"Assalamualaikum," ucap Shaniya sambil melangkah masuk ke dalam rumah Adhi, diikuti oleh pria itu di belakangnya.
"Abi!" panggil Shaniya seraya berlari mendekati bocah itu yang tengah bermain mobil bersama Tantenya.
"Loh? Gak honeymoon kalian?" tanya Adisti menatap kedua pengantin baru tersebut. Adhi menggeleng sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Shaniya sakit," jawab Adhi pelan.
"Mbak sakit apa?" ucap Adisti dengan nada khawatirnya.
Shaniya yang tengah menggendong Abi pun salah tingkah sendiri. "Oh itu... tadi perut aku melilit, sepertinya maag ku kambuh."
"Yaudah Mbak istirahat di kamar aja, ayo aku antar ke kamar Mas Adhi," Adisti berkata sambil mengambil Abi dari gendongan kakak iparnya itu, lalu memberikannya kepada Adhi.
"Koper aku?"
"Kopernya biar Bibik aja yang bawa." Adhi berucap sembari menciumi pipi gembul Abi yang sangat menggemaskan.
Shaniya mengangguk, lalu ia mengikuti Adisti dari belakang.
Lalu sampailah ia di kamar Adhi, ketika Adisti membukanya, Shaniya terperangah kaget, di sana ada foto dirinya berukuran besar. Gadis itu berjalan ke dalam, mendekati foto dirinya itu, menyentuhnya sebentar sebelum ia menoleh menatap Adisti yang tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Sejak kapan ada fotoku?" tanya Shaniya bingung.
"Tiga hari sebelum menikah, Mas Adhi bilang buat ngobatin rindu dia, karena kalian gak bisa ketemu dan harus lewat ponsel untuk berhubungan."
Shaniya tersenyum kecil mendengarnya. Terdengar sedikit romantis.
"Ehm, Dis, ada yang mau aku tanyakan, kita bicara sebentar bisa? Oh iya, Ibu kemana ngomong - ngomong?" ucap Shaniya.
"Ibu ada pengajian di masjid, Mbak kalau mau tanya tentang Mas Adhi, sini aku bantu jawab."
Shaniya mengangguk, lalu ia membawa Adisti duduk di sofa kamar itu. Beberapa detik Shaniya terdiam, banyak sekali pertanyaan dibenaknya kini.
"Aku pikir masalah dudanya Mas Adhi tidak penting bagiku, tapi ... tapi aku penasaran Dis, karena aku belum bertanya apa penyebab dia bercerai dengan istrinya? Aku takut dia masih ada rasa dengan mantannya itu, bagaimanapun juga, mereka sudah punya anak, dan bodohnya lagi ... aku malah menikah dengan Mas Adhi," ucap Shaniya sambil terkekeh pelan.
Adisti tersenyum kecil, "Aku yakin, jodohnya Mas Adhi itu kamu, Mbak. Bukan mantan istrihya. Itu sudah takdir yang membuat kalian menjadi sepasang suami istri. Dan untuk alasan bercerainya Mas Adhi dengan Mbak Talia itu karena ...". Adisti meneguk salivanya sebentar. "Karena Mbak Talia berselingkuh di belakang Mas Adhi, jadi tidak mungkin Mas Adhi masih memiliki rasa terhadap mantannya itu, karena setiap aku melihat Mas Adhi menatap Mbak Talia, yang ada dipancaran matanya hanyalah pancaran kebencian."
Shaniya menghela napas sebentar. Siapa Talia itu? Kenapa wanita itu tega berselingkuh dengan pria lain sedangkan Adhi sudah memiliki semuanya, harta dan ketampanan ada pada diri pria itu.
"Ada yang mau Mbak tanya lagi?" ucap Adisti sambil menyentuh tangan kanan Shaniya yang berada di atas paha.
"Apa ... apa Mas Adhi sudah benar - benar mencintaiku?" tanya Shaniya yang membuat Adisti tergelak. Gadis itu terkekeh pelan.
"Kok Mbak tanya sama aku? Tanyalah sama suamimu itu, kan dia yang ngerasain. Tapi ya, kalau menurut aku, Mas Adhi sudah jatuh cinta sama Mbak, buktinya foto Mbak terpasang begitu besar di sana."
Shaniya tersenyum kecil. Tapi itu semua tidak cukup untuk membuktikan cintanya padaku Dis. Batin Shaniya.
Shaniya menatap semua dekorasi kamar yang lebih dominan putih dan hitam. Di tengah - tengahnya terdapat ranjang besar dan di depan ranjang ada sebuah sofa—yang tengah ia duduki—dan di depan sofa ada tv berukuran 43inch. Di kedua samping ranjang ada nakas. Dan sebuah meja kerja beserta alat - alatnya di tempatkan di sudut ruangan.
Gadis itu juga melihat sebuah pintu yang ia perkirakan adalah toilet dan walk in closet. Dan sebuah pintu geser transparan yang menghubungkan kamar dengan balkon.
"Oh iya Mbak, aku lagi masak di bawah, Mbak tidur aja ya," ucap Adisti seraya bangkit dari sofa.
"Aku mau bantu juga."
"Hei! Gak boleh! Mbak harus istirahat, supaya cepat sembuh dan bisa honeymoon sama Mas Adhi deh," ucap Adisti sambil tersenyum menggoda. Shaniya tersenyum kecut. "Yaudah, aku pergi dulu ya, Mbak!"
Gadis berusia 21 tahun itu berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Shaniya sendiri. Shaniya memilih untuk beristirahat, ia membuka pashminanya dan langsung beranjak menuju ranjang untuk berbaring.
Tiga kata ketika ia sudah berbaring di ranjang itu. Harumnya khas Adhi. Shaniya suka sekali harum tubuh Adhi, entah kenapa tapi ia merasa tenang saja.
Beberapa menit ia tidak menemukan posisi yang pas untuk tidur. Akhirnya ia pasrah, gadis itu lebih memilih bermain ponsel, membuka media sosial miliknya seraya menghilangkan bosan yang melanda.
Pintu terasa ada yang membuka. Shaniya menoleh dan benar saja, ia melihat suaminya yang masuk ke dalam kamar dengan senyuman manisnya.
Adhi membuka jaket kulitnya, menyisakan jeans hitam dan kaos polos putih di tubuhnya. Lalu ia melepas jam tangannya dan menaruhnya di nakas. Pria itu mendekati Shaniya, dan berbaring di sebelah gadis itu.
Jantung Shaniya bergemuruh. Ia merasa gugup dan gelisah. Gadis itu merasakan tangan kekar Adhi yang memeluknya dari belakang.
"Rambut kamu wangi banget," ucap Adhi sambil mencium rambut hitam legam Shaniya. Dan ia semakin merasakan bahwa ciuman itu mengarah lehernya.
Shaniya sedikit menjauhkan kepalanya karena geli, tapi tetap saja Adhi mendekatinya. Hingga Shaniya merasakan Adhi yang semakin menuntut, saat itu pula Shaniya menyentak tangan Adhi yang memeluknya dan berdiri dari ranjang.
Adhi terperangah. Matanya menilisik Shaniya seakan meminta penjelasan.
"Kenapa?" tanya Adhi bingung. "Coba sini duduk, jelasin sama Mas kamu kenapa?" ucap Adhi sambil menarik tangan Shaniya agar gadis itu duduk di tepi ranjang. Shaniya menurut.
Beberapa detik, Shaniya hanya terdiam. Membuat Adhi kesal sendiri, sebenarnya ada apa?
"Kamu kenapa?" tanya Adhi lagi.
Shaniya menatap datar pintu kamar mandi. Lalu gadis itu menghela napasnya pelan sebelum berkata, "Aku gak mau melakukannya tanpa cinta."
Adhi mengerutkan dahinya bingung. "Kamu gak cinta sama Mas?" lirihnya.
"Bukan aku. Tapi Mas Adhi yang gak cinta sama aku."
Adhi terkejut. Langsung saja ia duduk di hadapan Shaniya. Menyentuh dagu gadis itu agar wajahnya menatap dirinya.
"Jangan kekanakan Shaniya, kapan aku mengatakannya? Kamu tau, sudah dari awal aku mengatakan kalau aku mencintaimu."
Shaniya menelan salivanya. Ia menepis tangan Adhi yang menyentuh dagunya. Lalu mengalihkan pandangannya supaya ia tidak melihat wajah suaminya itu.
"Ya, Mas memang tidak mengatakannya langsung, tapi aku tau, ketika pernikahan, Mas menerima telepon dari kawan Mas dan mengatakan bahwa menikahiku hanya karena ingin melupakan Mbak Talia, begitu? Apa Mas pikir aku ini hanya pelampiasan?!" Ucap Shaniya dengan nada kerasnya. Rasanya lega ketika ia bisa meluapkan itu langsung kepada orang yang dituju.
Adhi berusaha mengingat. Siapa kawannya itu? Oh, ia tahu. Pasti Ganindra yang dimaksud istirnya.
"Kamu salah dengar, sayang." Adhi menyentuh tangan Shaniya dan mengelusnya pelan.
"Aku gak mungkin salah dengar, tanyakan saja pada Rina. Karena dia bersamaku saat itu." Shaniya menyentak tangan Adhi, lalu gadis itu berdiri.
Adhi masih menatap istrinya. Kini, Shaniya memakai pashminanya lagi, tapi hanya disampirkan di kedua bahunya tanpa peniti. Pria itu melihat Shaniya yang berjalan menuju pintu.
"Kamu mau kemana Ya?" tanya Adhi yang tidak dibalas oleh Shaniya. Gadis itu tetap pergi dan menutup pintu begitu keras.
Adhi termenung. Lalu meremas rambutnya sendiri merasa pening atas kejadian ini. Lalu pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang. Menatap langit - langit kamar.
Ia tau Shaniya mempunyai sifat yang keras kepala dan itu merupakan pelajaran buatnya untuk bersikap sabar menghadapi istrinya itu.
Adhi bangkit dari ranjang. Memasang kembali jam tangannya dan kembali memakai jaket kulitnya, pria itu lantas mengambil kunci mobil yang ada di saku jaketnya.
Dia akan mencari tahu. Ya, dia tidak ingin masalah dirinya dengan Shaniya berlarut semakin lama.
Dia akan menemui sahabat Shaniya. Rina. Hanya gadis itu yang bisa membantunya sekarang.