Dua

1018 Kata
Pemuda tampan berkulit putih itu melangkahkan rapat dengan gontai. Menjelajahi menggali onggokan tanah yang berjajar. Satu persatu onggokan itu ia lalui guna sampai pada tempat bertemu. Tempat dimana ia akan mencurahkan seluruh puas. Hingga sampailah ia pada sebuah pemakaman yang di desain mewah oleh keramik yang melepaskan warna hitam. Joshua menjatuhkan kasar, berlutut disisi gundukan tanah itu. "Bu .." Jo berujar lirih seraya mengusap lembut pigura sang mama yang memang terpajang di sana. Seketika, sekelebat memori indahnya bersama Mommy-nya berputar-putar dalam benaknya. Jo kecil berlari dengan riang, sesekali ia menoleh ke belakang guna melihat jarak antara ia dan sang mama. Ia berteriak nyaring seraya melambai kearah wanita yang dikasihinya itu. "Bu .. Ayo kejar, Jo." Sang mama hanya tersenyum dan tak bergerak ditempatnya untuk mengejar jagoan kecilnya itu. Jo yang melihat hal itu segera menghentikan larinya, ia berbalik, berjalan sambil bernyanyi mama yang masih fokus menatapnya dengan senyuman kecil diwajahnya. "Bu, kenapa Mama tidak mengejarku?" Sandra berlutut, menyamakan tinggi dengan jagoan kecilnya. "Sayang, hidup itu pilihan." Ujarnya lembut seraya mengusap pipi jagoannya. “Semua hal yang harus kita lakukan di dunia ini, pasti berdasarkan pilihan.” Jo terdiam mendengarkan ucapan sang ibu, keningnya berkerut tak mengerti. “Bu, sengaja tidak mengejarmu. Karena itu pilihan, Bu. ”Lanjut Sandra yang masih membuat Jo tak mengerti. Dengan sabar, Sandra berusaha menjelaskan maksudnya kepada buah perjuangan itu, mengingat umur Jo baru menginjak 5 tahun. “Bu, tidak mau mengejarmu. Karena Ibu ingin kamu berjuang bukan dikejar. ” Jo menggelengkani dengan pelan. "Aku tidak mengerti maksudmu, Bu." Mendengar jawaban Jo membuat senyum Sandra semakin mengembang. "Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti, nak." Tanpa sadar, setetes air mata berhasil lolos membasahi pipi pemuda itu, kala sebuah kenangan tentangnya dan sang mama terputar jelas diingatnya. Dengan cepat ia memperbaiki jejak-jejak air itu, berusaha menyamarkannya dengan sebuah senyuman. "Jo merindukanmu, Bu." Jo menyiapkan nafasnya saat ia mulai merasa puas didadanya. Runtuh sebagai lelaki laki-laki kalau dia sudah dimiliki oleh sang mama. Perempuan yang sangat baik terima kasih sepanjang perjalanan. Wanita berjubah dalam dan pahlawan bagi dunianya. Joshua memang terkenal sebagai lelaki b******k. Sering bergonta-ganti pasangan jika ia sudah bosan. Tabiatnya sangat buruk. Namun, dibalik itu semua masih tersisa sedikit kebajikan dalam kemenangan. Karena Jo hanya membutuhkan seseorang untuk disampingnya, menggenggam erat dibutuhkan, lalu berjalan berdampingan dalam segala keadaan. Perlahan Jo memejamkan hantu, merapalkan sebait doa untuk sang mama. Setelah selesai, ia membungkukan sedikit guna guna mencium batu nisan yang bertuliskan nama wanita yang sangat dicintainya itu. Setelah puas, Jo bangkit dari bersimpuhnya, lalu melangkahkan kemenangan meninggalkan tempat peristirahatan sang mama. **** Jo melangkahkan persetujuan pindah gedung apartemennya. Ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya, setelah tadi pergi ke makam sang mama. Jo menunggu beberapa saat di depan pintu lift, setelah pintu terbuka, ia melepaskan memasukinya. Jo memencet angka 12 untuk menuju lantai dimana tempat tinggalnya berada. Sudah lama terdengar bunyi ting menandakan ia telah sampai dilantai yang ia tuju. Jo segera keluar dari lift dan melangkah menuju pintu apartemennya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat tak sengaja tampak menatap pintu berwarna putih disebelah apartemennya. Apartemen yang berbeda dari apartemen disebelahnya, karena tidak biasanya apartemen ini terlihat terang. Setahu Jo, apartemen disebelahnya itu tak berpenghuni. Pemiliknya tengah berada di luar negeri, selain di New York, mereka tak pernah kembali ke apartemen tersebut. Merasa tersadar, Jo mengedikkan bahunya tak peduli. “Mungkin sudah ada penghuni baru.” Gumamnya seraya meminta apartemennya. **** Aluna keluar dari apartemennya bertepatan dengan tertutupnya pintu apartemen disebelahnya. Setelah selesai ibadah shalat ashar, Aluna berencana untuk pergi ke supermarket terdekat. Ia sadar bahwa lemari es di apartemennya tidak terisi apa pun. Maka dari itu, kini ia ingin berbelanja keperluannya selama berada di New York. Aluna segera mendapatkan keranjang belanjaan saat ini telah disebuah minimarket yang tak jauh dari apartemennya. Gadis itu memilih beberapa makanan yang tersedia, baik makanan ringan maupun makanan berat. Hampir seluruh rak makanan telah ditemukan, namun makanan yang ia cari masih belum ditemukan. Aluna mendesah pelan, ia melepaskankan menuju kasir. Setelah beberapa langkah, tiba-tiba langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat bintang rak makanan dipojok atas. Itu makanan yang ia cari. Dengan berlari-buru, Aluna segera bergerak menuju rak tersebut karena ia melihat makanan yang hanya tinggal 1 buah saja. Aluna menjulurkan demi guna meraih makanan tersebut. Namun, karena memang ia tidak terlalu tinggi, makanan ini terasa sulit ia raih. Aluna memandang sekelilingnya, berharap ada yang bisa membantunya, tetapi untuk kesekian yang dirancangnya, tidak ada pun yang dipojokan rak itu. Menghembuskan napasnya pelan, Aluna kembali melompat-lompat kecil. Sudah beberapa kali lompatan, tapi tetap saja makanan itu terasa tinggi. Tiba-tiba Aluna mengerjapkan matanya saat tak sengaja ia melihat tangan meraih makanan yang sedari tadi ia incar. Aluna segera membalikkan tantangan, ia siap memprotes kepada siapa saja yang mau mengambil makanan kesukaannya. Namun, saat ia telah melepaskankan, semua sumpah serapah yang telah ia susun hilang seketika. Ia menelan ludahnya dengan susah payah kompilasi bersirobok dengan manik-manik berwarna hazel dihadapannya. Bahkan, Aluna nyaris tak sadarkan diri saat melihat senyuman menghiasi wajah lelaki dihadapannya. “Hei!” Sapa lelaki tersebut, masih dengan senyuman manisnya. "Astaga, dia tampan sekali." Gumam Aluna dengan suara pelan yang tetap saja terdengar oleh lelaki dihadapannya karena memudahkan jarak mereka. “Ahh .. Kamu orang Indonesia rupanya.” Seru lelaki ini yang membuat Aluna kembali mengerjapkan arah. “Ka-kamu bisa berbicara bahasa Indonesia?” Tanya Aluna takjub. Ia tak bisa menyangka dapat menjumpai orang Indonesia, seperti miliknya. Lelaki dihadapannya itu mengangguk setuju pelan sebagai jawaban. Lalu, ia menyodorkan makanan yang tadi diraihnya ke Arah gadis itu. "Ini .." "Hah?" Lelaki semakin mengembangkan senyumnya saat melihat kebingungan Aluna. “Iya, tadi kamu ingin mengambil makanan ini, bukan? Dan, ini aku ambilkan. ” Aluna lagi-lagi mengerjapkan pandangan, dengan memegang debaran yang semakin menggila, ia mengulurkan untuk mengambil makanan tersebut. "Te-terimakasih." Ucapnya terbata yang kembali dijawab dengan anggukan kepala. "Oh, iya. Kita belum pernah berkenalan. ”Lelaki itu mengulurkan pembicaraan ke pertemuan Aluna yang langsung dijabat oleh gadis itu. “Perkenalkan, namaku Nathaniel Grissham. Kamu bisa mengundangku Nate. " " Aku Aluna — Aluna Shakila. " **** Kutipan: " Karena cinta bukan hanya sekadar kata. Namun, cinta adalah rasa. Rasa yang tak bisa dibatalkan oleh kata. ”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN