Pria itu melangkah semakin dekat, tanpa rasa segan meraih dagu Erika dengan tangan yang tak tahu sopan santun. Erika terpaku, hanya mampu menggeleng, penolakan yang tak berdaya di hadapan d******i kasar itu. Hingga sosok di depannya perlahan melepaskan masker dan topi yang menutupi identitas, menyingkap mata Erika yang terbuka lebar, mengonfirmasi firasat buruk yang berputar dalam benaknya. "Reno? Apa sebenarnya maunya? Apa yang mau dia lakukan dan apa yang bisa aku lakukan sekarang?" batin Erika, jantungnya berdetak makin kencang, tiap detik penuh dengan ketegangan yang meremas d**a. Reno menampilkan senyum dingin penuh kemenangan. "Sayang, kamu tidak akan bisa menolakku sekarang. Kamu sudah berani bertunangan dengan laki-laki lain, bukan? Bukankah aku sudah bilang, hanya aku yang berha

