Devan sudah berdiri di depan kaca, merapikan kemeja dengan wajah serius. Biasanya dia tidak terburu-buru berangkat ke kantor, tapi hari ini berbeda. Ada terlalu banyak hal yang menumpuk di kepalanya tentang Senna, tentang Stella, tentang neneknya yang keras kepala. "Gue harus ketemu Adam." Dia bergumam sendiri sambil sibuk merapikan jam di tangan. Setelah selesai segera turun dan masuk ke dalam mobil. Pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan ini dan itu. Tapi ada perasaan lega karena akhirnya Senna mau membuka diri, lebih ceria, tidak ada yang ia harapkan selain kesembuhan dan senyum di bibir gadis itu. Sesampainya di kantor, para pegawai lalu lalang, beberapa menyapa dengan hormat, "Selamat pagi, Pak Devan." Ia hanya mengangguk singkat sambil tetap melangkah cepat menuju ruangannya

