46.Calon Istri

926 Kata

"Devan, kamu hari datang malam ini. Nenek sudah siapkan makan malam, kamu harus hadir. Tidak ada alasan," suara Hamidah terdengar tegas di ujung telepon, tanpa memberi ruang untuk penolakan. Devan yang sedang duduk di ruang kerjanya menghela napas panjang mencoba meredam emosi atas desakan yang diberikan oleh Hamidah. "Nek, saya lagi banyak urusan di kantor, nggak bisa malam ini." "Banyak urusan apa lagi? Udah berapa kali kamu batalin acara makan malam ini, urusan keluarga lebih penting. Kamu cucu laki-laki satu-satunya, Devan. Kalau kamu tidak datang, itu sama saja kamu tidak menghargai nenekmu sendiri," kata Hamidah meninggi, penuh otoritas yang tidak bisa ditolak. Devan memejamkan mata sambil memijat pelipisnya, berusaha menahan emosi. Ia tahu betul, ajakan makan malam itu bukan seka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN