Tangan kekar itu meraba samping tempat tidurnya. Ketika ia merasakan itu kosong, matanya langsung terbuka dan menatap jam dinding di kamar.
Pukul 7 pagi. Dan Shaniya sudah tidak ada di tempat tidur. Tadi sehabis solat subuh, Adhi memang kembali bergelung di dalam selimut lagi. Pria itu tidak kuat menahan kantuk karena semalaman bekerja menyelesaikan sebuah proyek yang begitu besar. Pembangunan Mall.
Adhi langsung berdiri, ia melihat sudah ada pakaiannya yang disiapkan oleh sang istri. Ternyata Shaniya masih mempedulikannya sebagai suami.
Pria itu berjalan menuju kamar mandi, setelah 15 menit, akhirnya ia keluar dengan tubuh yang sudah segar. Dengan cepat Adhi memakai pakaiannya.
Ia berjalan keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan. Di sana sudah ada Abi yang duduk di pangkuan Adisti, Ibunya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan, tapi ada satu orang yang tidak Adhi lihat, istirnya. Dimana istrinya itu?
"Kenapa kamu planga - plongo kayak orang nyari sesuatu gitu?" ucap Ibu.
"Istri saya mana Bu?" tanya Adhi seraya duduk di kursi kepala keluarga.
"Loh, kamu gak tahu Dhi? Shaniya udah pergi kuliah dari jam 6 tadi."
Tangan Adhi yang tadinya ingin mengambil nasi terhenti sejenak. Kenapa Shaniya tidak pamit? Apa gadis itu masih kesal dengannya?
"Mau bantuin satpam buka gerbang kali ya berangkat pagi banget," celetuk Adhi yang membuat Adisti menahan tawanya.
"Maklum Mas, mahasiswi akhir tuh emang banyak banget tugasnya. Kenapa sih muka ditekuk gitu? Gak dapet jatah ya semalem?" kata Adisti. Adhi menatap tajam adik satu - satunya itu.
"Abi makan yang banyak, supaya cepat besar, nanti kita main sepeda," Adhi mengusap lembut rambut hitam lebat anaknya. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan Adisti yang melantur itu.
"Nanti Abi panggil Mbak Yaya apa Mas? Mama, Ibu, Bunda atau mommy kayak orang barat gitu."
"Apa aja, senyamannya dia, Mas gak bakal maksain."
"Kemarin Mbak Talia telepon aku," ucap Adisti mulai serius.
"Dia bilang apa sama kamu?" Bukan Adhi yang menjawab, tapi Ibu.
"Nanyain kabar Abi, dia telepon Mas Adhi, katanya gak bisa - bisa, kamu ngeblock dia Mas?"
Adhi menghela napasnya pelan. Ia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Malas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Adisti.
"Biarin Dis, lagian Masmu sudah punya istri lagi, untuk apa berhubungan dengan mantan lagi?"
"Ya bukan begitu Bu, bukannya kita gak boleh memutus tali silaturahmi?"
Adhi yang kesal langsung melepaskan sendok dan garpu dari kedua tangannya. "Berhenti membicarakan wanita itu Dis! Sudah berapa kali Mas bilang jangan pernah lagi membahasnya!"
Geraman dari Adhi membuat Abi menangis kencang. Adhi langsung bangkit, pria itu mengambil Abi dari pangkuan Adisti dan membawanya menuju taman belakang.
Di sana Adhi berdiri di tepi danau buatan, merasakan betapa sejuknya pagi ini.
"Udah ya jagoan, gak boleh nangis lagi," ucap Adhi sambil mengusap kedua pipi gembul Abi yang basah karena air mata.
"Maafin Ayah, pasti tadi kaget ya?" Adhi mulai menciumi pipi Abi.
Lalu ia menggesekkan pipinya ke pipi Abi yang membuat bayi lelaki itu tertawa kegelian sambil memegangi wajah sang Ayah.
"Ayah gak akan menghalangi dia untuk menemui kamu suatu saat nanti, karena bagaimana pun, dia adalah ibu kandungmu."
••••••
"Pak Surya nyariin kamu daritadi, Ya!" ucap Ageng—teman sekelasnya.
Shaniya merasa panik. Sebab dimata kuliah Pak Surya, nilainya jeblok semua. "Terus dia dimana sekarang?"
"Di ruangannya kali, yaudah gue pergi dulu ya."
"Makasih ya Geng."
