"Gue pesen sambel matah ya, Sen? Lo jangan makan terlalu pedes, kesian perut lo." Galen menoleh mengatakan sambil nyengir, tangan kirinya sibuk membuka botol air mineral. Senna yang duduk di depannya cuma mengangguk pelan. Matanya menatap Galen sesaat, lalu tersenyum kecil. "Iya Len, gue emang enggak boleh juga makan terlalu pedes. Lo tau aja." "Iya dong, Galen!" Mereka duduk di sudut restoran yang cukup ramai siang itu, aroma ayam penyet, sambal terasi, dan rempah menyeruak di udara. Meja kayu sederhana dan kursi besi berderit setiap mereka bergerak. Senna duduk sambil menopang dagunya, sesekali tertawa kecil mendengarkan Galen yang bercerita ngalor-ngidul tentang masa SMA mereka. "Nah, lo inget nggak waktu gue jadi ketua tim basket? Anak-anak tuh pada heboh banget nyari alasan buat d

