CHAPTER 41 Keduanya tertidur dengan pulas, bahkan sampai matahari perlahan naik ke langit mereka tetap tenang dalam tidurnya sambil berpelukan. Indira sama sekali tak terganggu dengan detak jantung tenang Brendon, begitupun sebaliknya, Brendon tak keberatan dengan beban di atas tubuhnya yang notabenenya sangat mungil dan ringan. Nyaman dan tenang. Tidak ada lagi mimpi buruk. Namun ketenangan keduanya buyar ketika terdengar ketukan di ambang pintu. Indira membuka matanya dan mendongak, sementara Brendon menyusul setelahnya. "Siapa?" tanya Brendon. Indira menggeleng, ia turun dari sofa dan siap melangkah namun Brendon menahannya. Pria itu bangkit. "Mas, kamu jangan—"

