Terik sinar matahari di kota penuh sejarah itu menyambut kedatangan dua orang perempuan yang sedang menikmati masa-masa bebasnya. Mereka tak memikirkan pekerjaan, kasus atau masalah-masalah lainnya. Mereka hanya fokus untuk berliburan kali ini. Mereka berjalan menyusuri stasiun semarang tawang dan menilik keindahan arsitekturnya yang masih khas seperti jaman dulu.
Mereka menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam setengah. Mereka berangkat pukul tujuh pagi dan sampai disana sekitar pukul sepuluh. Karena mereka belum makan apa-apa tadi, hanya makan roti dan s**u saja, jadi mereka memutuskan untuk melangkahkan kaki mereka ke tempat makan terdekat.
Tentunya Shadira sudah melakukan research tentang tempat makan yang enak disana juga dekat dengan lokasi mereka turun. Mereka langsung mampir di tempat makan ramesan yang tak jauh dari stasiun tempat mereka berhenti.
Usai mengisi amunisi, mereka kembali bergerak menuju hotel yang telah Dhira pesan. Tentu saja hotel itu tak jauh dari stasiun. Hanya berjarak 600 meter saja atau mereka hanya butuh waktu lima menit untuk sampai disana.
Shadira sengaja memilih hotel yang dekat dengan stasiun agar mereka tidak perlu banyak menggunakan angkutan kesana kemari. Tempatnya juga strategis, dekat dengan tempat wisata lainnya. Pokoknya dia sudah menyiapkan ittenerary untuk mereka sebaik mungkin.
“Hah, akhirnya.” Dian menghembuskan napas lega setelah ia bisa mendaratkan punggungnya di kasur empuk hotel yang mereka pesan.
Mendengar hal itupun, Dhira tertawa. Padahal perjalanan saja belum dimulai tapi Dian sudah merasakan capeknya.
“kita istirahat dulu sampai jam 3 ya mbak. Nanti jam 3 kita akan mulai berpetualang.” Jelas Dhira membuat Dian menggerutu.
“bisa gak sih kita tiduran aja disini. Diluar panas banget. Matahari serasa ada sepuluh. Aku juga udah cape Dhira.” Keluhnya membuat Dhira geleng-geleng kepala.
“ih, apa gunannya kita jauh-jauh kesini kalo Cuma buat tidur di hotel mbak.” Ujarnya sembari tertawa.
Dhira pun membiarkan temannya itu beristirahat sejenak. Dia tak bisa tidur, jadi dia putuskan untuk keluar sejenak ingin mengeksplor sedikit tentang semarang. Dia hanya membawa slingbang kecil untuk membawa dompet dan juga ponselnya. Tak lupa juga dia membawa kamera instax mini evo kesayangannya. Kamera yang selalu menemani perjalanannya dan membantunya mengabadikan setiap momen yang ada.
Dia perlahan melangkahkan kakinya menuju tempat vintage yang menjadi ikon dari kota semarang. Kota lama namanya. Tempat yang begitu banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang berkunjung kesana. Dhira menatap takjub kearah gedung-gedung bergaya khas eropa yang sudah berumur ratusan tahun itu. Di Gedung tersebut tertulis ‘Marba’. Gedung dengan warna dominan merah bata yang dulunya difungsikan menjadi sebuah toko kelontong bernama 'Zikel’ yang dibangun oleh pengusaha Jerman bernama Carl Zikel. Namun di tahun 1930 toko tersebut gulung tikar dan berganti pemilik. Marta Badjunet namanya. Seorang saudagar kaya dari Yaman. Gedung itu kemudian dinamakan Marba yang merupakan singkatan dari nama pemiliknya. Setelah itu gedung Marba dialih fungsikan menjadi kantor pelayaran ekpedisi muatan kapal laut. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini beralih fungsi dan dikelola oleh pihak Indonesia.
Pintu dan jendela berukuran besar, elemen yang ada pada gedung itu dekoratif dan langit-langitnya yang tinggi. Pada masa itu memang kota lama ini adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda. Tak heran jika masih meninggalkan vibes ala eropa.
Dhira asik memotret dari segala penjuru. Dia begitu terkesima dan tak henti-hentinya mengucap ‘wow’ setiap dia menemukan spot yang menarik menurutnya. Disana juga ada lampu-lampu jalan yang begitu indah tertata. Bisa dibayangkan bagaimana indahnya sewaktu malam tiba.
Perempuan itu asik memotret sampai tak memperhatikan jalannya. Dia hendak berbalik tapi dia tak tahu jika dari arah kanannya ada orang yang sedang berjalan. Alhasil mereka pun bertubrukan.
“prakkkk.” Suara nyaring itu terdengar bersamaan dengan teriakan terkejut dari perempuan itu.
Dia membelalakkan matanya ketika menatap kamera kesayangannya sudah tergeletak di tanah tak jauh dari tempatnya berpijak. Tanpa pikir lama dia langsung mengambilnya dan mengecek keadaannya. Dibolak-baliknya kamera itu dan yap, lensanya pecah.
“Maaf. Saya tidak sengaja menabrakmu tadi.” Ujar sebuah suara maskulin membuat Dhira mendongakan kepalanya dan melihat kearah sumber suara. Matanya membulat ketika dia menyadari siapa lelaki di hadapanya itu.
“kamu?” ucapnya menggantung.
“loh, Dhira. Kenapa kamu disini?” tanya lelaki itu yang juga tak kalah terkejutnya.
“saya sedang liburan disini bersama teman. Baru saja sampai. Kamu?” tanya Dhira dengan nada penasaran.
