Devan keluar mengenakan kaos putih tipis dan celana santai berwarna gelap. Rambutnya masih basah, tetesan air mengalir pelan di pelipis dan tengkuknya. Ia mengambil handuk kecil, mengusap wajah, lalu melangkah ke kamar dengan sesekali hela napas. Bukan karena capek, tapi pikirannya yang terasa kacau. Dari dapur, terdengar suara Stella bernyanyi kecil sambil mengaduk wajan. Ia membuat ayam goreng mentega dan tumisan buncis dengan wortel. Aromanya mulai menyebar ke seluruh apartemen. Devan melirik jam dinding—sebentar lagi makan malam. Dia seharusnya bersyukur, seorang perempuan baik dan perhatian seperti Stella sedang memasak untuknya, tapi hatinya tetap gelisah. “Udah pulang belum ya?” Devan bertanya pada dirinya sendiri. Ia lalu duduk di ujung ranjang, menatap ponselnya. Jari-jarinya

