16. Marah Tidak Jelas

670 Kata

“Nggak masuk dulu?” tawar Senna, saat Galen memarkir mobilnya tepat di depan rumah Senna. Lampu teras sudah menyala, angin malam terasa dingin menusuk. Senna turun pelan, di luar Galen menunggu sambil membawa payung. Senna sambil tersenyum ke arah Galen yang menunggunya ia memayungi Senna. "Thanks. Udah nganterin. Maaf jadi ngerepotin," ucap Senna sambil memegang payung yang juga dipegang Galen. Galen mengangguk, lalu tanpa ragu mengacak rambut Senna pelan, membuat poni gadis itu sedikit berantakan. "Santai aja. Lo tuh nggak pernah ngerepotin gue lagi." Senna nyengir sambil memegangi poninyanh berantakan, berusaha terlihat senang meski dalam hati justru merasa bersalah. "Udah sana masuk. Gerimis nih. Nanti malah sakit lagi lo," kata Galen lagi. Senna mengangguk pelan. Galen mengant

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN