Part 13 : Beautiful Night.

1218 Kata
"Mas Adhi?" ucap Shaniya ketika ia terbangun dari tidurnya. Gadis itu bernapas lega ketika tidak mendapati suaminya di sana. Wajahnya memerah ketika memikirkan kejadian beberapa jam lalu. Akhirnya, ia bisa menjadi istri yang sesungguhnya untuk suaminya. Ada kelegaan di hatinya kala mengingat itu, tapi juga ada sedikit kecemasan, takut - takut ada salah satu dari bagian tubuhnya yang tidak disukai oleh suaminya itu.  Shaniya menggeleng pelan, gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dan setelahnya ia akan mencari keberadaan suaminya. Setelah hampir tigapuluh menit, gadis itu keluar dengan handuk yang melilit ditubuhnya, matanya melirik ke setiap sudut ruangan, lalu ia bernapas lega ketika melihat koper besar di salah satu sudut ruangan. Shaniya tersenyum lebar ketika membuka koper itu dan mendapati pakaian dirinya dan juga suaminya sudah tertata rapi di dalamnya. Shaniya tidak menyangka bahwa pria itu mempersiapkan semua ini dengan matang dan sempurna. Dengan cepat Shaniya mengambil dress putih bermotif floral dengan pashmina berwana hijau army, oh tidak lupa juga dengan dalamannya. Lalu tanpa pikir panjang gadis itu segera memakainya. Kemudian memakai pashminanya dengan kedua ujung ia sampirkan ke bahu berlawanan, tanpa menggunakan peniti. Brlebek... brlebek.. "Laperr..." ucap Shaniya ketika ia merasakan perutnya berbunyi karena belum terisi makanan. Dengan langkah gontai, ia pun berjalan keluar kamar. ••••• "Udah bangun?" Shaniya menghentikan langkahnya, ketika ia melihat Adhi sedang duduk di kursi kemudi kapal yang membelakanginya. Tiba - tiba saja jantungnya berdetak dengan cepat. "Ya Allah... jantung... kenapa ini?" lirihnya pelan sambil memegang dadanya. "Sini, Sayang." Adhi menoleh dan tersenyum sambil melihat istrinya. Shaniya berjalan mendekati Adhi, lalu ia duduk di sebelah pria itu yang masih tersisa sedikit tempat. Matanya menatap takjub langit yang gelap dengan bulan dan banyaknya bintang bertaburan. "Baru kali ini aku lihat bintang banyak banget, biasanya jarang cuma lima atau enam di langit." "Senang?" Shaniya beralih menatap suaminya. Lalu mengangguk antusias. "Banget, makasih ya." Gadis itu tersenyum lebar. Adhi pun ikut tersenyum. Lalu kembali fokus mengendarai yacht yang mereka tumpangi. "Kita cuma berdua, Mas?" ucap Shaniya penasaran karena sedari tadi ia tidak menemukan orang lain di kapal itu. "Kalau ada orang lain, pasti dia udah marah karena kita berisik tadi." Seketika wajah Shaniya terasa panas. "Mas Adhi tuh ngomongnya!" ujar Shaniya sambil memukul pelan bahu suaminya. "Kamu itu cantiknya nambah berkali - kali lipat kalau lagi merona gini," kata Adhi sambil mengelus pipi Shaniya. Shaniya tersenyum membalasnya, lalu ia memeluk lengan kiri Adhi dan menyenderkan kepalanya di bahu pria itu. "Mas Adhi bisa bawa kapal gini?" "Kalau gak bisa, gak mungkin kapal ini jalan, Ya." Adhi membalas sambil terkekeh. "Tapi... belajar darimana?" "Bapak, dulu, beliau itu bisa segala hal Ya, apapun yang Mas, Ibu dan Adisti butuhkan pasti Bapak selalu bisa." "Aku jadi pengen ketemu Bapak, Mas, keliatannya beliau orang yang sangat baik." "Mas juga pengen, Ya. Apalagi dulu, sebelum Abi ada, Bapak pengen banget punya cucu, tapi takdir berkata lain, Allah lebih sayang sama Bapak." Shaniya mengusap lengan Adhi, ia bisa merasakan bahwa pria itu masih bersedih kala mengingat almarhum Bapaknya. "Jadi... Mbak Talia dulu pernah bertemu Bapak ya Mas?" Adhi langsung menatap Shaniya. "Mas gak bakal cerita apapun tentang dia, Mas gak mau kamu salah paham lagi, dan kamu juga, jangan pernah membahas hal apapun yang berkaitan sama dia." Shaniya mengangguk pelan. "Hm... maaf ya." Adhi mengangguk, lalu ia mencium puncak kepala Shaniya yang tertutup pashmina. "Lapar gak?" tanya Adhi. Shaniya mengangguk. "Lapar. Emang ada makanan Mas?" "Hei, kok nanyanya gitu, masa Mas tega banget gak nyediain makanan buat istri Mas tercinta ini. Yaudah, kamu tunggu di sini sebentar." Adhi berdiri, Shaniya panik karena ia tidak bisa mengendarai sebuah kapal pesiar. "Ih, aku gak bisa bawa