Sementara itu saat ini Gallen berdiri di depan pagar rumah Senna, memegang erat ponselnya yang sudah berkali-kali ia lihat layarnya. Rasanya seperti ada batu besar yang menekan dadanya. Dia ingin masuk, ingin sekali menengok Senna yang sudah beberapa hari ini sakit. Tapi langkahnya berat. Entah kenapa, ada rasa ragu yang menahannya. "Kok gue kayak orang bego sih? Dari tadi mondar-mandir depan pagar doang," gumamnya memaki diri sendiri sambil mengusap tengkuk leher yang mulai berkeringat dingin. Dia menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Sesekali, ia pura-pura main ponsel agar tak terlihat mencurigakan oleh tetangga yang mungkin melihat. "Kenapa jadi takut gini sih? Aneh." Gallen terus bernarasi dengan perasaannya sendiri. Nama itu terlintas begitu saja. Devan. Laki-laki yang beberapa waktu

