasai dirinya dan tak membiarkan air mata itu jatuh.
“nangis aja, gak usah ditahan.” Ujar lelaki itu membuat Dhira spontan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Apa sih, siapa juga yang mau nangis.” Elaknya.
Padahal dibalik tangannya, matanya sudah basah. Dhira beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke kamar mandi. Dia tak mau Jovan melihat wajahnya yang berlinang air mata itu.
Jovan mengerti apa yang dirasakan Dhira. Dia tak banyak bertanya maupun berkomentar. Dia cukup memberinya ruang untuk memvalidasi perasaan sedih yang sedang melanda dirinya.
Selesai mereka bercengkrama di kafe tersebut, mereka pun pindah lokasi. Jovan mengajak Dhira makan soto koyor yang terkenal disana. Karena memang pas sekali jam makan siang telah tiba.
Perempuan itu sangat menikmatinya. Baru kali ini dia merasakan soto seenak itu. Dia pasti akan ajak Dian untuk makan disini juga nanti.
Kamera Dhira sudah jadi, kembali bagus seperti sediakala. Senyumnya merekah indah ketika bertemu kembali dengan kamera yang lensanya kini sudah diperbaiki.
“Berapa mas?” tanya Dhira sembari mengeluarkan dompetnya.
“Sudah mbak. Sudah dibayar.” Ujar mas penjaga toko tersebut.
“dibayar siapa?” mas penjaga toko itu tidak berucap tapi matanya melihat kearah Jovan.
“Sudah ayo pulang. Nanti temanmu mencarimu.” Ujar Jovan sembari jalan terlebih dahulu.
“makasih yaa mas. Permisi.” Pamit Dhira kemudian berjalan menyusul lelaki tersebut.
Dhira mencari cara untuk mengganti uang Jovan. Sebab daritadi Jovan yang membayari semuanya. Mulai dari kafe sampai makan siang. Ini biaya service juga dia. Tentu saja Dhira merasa tak enak hati.
Lelaki itu menghentikan motornya tepat di depan hotel tempat Dhira menginap. Perempuan itu menahan jaket yang dikenakan oleh Jovan lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya pada Jovan.
“Ini, aku tidak mau berhutang dengan orang.” Ucapnya sembari menyodorkan uang itu.
“jangan dianggap hutang kalau begitu.” Jawabnya santai.
“mana bisa. Ini terima saja.” Dhira tak kehilangan cara. Dia memasukkan uang itu kedalam saku jaket Jovan. Walaupun emang tidak sopan, tapi dia terpaksa melakukannya.
Jovan kembali menahan tangan Dhira. Kemudian meletakkan lembaran uang itu di genggaman gadis itu
“Aku tidak menganggapnya hutang. Aku ikhlas. Anggap saja itu sedekah. Sudah jangan repot lagi. Kembalilah ke dalam.” Ujarnya tegas tanpa penolakan.
Tanpa berlama-lama lagi Jovan menarik gas motornya dan menjauh meninggalkan perempuan itu. Dhira hanya bisa mematung ditempatnya. Dia tak sempat membuat perlawanan lagi.
“Terimakasih.” Ucapnya entah pada siapa.
Dhira masuk ke dalam kamar hotel. Disana dia dapati Dian sudah berdandan rapi. Wajahnya sudah segar sekarang tak lesu seperti awal tadi. Mungkin setelah tidur siang, energinya kembali.
“Ra, kamu tadi kemana saja? Kok lama banget.” Dhira hanya tersenyum simpul. Dia juga bingung hendak menjelaskannya darimana. Tak mungkin dia cerita kalau dia pergi dengan Jovan. Bisa-bisa dia mengulik sampai akarnya nanti.
“Tadi kameraku jatuh. Jadi aku service dulu. Agak lama tapi sekarang alhamdulillah sudah baik-baik saja.” Jelasnya. Dian mengangguk mengerti.
Dhira bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk berpetualang bersama dengan Dian. Walaupun dia sudah mencuri start tadi bepergian duluan tapi itu bukan masuk ke dalam hitungan perjalanannya.
***