“aku ada urusan pekerjaan.” Shadira mengangguk mengerti. Dia tak bertanya lebih lanjut karena dia tak mau dianggap kepo dengan urusan orang lain.
Perhatiannya kembali tertuju pada kamera yang sudah tak berfungsi lagi. Raut wajahnya mendadak redup. Itu kamera kesayangannya. Dia beli itu hasil kerja kerasnya sendiri.
“coba aku lihat.” Pinta lelaki itu.
Dhira memberikan kamera itu padanya. Lelaki itu mencoba menelisik apa yang harus diperbaiki.
“ini lensanya harus diganti. Sebentar coba aku tanyakan temanku dimana tempat service terdekat.” Ujar lelaki itu kemudian dia sibuk berkutat dengan ponselnya dan mencari sebuah nama disana.
Dhira sibuk meratapi kameranya yang sudah tak sempurna lagi. Rasa sedihnya begitu terasa mengingat untuk mendapatkan barang itu dia juga harus menabung terlebih dahulu. Kamera itu juga menyimpan banyak kenangan bersamanya. Jadi dia merasa tak rela jika kamera itu tak bisa digunakan lagi.
“disana ada service kamera. Tiga puluh menit perjalanan.” Ujar lelaki itu usai melakukan panggilan telepon dengan temannya.
“alamatnya mana? Bisa share location saja gak?” pinta perempuan itu.
“ayo aku antar saja kesana. Aku juga harus bertanggungjawab. Aku yang membuat kamera kamu jatuh.” Usulnya membuat Dhira sontak langsung menggeleng. Dia menolak permintaan itu.
“tidak papa, nanti biar saya dan teman saya saja yang kesana. Cukup berikan alamatnya saja.” Pinta Dhira dengan sopannya.
“aku sudah selesai bertugas. Aku masih ada waktu. Ayo, aku antar saja.” Ucapnya telak seakan tak bisa ditolak.
Belum juga Dhira mengutarakan penolakannya. Lelaki itu sudah lebih dulu berbalik dan menelpon seseorang. Entah siapa gerangan yang ditelponnya itu.
“tunggu bentar ya Ra. “ ujarnya.
Dhira tak tahu apa yang harus ditunggu. Dia pun tak tahu apakah dia harus pergi dengan lelaki itu ataukah tidak. Tentu saja Dia ingin kameranya kembali seperti semula lagi, apalagi ini baru awal perjalanan mereka. namun, disisi lain dia tak mau terlalu dekat dengan lelaki itu. Dia merasa bimbang.
“Ra, ayo!” panggil sebuah suara membuat Dhira tersadar dari lamunannya.
Dhira menoleh kearah lelaki yang saat ini sudah berada di tepi jalan bersama seorang lelaki yang membawa motor untuk mereka. dia menatap bingung kearah lelaki bertubuh maskulin itu.
“Ra, kok malah bengong. Ayo kita perbaiki kameramu.” Ujar lelaki itu lagi membuat Dhira tersadar. Dia pun melangkahkan kakinya mendekat kearah mereka.
“Ini motor siapa?” perempuan itu bertanya untuk memastikan saja.
“Motor saya mbak. Saya rekan kerja pak Jo.” Jelas lelaki berseragam itu. Entah seragam apa yang ia kenakan. Tapi ada logo KAI disana. Dhira mengangguk seraya melemparkan senyum manisnya.
Dhira dengan ragu menaiki jok belakang motor itu. Dia bisa mencium wangi musk menguar dari tubuh lelaki itu. Dhira menjaga jarak aman untuk mereka. dia benar-benar tak menyangka akan berboncengan dengan lelaki itu.
Sepanjang perjalanan mereka tak ada yang buka suara. Jovan fokus menyetir sedangkan Dhira menyapukan pandangannya ke sekeliling jalan. Dia melihat suasana di semarang tak jauh berbeda dengan Yogyakarta. Tapi ada sesuatu yang unik tentunya. Bangunan- bangunan khas peninggalan belanda dan arsitektur khas eropa masih kental disini.
“Kamu berapa hari Ra disini?” tanya Jovan sediki menoleh ke belakang. Dhira yang daritadi mengembara pun tersentak dengan panggilan itu.
“Hah? Apa?”
“Kamu berapa hari disini?” tanyanya lagi dengan nada yang sedikit keras.
“Cuma dua hari. Besok malam sudah harus kembali.” Jawabnya.
Percakapan selesai. Suasana kembali sunyi.
Untungnya tak lama mereka sampai di tempat service kamera itu. Dhira bisa menghela napas lega karena akhirnya kameranya bisa diperbaiki. Setidaknya dia masih bisa mengabadikan momen bersama kamera tersayangnya itu.
Jovan tersenyum melihat raut wajah Dhira yang sudah kembali ceria. Sebab sejak tadi dia melihat wajah murung Dhira karena khawatir dengan kameranya.
“Maaf kak, ini butuh waktu sekitar 2 jam. Apakah mau ditunggu, atau ditinggal dulu?” tanya penjaga toko tersebut.
“Kamu mau keliling dulu gak Ra? Pumpung kita ada motor ini.” Tawar lelaki itu. Dhira berpikir sejenak.
“udah, lama kamu. Ayo aku ajak ke suatu tempat.” Putusnya.
Dhira pun ikut saja. Dia juga tak tahu kenapa otaknya tak berfungsi dengan normal saat ini.
Perempuan itu ikut saja kemana lelaki itu akan membawanya. Dia tak mungkin juga menculik Dhira. Memang seberharga apa dia sehingga ada yang menculiknya.
“kita mau kemana?” akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Dia juga merasa penasaran.
“nanti juga kamu tahu.” Jawabnya yang tidak memuaskan rasa penasaran Dhira.
***