Sebelas

1249 Kata
Jo menatap kepergian Aluna dengan senyuman yang terus terukir di muka. Jadi tubuh mungil Aluna menghilang dibalik pintu kelasnya, senyuman itu berubah menjadi seringaian. Perlahan tapi pasti, Jo akan membuat gadis itu bertekuk lutut disetujui dan melupakan perlombaan piano yang akan diselenggarakan bulan depan. Karena dari awal, hanya Jo yang akan mewakili lomba tersebut. Apapun yang menjadi keinginannya harus selalu terpenuhi, ia harus menghancurkan seseorang. Jo tidak peduli. Aku suka dan seketika melonjak kaget saat seseorang berdiri dihadapannya. "Sial." Pemuda itu hanya menampilkan deretan giginya yang rapi melihat Jo menggeram kesal karena ulahnya. "Sejak kapan saja kamu ada di sini?" Tanya Jo yang sepertinya sudah bisa emosinya. Yang berbicara hanya mengedikkan bahunya dengan acuh, "Mulai kamu terus melihat gadis yang baru saja membuka kelasnya." Jawabnya seraya menatap lurus kearah di mana tadi gadis itu berada. “Omong-omong, siapa gadis itu?” “Bukan urusanmu.” “Oh, ayolah kawan. Kamu tidak perlu malu untuk memberitahuku gadis itu adalah gadis yang mampu meluluhkan hatimu. ”Goda pemuda itu tidak peduli dengan ekspresi tak suka dari Jo. “Tutup mulutmu, Mr.Grissham.” “Dia gadis yang cantik. Meskipun aku hanya melihat punggungnya saja, tapi aku yakin dia gadis yang cantik. ”Nate terus berceloteh tanpa memperdulikan ucapan Jo sebelumnya. "Tapi, aku sungguh berhasil berterima kasih dengan gadis itu." Lanjutkan yang membuat Jo mengerutkan dahinya, tak mengerti. "Apa maksudmu? Kenapa kamu harus mengasihani dia? " " Karena dia harus berdampingan dengan bantuan sepertimu. " Jo terdiam mundur mencerna ucapan sahabatnya, sebelum akhirnya sadar maksud dari ucapan sahabatnya itu. Sekali lagi, Jo menggeram kesal dengan ulah seorang Nate Grissham. Dan, Nate menikmati setiap kekesalan yang Jo tunjukkan untuknya. “Tapi, sungguh. Dia benar-benar gadis yang cantik. ”Nate kembali bersuara dan menbuat Jo kembali melihat tempat dimana Aluna menghilang sebelumnya. Pikirannya terus memutar ulang perkataan sahabatnya itu. Aluna memang gadis yang cantik dan pintar. Entah kenapa Jo memang suka gadis itu berbeda dari gadis-gadis sebelumnya yang pernah ia temui. Namun, Jo menampik semua itu. Ia berusaha untuk mengeraskan kemenangan. Ia tidak dapat jatuh ke dalam pesona Gadis itu jika ia tidak ingin menerima kekalahan. Nate memperhatikan dengan lekat raut wajah sahabatnya itu. Dari yang dipasang senyuman manis hingga menjadi seringaian. Dan, Nate gagal meminta dirinya untuk tidak bertanya. “Apa Yang sedang kamu pikirkan, Mr.Albert?” Pertanyaan Nate seketika mengembalikan Jo Ke alam sadarnya. Ia lalu melirik sahabatnya lalu menggeleng pelan. "Bukan apa-apa." Sahutnya dengan acuh. Jo tahu, Nate tidak akan menerima pertanyaan semudah itu. Pemuda itu pasti tahu sesuatu yang harus dipecahkan olehnya. Namun, untuk kali ini Jo masih belum siap untuk menceritakannya. Dan, Nate yang melihat kegelisahan Jo hanya mampu menepuk pelan pundak sahabatnya itu. “Sudahlah. Aku hanya berharap, apa pun yang sedang kamu pikirkan dan apa pun yang akan kamu lakukan, itu tidak akan membuatmu menyesal di hari berikutnya. ” Setelah selesai mengucapkannya, Nate berlalu meninggalkan Jo yang masih terdiam ditempatnya seraya mencerna dengan baik ucapan darinya. Entah kenapa, ucapan Nate membuat hati Jo terusik. Tapi ia harap, ia tak akan menyesal melakukan hal ini. Ya, semoga. **** Aluna merapikan pakaiannya sekali lagi, sebelum beranjak keluar dari toilet wanita. Saat ia meminta berbelok ditikungan koridor Juilliard, sekolah tiba-tiba merasa puas terhempas ke belakang dan gagal jatuh terduduk. "Kamu tidak apa-apa?" Sebuah suara menyadarkan Aluna bahwa ia telah ditabrak oleh seseorang. Ia mendongak, dan seketika kedua membulat memandang si penabrak tersebut, yang sama mengejutkannya dengan dia. "Sharoon?" "Aluna?" Sharoon cepat-cepat mengulurkan izin berniat membantu Aluna untuk berdiri. Dan, Aluna dengan senang hati menerima uluran tangan itu. “Kita berjumpa lagi.” Ucap Aluna dengan antusias. “Dan kita selalu dipertemukan dengan acara tabrak-tabrakan.” Aluna terkekeh mendengar jawaban gadis di hadapannya itu. "Waktu itu aku yang menabrakmu. Tapi kali ini, kamu yang menabrakku. ”Ucapnya seraya mengingat pertemuan pertama mereka. Sharoon mengangguk setuju. "Bagaimana kalau kita pergi ke cafetaria?" Tawarnya, membuat Aluna melirik selai