Mereka kini pindah ke ruang keluarga, ingin lebih tenang membicarakan pembicaraan di meja makan tadi. Tapi sejak tadi tak banyak bicara semua lebih banyak diam. Hamidah duduk di kursi utama, tubuhnya tegak, wajahnya terlihat tenang dari suaranya sudah terdengar jauh lebih terkendali. Di sampingnya Stella duduk, bibirnya tertutup rapat, mata masih berkaca-kaca menahan perasaannya sendiri. Sementaran itu Devan duduk di sofa seberang, dengan Senna di sampingnya. Gadis itu terlihat menunduk, jarinya sibuk meremas ujung baju. Ia ingin pergi dari situasi itu, tapi tak bisa karena dia adalah salah satu tersangka. Hamidah akhirnya bersuara, suaranya terdengar tenang, tapi sebenarnya ia tidak bisa tenang. "Devan, jujur sama nenek. Sudah berapa bulan kehamilan Senna?" Pertanyaan itu membuat d*