Rina mendekat, gadis itu langsung tertawa melihat wajah panik Shaniya. "Biasa aja kali tuh muka sister."
"Lo gak tau seberapa paniknya gue, gue gak mau ngulang mata pelajaran dia lagi, ogah! Capek diomelin terus sama tuh dosen!"
"Terus lo mau diem aja di sini gitu?"
"Gue bingung, semalem emang gue ngechat dia, nanyain kapan gue bisa perbaiki nilai, terus kata dia 'saya gak bisa besok, hari lain saja, terus tiba - tiba dia nyariin gue sekarang, gue takut Rin."
"Yaudah sekarang ayo kita cari Pak Surya, daripada lo diem di sini kagak dapet apa - apa," ucap Rina sambil menarik tangan Shaniya agar mengikutinya berjalan. •••••
Shaniya bernapas lega. Akhirnya Pak Surya memberinya kesempatan untuk memperbaiki nilai, entah apa yang merasuki dosen killer itu sampai mencari dirinya dan berkata bahwa ia diberi kesempatan seminggu untuk memperbaiki nilai - nilainya. Tapi Shaniya tetap bersyukur dalam hati.
Tiba - tiba saja ponselnya berdering menampilkan nama suaminya. Shaniya segera mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum."
"Siapa?" tanya Rina dengan suara berbisik.
"Suami gue," cicit Shaniya pelan. "Waalaikumsalam Mas, kenapa?"
"Kamu nanti pulang jam berapa?"
Shaniya melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Pukul 3 sore, dan sampai saat ini ia masih ada di sebuah tempat kopi yang sangat terkenal karena harganya yang mahal.
"Sekarang juga mau pulang."
"Kamu di kampus? Mas jemput ya?"
"Eh, ngapain? Aku gak di kampus, lagi nongkrong sama Rina."
"Shareloc dimana kamu sekarang? Mas jemput, habis itu kita jalan."
Shaniya menghela napasnya pelan. Ia malas berdebat, akhirnya ia menuruti perkataan suaminya itu. "Udah Mas, emang mau kemana sih?" tanya Shaniya penasaran.
"Ada aja, biar kejutan, kamu tunggu di sana, 15 menit lagi Mas sampai, jangan kemana - mana, Ya!"
"Iya Mas, iya, aku tunggu di sini!"
Akhirnya sambungan telepon dimatikan. Shaniya langsung menyenderkan tubuhnya di sofa, memikirkan apa yang akan suaminya lakukan membuat senyuman di wajahnya sedikit terbentuk.
"Lo tau gak sih, semalem laki lo ke kosan gue," ucap Rina yang membuat Shaniya langsung tegak dan menatap tajam sahabatnya itu. "Anjir, kaget gue! Biasa aja kali."
"Cepet kasih tau gue! Ngapain Mas Adhi ke kosan lo semalem?!"
"Tenang, bukan minta buat kelonan kok." Rina terkekeh pelan. Shaniya langsung menjitak kepala sahabatnya itu.
"Anjir lo!"
"Dia nanyain lo, Ya, tentang kita yang nguping dia waktu acara nikahan lo itu, dia minta gue buat jelasin semuanya, yaudah gue jelasin deh semunya, dan gue bilang kalau lo itu cuma salah paham aja." Rina menyesap minuman yang sudah ia pesan.
"Terus gimana lagi?" tanya Shaniya penasaran.
"Dia bilang juga dia harus ngelakuin sesuatu biar lo percaya lagi sama dia."
"Lo tau dia mau ngelakuin apa?" Shaniya semakin penasaran.
"Ya gue gak taulah! Itu urusan dia sama lo, ngapain gue ngikut - ngikut, lagian lo berdua tuh udah halal, mau ngelakuin apa aja boleh, gak usah mikirin dosa lagi."
Shaniya berdecak kesal. "Kenapa lo mikirnya gitu terus sih Rin? Lo mau cepet kawin atau gimana?"
"Eh iya, gimana rasanya nikah? Seru banget ya? Cerita dikit apa Ya, cariin gue laki juga, gue pengen ikut kawin juga kan."
"Ya Allah! Stress hamba punya temen macam dia ini," ucap Shaniya sambil mengusap wajahnya.
Tiba - tiba saja ia merasakan ada dua telapak tangan yang menutupi kedua matanya. Shaniya meraba - raba tangan kekar itu. Lantas ia tersenyum kecil mengetahui bahwa itu adalah suaminya.
"Mas Adhi, jangan terlalu kenceng gitu, aku baru aja pasang eyelash extension."