kapal, nanti tenggelam gimana?" "Ini udah otomatis, Sayang..." Mulut Shaniya membentuk sebuah huruf 'o' tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Adhi pun berjalan memasuki kapal. Sedangkan Shaniya, gadis itu langsung memandang laut dan langit yang masih gelap. Entah ada dimana ia sekarang, tapi jika bersama Adhi, ia tahu bahwa dirinya pasti akan baik - baik saja. Dan Shaniya tidak sabar menunggu kejutan yang akan Adhi berikan selanjutnya. Sembari menunggu Adhi, Shaniya membuka ponselnya, dan melihat jam yang menunjukkan pukul setengah empat pagi. Gadis itu membuka aplikasi sosmednya untuk menghilangkan bosan, lalu memotret dirinya sendiri untuk dijadikan status sebagaimana orang - orang pada umumnya. Dicaptionnya ia tulis ; Its a beautiful night Setelah itu Adhi datang, membawakan sebuah trolley yang berisikan banyak makanan, dan yang membuat Shaniya tertawa adalah adanya makanan favorit Adhi, yang tidak lain dan tidak bukan adalah semur jengkol. "Always ... dimanapun, kapanpun, selalu ada semur jengkol!" Adhi menggidikkan bahunya sambil terkekeh, lalu menata makanan itu di atas meja kecil yang ada dua kursi berhadapan. Shaniya bangkit, dan dia pun duduk di salah satu kursi itu, diikuti oleh Adhi. "Jangan banyak makan jengkol, Mas, gak baik buat kesehatan," ucap Shaniya bagaikan seorang ibu yang mengingatkan anaknya. "Iya sayang, lagian juga kan jarang - jarang. Tadi pagi tuh, Ibu masak banyak, yaudah Mas bawa aja, dan tadi Mas angetin di dapur." "Oke ... oke, aku kalau debat sama Mas, gak bakal selesai - selesai, sekarang kita makan aja ya. Aku udah lapar banget," ucap Shaniya sambil mengelus perutnya sendiri. "Iya makan yang banyak, mungkin calon anak Mas lapar di sana," canda Adhi sambil terkekeh. "Mas Adhii...." "Dalem Sayang..." "Aku cinta banget sama Mas Adhi, jangan pernah ngecewain aku ya? Mas janji?" ucap Shaniya seraya menatap mata hita Adhi yang tampak berkilau diterpa cahya bulan dan lampu - lampu kecil yang ada di yacht. "Mas juga cinta banget sama kamu, Ya. Jangan pernah berpikir yang tidak - tidak tentang Mas lagi, kalau ada masalah apapun langsung bilang ke Mas, biar Masnya juga gak akan ngecewain kamu." Setelah itu mereka mulai menyantap makanannya masing - masing. Adhi bersendawa cukup keras membuat Shaniya tertawa pelan. Lalu gadis itu melihat suaminya merogoh sesuatu dari saku celana yang ia pakai. Ternyata sebuah permen Fisherman's Friend. Pantas saja, setiap kali suaminya memakan jengkol, tidak pernah terasa bau mulutnya. Membuka bungkusnya, Adhi langsung memakan satu permen ke dalam mulutnya. "Kenapa ngeliatin terus?" ucap Adhi sambil menatap istrinya. "Kita sebenarnya mau kemana sih Mas?"  "Mau tau banget?" Shaniya mengangguk sambil bergumam. "Pulau H, pulau yang ada di Kepulauan Seribu, di sana indah banget, makanya Mas mau ngajak kamu ke sana, sekalian bulan madu, Mas tau, alasan kamu tolak bulan madu ke Puncak karena gak enak badan itu cuma pura - pura aja kan?" "O..ohh ng–nggak! Gak gitu, aku beneran sakit Mas!" "Bohong! Kenapa paginya langsung pergi ke kampus?" ucap Adhi dengan senyuman miringnya. Lalu pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati istrinya. "I–itu... aku banyak tugas!" "Hmm... okelah! Tapi Rina sendiri yang bilang ke Mas kalau kamu pura - pura waktu itu, gimana dong?" "Aishh... Rina anjir!" gumam Shaniya pelan. "Jangan ngomong kasar depan Mas!" Adhi langsung mengajak Shaniya berdiri. Dengan cepat pria itu mencium bibir istrinya. Setelah beberapa detik, mereka melepaskannya. Adhi tersenyum melihat Shaniya yang merona alami. Ia sangat menyukainya. "Kamu siapa sih sebenarnya Ya? Kenapa Mas seperti pernah melihatmu?" Shaniya tersenyum, gadis itu langsung mengelus pipi suaminya dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Aku itu ... istri kamu lah Mas! Ada - ada aja deh kamu ini." "Ayo kita ke kamar lagi!" Adhi langsung menarik tangan Shaniya memasuki kapal. "Mas! Kapan sampainya kalau begitu?!" geram Shaniya kesal. Tapi gadis itu tetap mengikuti langkahnya suaminya masuk ke dalam kapal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN