"Maksudmu, apa kau bersedia menikah denganku dalam waktu dekat ini?" Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Mau bagaimana lagi aku tak ingin kehilangannya untuk yang kedua kali. Aku rasa sudah cukup pengorbanannya selama ini, Mas Hasbi pun berhak bahagia. "Benarkah? Coba tolong katakan, aku ingin dengar suaramu," sergahnya lagi. "Iya mas, aku bersedia menikah denganmu. Kapanpun waktunya, aku siap. Dan tolong pertemukan aku dengan Mbak Nisa." "Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah," sahutnya. Tak pernah kusangka ekspresinya bisa sebahagia itu. Mendadak dia berlutut dan menengadahkan tangannya keatas seperti orang yang sedang berdoa. "Terima kasih, Ya Allah, terima kasih," serunya dengan suara yang cukup keras. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang terkesan lucu. "Udah mas, ayo.

