Kuhempaskan tubuhku duduk di sofa. Aku tersenyum kembali membayangkan raut wajah Nadia yang tersipu malu. Sungguh menggemaskan. "Ciee, yang habis pulang nganterin calon..." sindir Mbak Nisa. Aku menoleh ke arahnya. Dia pasti berpikir aku tersenyum karena Andin. "Gimana responnya?" tanya Mbak Nisa kembali. "Apaan sih mbak? Ini bukan tentang Andin," jawabku. "Terus? Kamu senyam-senyum sendiri kenapa? Kamu kayak orang yang sedang jatuh cinta." "Hmmm..." "Tuh benar kan, jadi kamu jatuh cinta juga sama Andin? Benar sih, dia kan cantik, menarik, mbak aja sebagai perempuan suka, apalagi kamu sebagai laki-laki," tebak Mbak Nisa lagi tapi salah kira. "Mba, sudah kubilang, ini bukan tentang Andin. Aku memang jatuh cinta mba, tapi bukan dengan dia. Ada orang lain yang aku cintai mba, jadi jan