"Mas Adhi? Siapa?"
Shaniya lantas menoleh ke belakang. Dan ia terkejut mendapati pria itu bukanlah suaminya.
"Raka!!" heboh Rina seraya berdiri dan langsung memeluk pria itu.
Shaniya merasa canggung, sudah lama ia tidak melihat wajah lelaki itu. Dan kini lelaki itu tiba - tiba muncul di hadapannya.
"Maaf Ya, gue yang ngasih tau Raka kalau kita ada di sini."
Shaniya berdecak kesal. Sudah pasti, karena Raka cukup dekat dengan Rina yang notabenenya adalah sepupunya sendiri.
"Shaniya!" panggil seseorang dengan suara baritonnya. Shaniya menoleh dan mendapati suaminya yang kini berjalan mendekati mereka.
Shaniya dengan cepat memasukkan laptopnya ke dalam tas. Tidak lupa powerbank dan ponsel yang selalu ia bawa - bawa ikut ia masukkan ke dalamnya. Lalu gadis itu berdiri, menyampirkan tasnya di bahu kanan.
Adhi kini berada di samping gadisnya. Tangan kanannya langsung melingkar sempurna di pinggang gadis itu, mengecup sebentar pelipis Shaniya. Adhi dapat merasakan kegugupan istrinya itu.
Semua itu tak lepas dari seorang lelaki muda yang melihatnya.
"Gue balik duluan, dah."
Shaniya segera menarik tangan suaminya untuk pergi dari sana. Ketika sampai di depan mobil Adhi, Shaniya langsung masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Adhi.
"Kenapa cepet - cepet sih Ya? Mas belum pamit loh tadi sama teman - teman kamu."
"Ngapain? Kan udah aku yang bilang, Mas jangan ganjen deh. Ngapain malem - malem ke kosan Rina?!"
"Cemburu?"
"Apaan?! Nggak!"
Adhi menyunggingkan sedikit senyumannya, pria itu dengan cepat mengendarai mobilnya.
Di sisi lain, Raka menatap serius wajah sepupunya. "Dia siapa?"
"Suami Yaya."
"Yaya udah nikah?"
Rina mengangguk. Raka tersenyum kecut.
"Gak ada harapan lagi dong buat gue ya?"
Rina pun merasa sedih lantas mengusap punggung sepupunya itu. "Inget, lo itu cuma mantan dia waktu SMA, jadi jangan berharap lebih, masa lalu biarlah menjadi kenangan, gak usah lo ungkit - ungkit lagi, apalagi sekarang Yaya udah punya suami. Lo harus jaga sikap sama dia."
•••••
Gadis itu menguap lebar, tangannya meraba - raba tempat yang ia tiduri. Ia terbangun ketika menyadari bahwa kini, ia bukanlah di dalam kamarnya. Ruangan ini terasa sangat asing. Shaniya meneguk salivanya, terakhir kali ia ingat bahwa dirinya berada dalam mobil suaminya. Kenapa tiba - tiba ia ada di sini?
Belum sempat menemukan jawabannya, Shaniya melihat suaminya datang dengan kemeja yang sudah lusuh. Rambutnya pun acak - acakan, namun itu tidak membuat ketampanan pria itu luntur. Namun di mata Shaniya malah terlihat... errrr seksi.
Gadis itu merasakan goyangan dari kasur. Ia melihat beberapa furnitur di dalamnya ikut bergerak, dengan cepat gadis itu bangkit mendekati suaminya. "Mas Adhi! Gempa! Ya Allah! Gempa! Allahu Akbar, ayo Mas keluar!"
Shaniya menarik tangan Adhi keluar, seketika itu pula ia merasa speechless. Ia bukan berada di daratan. Ia di tengah laut!
Shaniya menatap sekeliling yang tampak pemandangan bagus. Matahari mulai tenggelam, langit berwarna jingga. Gadis itu menatap takjub.
"Kita... kenapa di sini?" ucap Shaniya pelan.
Tiba - tiba saja Adhi memeluknya dari belakang. Tangan kekar itu melingkar di pinggang Shaniya. "Aku mau meluruskan semua masalah kita."
"Maksudnya?" tanya Shaniya bingung.
"Sebentar."
Adhi membuka ponselnya tepat di hadapan Shaniya, sehingga gadis itu dapat melihat apa yang ia lakukan. Lalu Adhi menemukan kontak Ganindra, dengan cepat Adhi melakukan panggilan video dengan sahabatnya itu. Tak butuh waktu lama akhirnya panggilan itu diangkat diangkat, tak lupa Adhi menyalakan speakernya.
"Halo, assalamualaikum."
Tampaklah seorang pria di layar ponsel yang sedang duduk di balkon rumah.
"Waalaikumusalam, Ndra."
"Kamu mau pamer ke saya Dhi? Bikin orang iri aja, itu istri kamu? MasyaAllah, cantik. Bener apa kata kamu. Halo istrinya Adhi, saya Ganindra, teman kuliahnya dulu."
Shaniya menatap Adhi, meminta persetujuan suaminya. Adhi tersenyum manis sambil mengangguk. "Eh, iya, halo," jawab Shaniya seadanya. Adhi terkekeh pelan.
"Istri saya gugup Ndra. Belum kenal banget sama kamu, masih di Australia?" basa - basi Adhi sebelum memulai percakapan yang serius.
"Iya. Masih banyak banget kerjaan di sini. Oh iya, Adhi sudah memberitahu saya kalau istrinya itu salah paham sama percakapan kita waktu di telepon. Dia bilang istri cantiknya marah karena menganggap cintanya itu palsu. Kamu salah besar, Adhi itu sangat cinta sama kamu, kalau gak percaya saya akan menceritakan semua percakapan kita waktu itu, mau mendengarkan?"
Shaniya menatap Adhi tidak mengerti, lalu ia kembali menatap ponsel Adhi. "Coba ceritakan semuanya."
Lalu mengalirlah cerita dari mulut Ganindra. Shaniya mendengarkannya, hingga terakhir Ganindra mengucapkan bahwa Adhi benar - benar mencintainya, membuat gadis itu merasa bersalah. Sangat bersalah.
"Semua yang saya katakan benar adanya, suamimu itu tidak suka dengan kebohongan, saya harap dengan adanya saya untuk menceritakan semua itu, membuat kalian berdua tidak ada kesalahpahaman lagi."
Shaniya langsung menjauhi Adhi, gadis itu duduk di sofa panjang di luar kapal. Matanya menatap lurus ke arah lautan.
"Ndra, makasih banget, kamu mau tolongin saya untuk menyelesaikan semua masalah ini."
"Ya ya... walaupun dengan semua ini cukup menyita waktu, tapi tak apa, sudah tidak ada lagi kan? Saya masih banyak kerjaan Dhi, saya tutup ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Dengan cepat Adhi mematikan videocallnya, menyimpan ponselnya di dalam saku celananya, pria itu berjalan mendekati istrinya.
"Kamu kenapa? Maafin Mas, kalau Mas punya salah sama kamu," ucap Adhi seraya berlutut di hadapan gadisnya. Tangannya menggenggam erat tangan kecil istrinya.
"Aku malu..." lirih gadis itu sambil menbuang muka dari suaminya. "Aku suudzon sama Mas." Shaniya terisak pelan.
"Nggak, gakpapa, sayang." Adhi duduk di samping Shaniya, memeluk gadis itu dengan erat.
"Aku melalaikan tugasku sebagai istri hanya karena pikiran jelekku, aku minta maaf Mas, aku belum bisa jadi istri yang baik, aku salah."
"Iya, gakpapa, udah jangan nangis lagi," ucap Adhi seraya melonggarkan pelukannya, ditatapnya kedua bola mata jernih Shaniya. "Mas melakukan semua ini karena Mas gak mau kesalahpahaman itu semakin menjadi."
"Mas menyiapkan ini semua?" tanya Shaniya pelan. Adhi mengangguk. "Tapi mahal Mas, menyewa kapal itu gak murah, terus sekarang kita mau kemana?"
"Apapun akan aku lakukan buat kamu." Adhi menangkup wajah Shaniya dengan tangannya.
Shaniya tersenyum manis. Manis sekali. Gadis itu melingkarkan tangannya di leher suaminya, tanpa aba - aba, bibir itu mengecup pipi kanan dan kiri suaminya. "Makasih Mas."
Adhi cemberut. "Yang ini nggak?" ucapnya sambil menunjuk bibirnya sendiri. Shaniya tersipu malu, diciumnya dengan cepat bibir suaminya itu.
Namun Adhi malah menahan tengkuknya, dan memperlama ciumannya. Sampai mereka merasa kehabisan napas, akhirnya mereka melepaskannya. Adhi langsung menggendong Shaniya.
"Kita lanjut di dalam."