“Apa dia sudah pulang? Harusnya sih, sudah.” Devan bertanya pada dirinya sendiri yang tengah menatap dirinya berada dicermin. Dia menghela napas kemudian mengusap kasar wajahnya dengan handuk kecil. Dengan mengenakan kaos berwarna putih tipis, Devan melangkah keluar dengan rambut masih basah. Sesekali dia mengeringkannya dengan handuk. Walaupun saat ini dia berada dalam kamar, tetapi aroma masakan dari dapur miliknya tercium mengugah selera. Bahkan terdengar senandung kecil Stella, tetapi dia mengabaikannya, dia segera duduk di tepi ranjang meraih ponsel dan memeriksa CCTV melalui aplikasi. “Cuman ingin memastikan jika dia udah balik rumah,” serunya berusaha menyangkal. “Ya, cuma mau lihat dia aman.” Saat tangannya menyentuh aplikasi itu, rahangnya mengeras saat melihat layar ponselnya

