“Huh.” Sepertinya, Devan terus menerus menghela napas belakangan ini. Walaupun telah sampai di kantor, tapi pikirannya tertinggal di tempat lain. Tempat di mana dia berbagi cerita, tawa bersama gadis mungil yang senyum kecilnya selalu ia rindukan yang beberapa kali tertangkap oleh sudut matanya saat tanpa sadar ia mencuri pandang. Semua tentang Senna, Devan rindu. "Selamat pagi pak," sapa seorang karyawan. "Pagi pak Devan." Sapaan demi sapaan terdengar, Devan hanya menjawab Dengan anggukan, atau hanya diam. Asam melihat itu dia berjalan mendekat sambil membawa segelas hot americano. "Kopi pak?" "Boleh, Hot americano." Devan tau Adam mau bicara tapi tak salah juga ia minta segelas kopi hitam, pahit dan panas, seperti perasaannya kini. "Pas," kata Adam sambil memberikan kopi milik

