“Sialan, kenapa malah kepikiran Senna terus sejak tadi.” Devan mendesis kesal, terlihat dari pantulan cermin matanya merah karena menahan emosi serta rasa lelah. Pertengkarannya dengan Senna tadi, sejak awal hanya hal sepeleh, tapi kini malah seperti beban berat. Dengan kasar, ia menyalakan shower sekencang mungkin, tanpa mengecek suhu berharap rasa dingin bisa meredahkan amarahnya. “Nggak boleh gini. Bisa-bisa gue makin tidak menmgendalikan diri. Gue harus menghindarinya beberapa waktu,” gumamnya. Setelah merasa amarahnya sedikit mereda, Devan memilih keluar dengan melilitkan handuk dipinggangnya. Malam ini dia harus tidur di apartement. Dia butuh waktu sendiri untuk merenung apa yang terjadi. Saat akan pergi, dia melihat ke arah ruang tengah tetapi langkahnya terhenti saat melihat Se