dipergelengan mengalihkan yang menunjukkan pukul dua belas siang. Masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi sebelum latihan. Aluna menerima tidak ada salahnya menerima ajakan gadis itu. Ia pun menganggukan persetujuan pertanda setuju. Segera datang beranjak menuju cafetaria. Sesampainya di sana, suasana cafetaria sudah disetujui oleh siswa-siswi lainnya, mengingat bahwa ini sudah pindah waktu makan siang. Aluna pun bertindak mencari tempat untuk mereka, sedangakan Sharoon bertindak memesan makanan. Aluna mengedarkan pandangannya guna mencari tempat kosong yang dapat mereka duduki, dan pandangannya jatuh pada tempat disebelah kanan pojok. Ia pun segera menghampiri tempat tersebut dengan cepat, takut-takut ada yang mendahuluinya. Tak lama, Sharoon datang dengan pesanan mereka. Tampak menikmati makanan masing-masing. “Kamu mengambil jurusan apa di Juilliard School ini?” Tanya Aluna, memecahkan keheningan diantara mereka. Sharoon mengeluarkan makanannya sebelun menjawab, “Aku seorang penari.” “Wow.” Hanya kata yang meluncur dari bibir Aluna saat mendengarkan jawaban gadis di hadapannya. "Kamu sendiri?" "Aku ingin menjadi seorang pianis." Sharoon menganggukan setuju. “Kmau tinggal bersama orang tuamu?” Tanyanya dengan sesekali menikmati makanannnya. Lalu ia mengernyitkan dahinya saat melihat Aluna menggelengkan diterima. “Lalu?” “Aku sendiri. Kedua orang tuaku berada di Indonesia. ”Kembali, Sharoon menganggukan setuju pertanda mengerti. "Kamu sendiri tetap bersama siapa?" Pertanyaan sederhana Aluna tanpa sadar membuat tubuh Sharoon membeku. Seketika ingatannya terpusat pada sang ibu yang terbaring lemah di rumah sakit. "Aku tinggal bersama ibuku." Sahutnya lirih. Dan, Aluna menyadari hal itu. Ia pun berkata mengangguk mengerti tanpa banyak bertanya lagi. Suasana diantara keduanya pun terasa terasa setelah perbincangan terakhir mereka. Entah kenapa, Aluna menerima sesuatu yang disetujui oleh gadis di hadapannya itu. Meski mereka baru bertemu dua kali, rasanya Aluna ingin gadis itu berbagi. Lalu, tiba-tiba ia teringat bahwa Sharoon adalah penari. Itu berarti ia pasti mengenal sosok Nate. "Sharoon?" Sharoon berdeham tanpa menoleh kearah Aluna. Ia lebih memfokuskan perhatiannya pada makanan di hadapannya. "Aku punya seorang teman di sini, dan dia adalah seorang penari yang sama sepertimu." Ucap Aluna yang membuat Sharoon mendongak menatapnya. "Benarkah?" Aluna mengangguk, “Ya. Apa kamu mengenal— ”Sebelum Aluna sempat menerima ucapannya, suara dering telepon menginterupsinya. Sharoon yang berbicara tentang handphone-nyalah yang berbunyi segera mengangkatnya seraya tersenyum meminta maaf pada Aluna, lalu menempelkan benda canggih itu di indera pendengarannya. "Halo?" Sapa Sharoon pertama kali. Dan, seketika jawaban dari seberang sana membuat kedua salib melebar sempurna. "Apa? Benarkah? ”Ia melirik pendek ke arah Aluna yang juga tengah menatapnya dengan terang-terangan. “Memindahkan. Aku akan segera kesana. ”Lalu ia pun menutup panggilan itu. Aluna yang tak bisa menahan rasa penasarannya pun segera bertanya. "Ada apa?" Sharoon menggeleng pelan, “Tidak ada apa-apa.” Sahutnya seraya tersenyum tenang. "Al, sepertinya aku harus pergi." Lanjut Sharoon. Aluna mengangguk, “Ya, pergilah. Aku tidak apa-apa. Hati-hati. " " Senang bertemu denganmu. Sampai jumpa, Al. ”Lalu, Sharoon pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Aluna yang memandangnya dengan dahi mengerut. **** Sharoon berjalan dengan tergesa-gesa. Ia sungguh tak sabar untuk sampai di rumah sakit. Tadi, dokter yang mengizinkan izin mengabari itu. Rasakan seperti ada keajaiban yang menghampirinya kala mendengar kabar tersebut. Maka, disinilah ia. Berjalan menuju gerbang Juilliard School. Karena terlalu berani-buru membuat Sharoon menabrak seseorang. Ia mengumpat kesal saat berhabiskan terbuang karena pelaporan kecil itu. Ia pun segera membantu orang yang ditabraknya itu membereskan buku-bukunya yang berserakan. Setelah selesai Sharoon pun menyetujui buku itu seraya melihat orang itu. "Ini ..." Orang yang ditabrak Sharoon pun mendongak. Dan, seketika semua orang memegang saat menatap satu sama lain berbaring. "Sharoon ..." "Nate ..." **** Kutipan: "Ketahuilah, sejauh apapun aku pergi, pada dasarnya aku akan kembali menerimaamu." Kenapa Karena kamu adalah tempat aku untuk pulang. ”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN