"Saya terbawa suasana, Stella. Nggak seharusnya saya... sekasar itu semalam." Suara Devan berat, nyaris pecah di antara deru mesin mobil yang masih menyala. Di kursi penumpang, Stella mematung. Jemarinya gemetar saat menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa sedikit bengkak—bekas sisa 'kasih sayang' Devan yang lebih mirip amukan daripada ciuman. Stella memaksakan sebuah senyum canggung, meski matanya menyiratkan keraguan yang berusaha ditepis kuat-kuat. "Nggak apa-apa, Mas," bisik Stella, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku mengerti. Apalagi kita mau tunangan." Dia menatap Stella dan menemukan kenaifan yang begitu murni di sana. Rasa bersalah menusuknya lebih tajam dari sembilu, namun ego laki-lakinya jauh lebih dominan. Devan tahu persis, ciuman kasar itu bukan tanda cinta. Itu adal

