"Kamu datang juga akhirnya," katanya. Devan menunduk sopan. "Iya, Nek. Saya udah datang." Hamidah baru menyadari sosok di samping Devan. Matanya menyipit. "Sama Senna?" Devan menggenggam tangan Senna lebih erat. "Iya, Nek sama Senna. Calon istri saya." Suasana seketika terasa tegang, Senna menunduk sopan, mencoba tersenyum meski jantungnya berdetak tidak keruan. Hamidah menegakkan badan, wajahnya menatap tidak suka. "Calon istri?" ulangnya dengan nada tinggi, meskipun ia sudah menyelidiki, tapi kata-kata yang keluar dari mulut Devan tetap membuatnya terkejut. "Iya, Nek. Calon istri." Devan katakan, mengulang kata-katanya dengan yakin. Hening sebentar hanya terdengar detak jam dinding. Senna bisa merasakan rasa tak suka dari tatapan Hamidah. Tangannya berkeringat, tapi genggaman Dev

